Belajar Memaknai_1

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono 

***

Aku sedang memikirkan banyak hal beberapa hari belakangan ini. Semuanya tentang pasca-kampus. Tentang masa depanku yang terbentang luas, tentang mimpiku yang mengangkasa, tentang ‘keluarga’ yang siap menanti dimasa paling indah. Tentang seluruh perjalanan hidup yang meluruh, menyentak, dan menguap begitu saja bila aku tidak menuliskannya. Seperti bung Toto Sudarto Bachtiar menuliskan jiwa kemanusiaan dalam beberapa bait –yang salah satunya– membuatku berbeda menafsirkannya dengan apa yang dimaksud penulis.

Atau sebuah tafsir Laut oleh Amal Hamzah;

Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang memecah berderai
Ke ribaan pasir rindu berpaut

P

Aku membuat permisalan kau yang sedang berdiri di tepi pantai, kemudian melihat ombak bergulung-gulung memecah tepi pantai. Pasir-pasir di tepi pantai itu laksana merindukan pautan ombak. Pasir-pasir itu tampak seperti berpegangan untuk kembali ke laut.

Indah, bukan?

Saat membacanya, aku benar-benar merasakan kakiku menyentuh pasir yang bersih itu, udara sejuk berhamburan berlari membawa kabar dari seberang sana. Saling melempar senyum dengan saudari-saudariku. Sayangnya, aku tidak diizinkan Ibu menginjakkan kaki se-inchi-pun di areal pantai. Jangankan menginjakkan kaki, membayangkan kunjungan santai sekedar menikmati suara buihnya saja tidak boleh. Baiklah, Ibu punya alasan untuk itu. I see 🙂

Aku menurut. Jika tidak berkunjung langsung, tidak pula sekedar memikirkannya, maka tidak akan pernah ada yang bisa melarangku untuk menuliskannya. Sepertinya sama saja ya? haha. Menulis, tentu akan memikirkan juga. Yah, setidaknya tidak akan tampak bahwa aku sedang memikirkan pantai. Alloh, aku ingin membaca mushaf disana, 😀

*oke, back to puisi paling atas*

Aku sedang rindu. Entah dengan siapa. Aku juga sedang merenungi banyak hal. Mengoreksi diri lebih tepatnya. Ini bukan bula Juni, tapi berhubung si penulis menuliskannya bulan Juni, perlu aku mempermasalahkannya?

maknawinya toh tidak akan berubah 🙂

Ini bukan postingan galau. Bukan sama sekali. Jikalau aku boleh berpendapat, kampusku ini bukanlah tempat yang nikmat untuk bersastra. Setiap menulis sebuah puisi, orang-orang dengan santai mengatakan bahwa aku sedang galau. Tidakkah kalian memiliki kumpulan kosakata baru? think before you type, guys..

Jika orang-orang sanggup berpikir sebelum bertindak, maka mereka akan menemukan banyak arti yang ingin kusampaikan, bahwa..

1. Hujan adalah sesuatu yang baik
2. Rintik adalah sesuatu yang kecil, tetapi banyak
3. Pohon berbunga adalah kehidupan yang baik dan menjanjikan
4. Jejak-jejak kaki adalah pengalaman hidup
5. Jalan adalah alur kehidupan
6. Diserap adalah dimanfaatkan
7. Akar adalah awal kehidupan

Kindness

Kindness

“Kerjakanlah kebaikan meskipun itu kau anggap kecil. Sebab, engkau tidak tahu kebaikan mana yang akan memasukkanmu ke surga” [Hasan Al Bashri]

Advertisements

2 comments

  1. Oh indah sekali rangkaian kata 2nya Mbak. Serasa juga membawa ku ke pantai yg tak pernah dilarang ibu untuk di datangi 🙂

  2. Apa.. Apa.. Apa..
    Bunga merasa terpanggil.
    Lalu bunga datang menemui bunga yang lain, sebut saja “Sekar” 🙂
    Lalu berkata dalam diam “Hai Sekar, jangan lupa bulan juni yaaa.. :)”

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: