Chocolate Shake

Menulis tentang kesedihan, maka harus benar-benar filmis dan sanggup merasakan bagaimana sedih itu mengungkung hati, kemudian merambah cepat, melesat sekelebat sampai mata. Bagi wanita, menangis adalah penawar pertama ketika kesedihan itu betul-betul merangsek masuk memenuhi seluruh isi kepalamu ketika membayangkan diri ini tokoh utama dalam kisah memilukan itu. Pria, mendesah dengan napas berat, atau diam serius menekuri setiap kata dan kalimat lanjutannya. Menanti akhir bahagia. Atau barangkali menampilkan guratan wajah berlipat, turut berduka dengan cerita kesedihan yang berhasil menjadi hiburan.

Menulis tentang kebahagiaan, maka setiap katanya sanggup menggelitik hati hingga perasaan yang membuncah itu tidak tertahan. Sebuah oase menyegarkan dan sanggup mempengaruhi mood hari itu. Hasilnya adalah tersenyum atau sekedar meregangkan urat-urat syaraf dan otot-otot tubuh yang sebelumnya menjadi bagian ketika penulis bercerita tentang kesedihan dan klimaks perang.

Begitulah aku berusaha menuliskan kisah tak nyata apapun, dengan jujur. Lupa siapa yang menyampaikan ini, tapi aku akan slalu mengingatnya; “Film ini adalah tipuan. Maka, kau harus berhasil menipu penonton”

Semua orang tahu, Alice in Wonderland, Harry Potter, Jurassic Park, Twilight, Fairy Tooth, dan film khayalan lain adalah fiksi alias tidak nyata. Just film, just a story. Namun, para pembuat film itu ingin skenario atau cerita yang diimajinasikan benar-benar membuat penonton terkesima, terhenyak, terpukau, hingga terlontar “so amazing!” atau untuk orang-orang polos “emang zaman dulu beneran ada gitu ya?” atau “wah, pantesan di Indonesia adanya kuntilanak, genderuwo. Lha wong vampir adanya cuma di tempatnya orang-orang bule”. Itulah yang sedang berusaha aku lakukan. Aku pikir semua penulis memang begitu. Berusaha seoptimal mungkin membuat kisah ini berhasil menyedot sebagian besar bahkan seluruh perhatianmu, berusaha sekeras yang mereka bisa untuk mengambil sepotong hingga seluruh perasaanmu untuk bermain bersama kalimat-kalimat didalamnya.

Chocolate shake!
Mengaduk atau mengocok, aku pilih mengocok. Itu terdengar seru dan ekstrem. Resikonya bisa tumpah dan berantakan. Seperti mengocok tabung reaksi berisi larutan. Ada kehati-hatian, ada antusias, ada keberanian, ada kefokusan, ada perhitungan, ada banyak hal. Aku akan berusaha menulis segala sesuatu dengan pemahaman yang baik. Keberhasilan tertinggi adalah shake tadi. Jika berhasil mengocok es batu dan air minum beraneka rasa dalam satu gelas, lalu ditutup, kocok, buka gelasnya, dan jadilah minuman kocok, drink shake atau – aku pilih minuman rasa cokelat – jadilah chocolate shake. Kenapa cokelat? Karena menurut penelitian para ahli yang aku juga tidak kenal siapa para ahli itu, kata mereka, cokelat bisa menenangkan karena kandungan didalam minuman tersebut. Terlebih cokelat panas. Lagi-lagi, mahasiswa atau pelajar harus googling untuk mencari jawabannya. Guru seperti nomor dua bagi kami. Haha *menyedihkan, bukan?*

Sedikit intermezzo, ada seorang dosen yang pernah mengatakan kepada mahasiswanya.
“Kenapa setiap wisudawan-wisudawati yang poto wisuda, backgroundnya pasti rak isi buku-buku?”
“Seharusnya backgroundnya lambang dan tulisan GOOGLE”

Ya ya ya, bahkan sekedar mencari komposisi cokelat yang katanya bermanfaat itu, aku harus googling terlebih dulu. Mengenaskan.

Chocolate shake

Menulis dengan kejujuran dan tanggung jawab. 🙂

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: