Contoh Tulisan “Feature”

Rumah Dunia:
Membangun Banten Lewat Budaya Membaca

Mimpi untuk memiliki perpustakaan pribadi yang dapat digunakan oleh masyarakat umum, mendorong penulis Gola Gong dan istrinya Tias Tatanka, mendirikan pustakaloka Rumah Dunia yang kemudian berkembang menjadi Rumah Dunia, pada tanggal 1 Maret 2002. Saat ini Rumah Dunia yang berlokasi di kediaman Gola Gong di Komplek Hegar Manah no. 40, Ciloang, Serang, Banten, telah berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan di Propinsi Banten.

Terdapat tiga perpustakaan yang memuat belasan ribu judul buku di lokasi Rumah Dunia, yaitu perpustakaan Lumbung Banten, perpustakaan anak dan remaja serta perpustakaan dewasa.  Selain itu juga tersedia perpustakaan keliling yaitu perpustakaan mobil keliling dan perpustakaan motor keliling  yang siap mengunjungi masyarakat di kantong-kantong penduduk di wilayah serang banten. Saat ini di tanah seluas 1000 m2 yang dibeli Gola gong dari royalty menulisnya, juga terdapat laboratorium computer plus jaringan internet (hotspot), ruang kesekretariatan, ruang tidur relawan Rumah Dunia,  serta panggung utama serba guna. Kegiatan yang dilaksanakan juga sudah semakin berkembang. Tidak hanya kegiatan membaca, tetapi juga lukis, diskusi sastra, teater, kelas menulis, musik,  puisi, marawis, Banten Book Fair, kursus bahasa Inggris dan komputer serta program beasiswa pendidikan.

Berawal dari Keprihatinan

Propinsi Banten dulu dikenal sebagai daerah yang kental dengan tradisi jawara, magic, teluh dan sejenisnya. Sekitar tahun 1960-1980, kota Serang Banten masih belum terlihat seperti kota, tidak ada took buku, surat kabar local, perpustakaan, museum ataupun pusat kesenian dan kebudayaan lainnya. Di samping itu, budaya membaca masyarakat juga masih sangat rendah. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah di kota yang hanya berjarak 60 km dari Jakarta ini. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi Gola Gong dan keluarganya.

“Kami merasa sangat sedih melihat anak-anak yang datang bermain ke Rumah dunia ternyata masih banyak di antara mereka yang belum bisa membaca.”ujar Tias, mengenang saat-saat awal mereka mendirikan rumah dunia. “ Sehari-hari mereka menggembala ternak, main di sungai tapi tidak bersekolah.”

Tidak gampang memang untuk menumbuhkan ketertarikan mereka untuk belajar, membaca dan bersekolah. Tias Tatangka akhirnya berinisiatif membacakan dongeng secara rutin buat anak-anak yang datang ke Rumah Dunia. Kunjungan mereka yang mulai intens  karena ketertarikan dengan dongang dan bacaan, mendorong tumbuhnya minat baca pada diri anak-anak tersebut. Minat bersekolah juga semakin besar. Untuk membantu biaya  sekolah anak-anak tersebut, Rumah Dunia kemudian meluncurkan program beasiswa.

“Walaupun program beasiswa ini belum sempurna, namun sampai saat ini telah ratusan jumlah anak yang menerima beasiswa dari Rumah Dunia”.

Mengubah Stigma Negatif

“Saya melihat selama ini Banten sulit berkembang dibandingkan dengan propinsi-propinsi tetangganya,” ungkap Gola Gong. “Saya mencoba menganalisa penyebabnya. Saya menyimpulkan kondisi ini disebabkan banyaknya stigma-stigma negatif yang masih melekat dengan keseharian masyarakat Banten. Budaya masyarakat masih dekat otot bukan otak dalam menyelesaikan masalah,  cenderung dengan jalan pintas. Teluh, tenung, santet masih  sangat mendomonasi dalam masyarakat. Budaya ini menghambat kemajuan. Untuk tujuan itulah Rumah Dunia didirikan,” tambahnya.

Pemberian nama Rumah Dunia memiliki makna filosofis, yaitu memindahkan dunia ke rumah lewat buku, sehingga kemajuan daerah lain atau bahkan belahan lain dari bumi dapat diketahui. Hal ini dapat dijadikan pembanding untuk memajukan daerah Banten khususnya. Memajukan dan dan membentuk generasi baru adalah visi untuk mempercepat kemajuan di Banten lewat gerakan kebudayaan. Paradigma berfikir bagaimana menyelesaikan persoalan dengan otot, lewat budaya literasi, pelan-pelan dirubah dengan cara otak. Karena bagaimanapun kesenian dan kebudayaan mempunyai peran yang signifikan untuk memajukan pendidikan.

Rumah Dunia Milik Semua

Rumah Dunia dibangun dengan konsep dekat dengan alam sekitarnya, baik manusianya maupun lingkungan alamnya. Tidak ada kesan berjarak yang tercipta antara lokasi rumah dunia dengan sekelilingnya. Bangunannya sederhana dan berkesan sangat terbuka.. Bangunan yang sebagian dindingnya dari bambu dengan pagar bambu disekelilingnya sangat jauh dari kesan angkuh.  Kesan ini sangat membantu untuk menarik orang memasukinya. Pohon-pohon relatif besar yang ada di areal tersebut sebelum bangunan rumah dunia didirikan, tetap dibiarkan berdiri. Kesan sejuk dan alami sangat terasa saat kita memasuki lokasinya.

Rumah Dunia juga milik anak-anak. Mereka sangat senang bermain-main di halaman rumah dunia setelah mengikuti kegiatan-kegiatan yang menarik yang dikemas dalam bentuk wisata dongeng, wisata gambar, wisata lakon dan banyak wisata lainnya, atau bahkan datang hanya untuk sekedar bermain di halaman rumah dunia. Mereka berkejaran, berlomba di perosotan, berteriak di ayunan, meluapkan kegembiraan.

Rumah Dunia juga menjadi obyek wisata budaya alternatif. Banyak masyarakat yang berkunjung, tidak hanya dari daerah Banten dan sekitarnya, tetapi juga dari banyak daerah di Indonesia . Terutama saat diadakannya even-even yang berskala nasional, seperti “Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”.

Kelas Menulis Rumah Dunia

Setiap 3 bulan sekali di Rumah Dunia dibuka “Kelas Menulis”, yang sudah berlangsung sejak Januari 2003. Agustus 2009 mendatang akan diselenggarakan Kelas Menulis angkatan ke 13. Sampai saat ini alumni kelas menulis sudah mencapai 500 orang.

Dengan latar belakang Gola Gong sebagai penulis kaliber nasional dan puluhan judul buku yang telah ditulis dan diterbitkannya, kelas menulis ini menjadi sangat menarik bagi mereka yang berminat menjadi penulis. Dalam perjalanannya, kelas menulis ini telah mendatangkan penulis-penulis terkenal lainnya sebagai pemateri yang memberikan stimulan lewat proses kreatifnya , seperti Helvi Tiana Rosa, Arswendo Atmowiloto, Asma Nadia, Hilman Lupus, Boim Lebon, Pipiet senja, Ahmadun Yosi Herfanda dan masih banyak lagi penulis-penulis terkenal lainnya. Selain itu Rumah Dunia juga mendatangkan penerbit, seperti DAR! Mizan, Gema Insani Press, Gramedia Pustaka Utama, Akoer, Ufuk, Senayan Abadi, Cakrawala, Gagas Media dan Zikrul Hakim.

Pada awalnya kelas menulis ini hanya diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa agar mereka mandiri setelah lulus dari pendidikannya. Tapi  sejak tahun 2005, guru, karyawan, bahkan pedagangpun ikut serta.

“Saya tidak tega melarang mereka yang ingin belajar menulis.” Ungkap Gola Gong.”Di kelas menulis ini saya memberikan wawasan, bahwa menulis (wartawan atau pengarang) bisa dijadikan profesi terhormat, layak dan cerah,” lanjut Gola Gong.

Gola Gong sendiri memang memilih profesi menulis untuk menghidupi keluarganya dan bahkan berbuat banyak untuk kemajuan masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi kondisi diskriminasi akibat cacat yang dialaminya. Tangan kirinya diamputasi saat berumur 10 tahun akibat jatuh dari pohon. Hal mengakibatkan cita-citanya untuk menjadi guru tidak bisa direalisasikannya.

Sampai saat ini sudah banyak prestasi yang dihasilkan oleh alumni kelas menulis Rumah Dunia. Selain tulisan-tulisan mereka yang dimuat di surat kabar lokal, seperti Radar Banten dan Fajar Banten dan juga media nasional, banyak prestasi telah mereka raih seperti juara lomba menulis Unicef Award, Ikapi Book Fair, dan lain-lain. Para alumni kelas menulis ini juga telah menerbitkan banyak buku, baik sendiri ataupun dalam bentuk antalogi.

Operasional Rumah Dunia

Pada awalnya untuk biaya operasional Rumah Dunia benar-benar bersumber dari Gola Gong dan keluarga besarnya. Bahkan untuk membeli tanah seluas 1000m2 yang saat ini digunakan Rumah Dunia, merupakan hasil royalty menulis skenario sinetron “PadaMu Kubersimpuh”. Namun saat ini Rumah Dunia sudah banyak mendapatkan bantuan  seperti buku-buku dari 1001 buku, Depdiknas, kedutaan besar Inggris dan lain-lain.

Untuk perpustakaan keliling Rumah Dunia mendapatkan bantuan kendaraan mobil dan motor dari Yayasan Nurani Dunia. Untuk biaya operasional ada beberapa relawan dan donatur yang tidak mengikat. Selain itu royalty buku-buku yang diterbitkan oleh kelas menulis Rumah Dunia sebagiannya disisihkan untuk biaya operasional Rumah Dunia.

Gola Gong menegaskan bahwa Rumah Dunia dibangun berdasarkan cinta para relawannya, dari orang-orang di sekitarnya dan dari rakyat yang terpinggirkan.

“Kami bekerja pada cinta itu sendiri. Kami memposisikan diri sebagai pelayan untuk rakyat. Bukan menatasnamakan siapapun, kecuali pada sebuah generasi baru yang kritis, cerdas yang akan lahir,lewat kesenian, literasi dan kepenulisan untuk membantu mempercepat kemajuan masyarakat Banten.”

(Irna Syahrial)

*NB. Tulisan ini dimuat di Majalah Ummi Edisi Oktober 2010 dan Juara ke-3 lomba menulis rubrik Feature “ufuk Dalam” Majalah Ummi Agustus 2009

 

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: