InspirAction! (just for you who want to be a writer)_1

Ini tulisan boleh nyomot dari majalah Annida online. Udah lama banget ambil di annida-nya (jadi kemungkinan besar tulisan ini juga udah ga ada disono), trus ngendep di lepi. Besok-besok gue sendiri yang bakal nulis tips-tips begini. #keselceritanya. Selaw, gue udah nyiapain stock tulisan bikinan gue sendiri. Huh

Soalnya, jujur nih, tulisan ini kereeeeeeeeeen banget banget. Big thanks for mas-mas penulisnya 😀

Semua tulisannya ga ada yang aku edit. Titik komanya, ampe becandaannya yang –ngng..garing- *bisik-bisik didepan TOA*, semua pure copas. Haha. Palingan cuma tata letak (justify, tulisannya dimiringin, ada yang dibold, gitu-gitu aja). Eh, trus gambarnya yang pertama nongol itu juga ga sesuai sama yang asli. Karena copas ke word, jadi ga bisa mindahin gambarnya. Tadinya udah dicopas kesini bisa, ternyata ga muncul. #apaseh! ribet. Ya pokoknya gambarnya aku ambil dari file sendiri hasil googling. Gitu.

Haaah, sama aja ya diedit juga ujungnya. Yaudahlah ya, asal isinya ga diganti.

Sebenernya juga, pengen aku tambahin visualisasi yang agak banyak, biar ga monoton. Sekaligus mewakili makna dari apa yang dituliskan. Buat orang visual kan cocok tuh. Tapi ini ceritanya mataku juga udah disko. Mau bobok abis ngepost tulisan ini. Maaf yaaa ‘__’

Tulisan ini aku post buat menjawab pertanyaan temen-temenku ataupun pembaca yang pada galau nyari tips nulis, sok mangga dibaca ya 😀

Have a nice reading! ^^

***

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Penulis: Amrul Ihdan Nizar

Konon, masa-masa Arab jahiliyah dahulu telah merebak budaya jahiliyah. Yah, bagaimana tidak disebut jahiliyah, namanya juga zaman jahiliyah. Hehehe, ada-ada saja. Maksudnya, selain pada zaman itu masyarakat memang “hobi” menyembah bongkahan-bongkahan berhala, “gila” mengubur bayi-bayi perempuan mereka serta “gandrung” minum minuman keras dan memainkan wanita, sampai pula hal yang remeh-temeh dengan menganggap bahwa menulis merupakan aktivitas yang mampu merendahkan derajat dan wibawa manusia. Bayangkan saja, kurang lebih mitos umum pada waktu itu, orang yang menulis diyakini punya otak dengkul alias pikun, lalu dicap goblok. Karenanya, mau tidak mau mereka kebanyakan mengandalkan hafalan-hafalan.

Namun barangkali wajar, sebab umumnya masyarakat Arab –khususnya pada masa itu- memang memiliki daya ingat yang canggih. Terbukti ketika awal-awal Islam saja misalnya, para Sahabat dengan sangat mudah menghafal apapun yang disampaikan oleh Rasulullah, mulai dari Al-Qur’an hingga Hadits-hadits beliau saw..

Baiklah, menghafal memang akan lebih tampak intelektual. Terkesan lebih mengesankan daripada dengan membuat catatan-catatan. Namun, ada namunnya. Seperti misalnya, katakanlah para penghafal ilmu pengetahuan sedang diundang menghadiri sebuah konferensi yang kebetulan diadakan di stadion Old Trafford. Mendadak, arak-arakan supporter Hooligan yang sedang merayakan pesta kemenangan timnas Inggris atas lawan beratnya, PSSI, melempar-lemparkan bom atom di sekitar tribun tamu undangan konferensi. Blar! Tak pelak bergudang-gudang ilmu yang tersimpan dalam otak menjadi musnah dan punah seiring dengan tewasnya para si empunya.

Hal ini pula yang menjadi sejarah bagaimana Umar bin Khaththab r.a merasa risau karena banyaknya kaum muslimin yang hafal Al-Qur’an, gugur di medan pertempuran. Yakni ketika terjadi di masa Khalifah Abu Bakar r.a pada perang Ridda. Karena dilanda kekhawatiran itulah, Umar bin Khaththab lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang tersebar di antara para Sahabat. Zaid bin Tsabit r.a yang ditunjuk sebagai koordinator pelaksana tugas tersebut, setelah beliau merampungkan menyusun Al-Qur’an dalam satu mushaf, kemudian hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpannya hingga beliau wafat, sebelum kemudian mushaf tersebut berpindah tangan kepada Umar bin Kaththab yang menjabat sebagai Khalifah penerusnya. Selanjutnya, mushaf dipegang oleh anaknya, Hafsah, yang juga istri Nabi Muhammad saw., sebelum akhirnya Al-Qur’an distandarkan penulisannya dalam mushaf Utsmani.

Demikian secuplik sejarah sebagai pengantar sekaligus penekanan bahwa menulis itu betul-betul perlu! Diperlukan untuk mengikat ilmu, sebagaimana ungkapan Ali bin Abi Thalib r.a, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Lha, Mas, masalahnya saya merasa nggak punya ilmu, lalu apanya yang diikat? Hmm, ikat apa saja, asal jangan mengikat leher kamu. Itu mah bunuh diri namanya! Hahaha.

Jadi begini saudara-saudara, karena tulisan ini dibuat eksklusif bagi siapapun yang menyadari akan wajib dan pentingnya dakwah, maka saya hanya akan melontarkan satu jawaban saja: Jangan mati suri! Sebab dengan modal kesadaran (baca: hidayah) justru merupakan tonggak, merupakan ‘batu lompatan’ untuk menggapai ilmu yang seluas samudera.

Memiliki imajinasi saja tidaklah cukup. Anda harus dapat benar-benar masuk menembus ke dalamnya, merasai seluruh isinya.” [Stephen King]

Dari mana seharusnya memulai menulis?
Saya sarankan, menulislah mulai dari paragraf pertama. Sebab jika dimulai dari paragraf terakhir, besar kemungkinan akan mengakibatkan otakmu juling. Hahaha, saya bercanda.

Biasanya setelah diprovokasi, seseorang mudah menggebu-gebu ingin memulai menumpahkan apapun yang ada di benaknya ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja, seringkali semangat tersebut kemudian mandeg gara-gara dihantui sebuah ‘pertanyaan setan’, “Bagaimana caranya? Saya kan belum menguasai teknis menulis?”

 “Saya pikir, hal terbaik menjadi seorang penulis adalah kita dapat mereka-reka segala sesuatu sekaligus mengatakan kebenaran pada saat yang sama.” [Kyoko Mori]

Maka solusi paling mujarab untuk mengatasi problem itu sebenarnya cukup simple. Adalah Gertrude Stein, penulis Amerika yang memelopori perkembangan sastra modernis ini, ketika ia diminta untuk memberikan petuah sakti kepada para penulis pemula, alih-alih ia memberikan teori-teori menulis yang njlimet dan ruwet, ia malah cukup merapal sebuah mantra: “Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis…”

Hahaha, kamu boleh terpingkal-pingkal membaca petuah gila itu. Tetapi memang benar adanya, sebab adakalanya untuk mengatasi sesuatu yang kita anggap momok, maka cukup dibutuhkan sikap ‘nekat’ untuk berhadapan dengan momok itu sendiri. Maka, tulis saja apapun yang bisa ditulis!

Tak perlu terpaku dengan membanding-bandingkan kualitas tulisanmu dengan karya-karya penulis yang sudah melejit namanya seperti karya-karya analisis politik-nya Samuel Huntington dan novel-novel Thriller-nya Dan Brown. Tak perlu berhasrat mencocok-cocokkan tulisan pertamamu dengan masterpiece-nya Habiburrahman El-Shirazi atau Andrea Hirata. Sebab, jawabannya sudah jelas: Pasti njomplang!

Well, jika kamu perfectionist, sok sempurna, ini akan menyulitkanmu dan seringkali ujung-ujungnya akan membawa putus asa. Karena sebetulnya, proses memulai menulis itu juga berarti mencoba memaafkan tulisan pertamamu yang, amit-amit amburadul dan membosankan.

Nih, saya kasih tahu nih: Penulis itu, seseorang yang ketika bayi ia belajar melangkah dan berbicara. Penulis itu adalah Ibnu Hajar Al-Atsqolani yang memahami bahwa tetes-demi-tetes air dapat melubangi batu cadas. Nah tetapi, jika kamu tetap ngotot menjadikan karya-karya penulis tersohor itu sebagai tolok ukur, baiklah. Hanya saja, cukup jadikan ia sebagai motivator atau ‘guru’, bukan dijadikan semacam ‘rival’.

Paling realistis bagi penulis pemula adalah seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo. Ia bersaran, jika seseorang ingin menjadi penulis, maka cukup mulai saja menulis, baru selanjutnya lanjutkan menulis, kemudian ulangi lagi menulis. Enak toh? Mantep toh? Tuangkan apa saja yang kita mau dan jangan sekali-kali memerhatikan terlebih dulu EYD serta segala macam tetek bengek aturan menulis. Itu saja intinya.

Nah, untuk memulainya, tulis hal-hal yang dekat dengan kita. Entah itu berupa perasaan yang sedang dialami, atau segala permasalahan yang sedang mencuat di sekitar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat catatan atau bahkan buku harian. Dengan demikian, kebiasaan seperti itu dapat berfungsi agar seseorang dapat melatih kepekaan dalam menggunakan pilihan kata yang dituliskan.

Terkadang, kata yang paling sederhana adalah yang paling indah, juga paling efektif.” [Robert Cormier]

Inspirasi dan eksplorasi ide menulis
Seringkali di sini letak biang keladinya. Seringkali saya mendapat keluhan tentang bagaimana caranya memunculkan ide menulis, sebab, ketika seseorang kehilangan inspirasi, biasanya berakibat pada berhentinya aktivitas menulis.

Maka hendaknya hal itu tidak dijadikan beban. Mencari inspirasi sebenarnya tak sesulit seperti yang kita bayangkan. Karenanya, kamu tak perlu melakukan ritual-ritual bid’ah untuk memunculkan inspirasi, tak perlu bertapa sembari menjalankan puasa-puasa sesat dan melurung sesaji. Sebab inspirasi dapat diperoleh dari apapun yang ada di sekitar kita.

Memunculkan inspirasi tidak seperti jelangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar, ia bisa diraih dengan cara diciptakan, bahkan dengan cara melihat hal-hal yang paling sederhana. Inspirasi bahkan dapat muncul di segala tempat seperti misalnya pegunungan, taman, hutan, bahkan juga…jamban!

Ada banyak hal yang dapat ditulis yang beberapa di antaranya adalah segala sesuatu yang menarik perhatian kita: hal-hal umum yang berkesan, sesuatu unik yang jarang ditemukan, sampai kemudian fenomena-fenomena masyarakat dan isu-isu politik yang sedang berkembang.

Tinggal sekarang masalahnya, seringkali ketika kita sudah mulai menuliskan ide yang ada di kepala, ternyata di tengah-tengah jalan mengalami deadlock, terkunci mati untuk mengembangkan. Dalam hal ini, Joan Didion membuat diagnosa, “Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena Anda terpaku padanya.” Sedangkan selebihnya, lanjutnya, “Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu.”

Termasuk satu hal yang jarang disadari adalah, sikap tergesa-gesa untuk mengedit naskah atau draft pertama sebelum beres ide tertuang seluruhnya. Sebab seringkali sesudah menyibukkan diri mengedit kalimat-kalimat sebelumnya, kemudian otak yang sebelumnya berjubel ide cemerlang mendadak buyar seperti kawanan rusa yang tiba-tiba mengendus keberadaan serigala.

Maka benarlah apa kata John Steinbeck. Ia berpetuah, “Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas.” Kemudian tak lupa ia mewanti-wanti dengan mengeluarkan ‘fatwa’ garis keras, “Jangan sekali-kali melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan!”

Mengapa seorang penulis ditekankan untuk menghindari pantangan mengedit sebelum naskah selesai? Sebab, dapat dipastikan akan membuat stamina menulis banyak terkuras di tengah jalan. Napas keburu ngos-ngosan sebelum mencapai garis finish, lalu membuyarkan ide yang sebelumnya ingin semua dikeluarkan. Maka bukan tidak mungkin, ia akan tewas di tengah jalan. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun…

That’s it! Menulislah seperti serigala buas, menulislah seperti kencang larinya copet, menulislah seperti pelaku illegal logging yang membabat kayu di hutan-hutan Kalimantan, atau kalau boleh saya sebut perumpamaan paling ekstrim, menulislah seperti larinya bencong-bencong yang terkena razia Satpol PP.

Dengan demikian, sesudah naskahmu tuntas, barulah review dan edit tulisanmu yang –masya Allah- kacau balau itu. Hahaha, don’t take it personal.

***

**Berikut ini akan saya paparkan beberapa ramuan untuk mengasah memunculkan dan mengembangkan ide menulis.

1.   Perbanyak membaca
Jangan katakan kamu kurang (tidak) suka membaca lantas memimpikan jadi penulis papan atas. Itu ngimpiii! Ngimpi dalam arti yang sebenarnya. Saya hanya ingin sampaikan kepadamu seperti ini: jika kamu saja tidak bisa menghargai tulisan orang lain (dengan membacanya), lantas bagaimana orang lain kamu harapkan untuk menghargai tulisanmu? Tapi yang pasti, dan tak bisa dipungkiri, bahwa membaca merupakan salah satu hal yang menjadi “harga mati” untuk menambah wawasan dan mengasah intelektual.

2. Sering interaksi dan sharing/berdiskusi
Tak kalah pentingnya, diskusi akan menambah pula banyak wawasan. Bahkan kelebihannya, dengan sharing atau diskusi, kita dapat mengomunikasikan, membandingkan, mengklarifikasikan bahkan memperdebatkan pengetahuan secara langsung. Begitupun dengan interaksi atau silaturrahim, ia bahkan dapat memperpanjang umur dan meluaskan rizqi.

3. Mengikuti perkembangan isu-isu mutakhir
Sekali lagi ini penting. Fungsinya, agar otak kita tidak seperti museum jaman pra-sejarah, tidak seperti manusia pedalaman yang masih pakai koteka, agar otak kita tidak gagap oleh perkembangan informasi. Ada banyak media yang dapat memudahkan kita untuk membuntuti perkembangan informasi mulai dari elektronik, cetak, hingga online.

4. Menghadiri forum-forum ilmiah
Ini penting juga. Banyak wawasan intelektual yang akan kita dapat dari forum ini. Seperti misalnya seminar, talk show, bedah buku, sampai pula halaqah atau liqa’.

5. Menjadi peneliti kecil-kecilan
Nah, ini baru penting namanya. Hahaha, perasaan bosen banget dari tadi bilang penting mulu. Well, resep ini akan menjadikan tulisanmu lebih berbobot, sebab, menulis memang tidak saja mengasah keterampilan menggunakan kata-kata, tapi juga harus lihai dalam akurasi data. Jadi tidak hanya piawai memainkan dan mengolah kata saja, tetapi juga memiliki referensi dan informasi yang berbobot di dalamnya.

6. Jadikan blog sebagai hobi
Tak lain fasilitas ini sebagai sarana untuk memacu kita terus berkarya. Udah itu aja, nggak usah panjang-panjang!

7. Lebih bagus dengan mengikuti lomba-lomba menulis
Sebab ia dapat memompa semangat untuk bersaing menciptakan karya yang terbaik.

8. Ibadah
Nah, apa pula ini hubungannya? Hmm, pasti ada. Sekurang-kurangnya, dengan beribadah maka akan dapat menyegarkan dan menyucikan hati kita. Maka dengan kondisi itu akan mudah memunculkan inspirasi. That’s all.

Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.” [D.H. Lawrence]

***

Gimana gimana? entar ada edisi keduanya. WAIT!!! ^^

redup siang menjelang hujan,
15 Muharram 1434 H
13:20

Advertisements

2 comments

  1. Izin share ya 🙂

    1. silakan silakan.. 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: