Sastra, Antara Estetika dan Etika

300px-SÁM_66,_75v,_death_of_Baldr

Meski pendapat Laurance Perrine (1959) boleh dianggap kuno, tetapi masih bisa memberi gambaran tentang dua kategori sastra, yang dia sebut sebagai escape literature dan interpretative literature, yang masing-masing punya kelas pembaca sendiri (Sunaryono Basuki Ks. dalam Mozaik Sastra, 2005). Sastra yang termasuk kategori pertama, ditulis semata-mata untuk menghibur, sekedar mengisi waktu luang. Sastra jenis ini justru membawa pembacanya menjauh dari kenyataan kehidupan, dan membuat pembacanya lupa akan masalah yang dihadapinya. Tujuannya cuma memberi kesenangan atau hiburan saja.

Sastra kategori kedua ditulis untuk memperluas, memperdalam, serta mempertajam kesadaran pembacanya mengenai kehidupan. Dengan melalui imajinasi, sastra kategori ini membawa pembaca lebih dalam ke dunia nyata, membuat orang mampu mendalami dan memahami masalah-masalahnya. Sastra ini membuat orang lebih memahami kehidupan. Sebuah karya sastra interpretatif menerangi aspek kehidupan dan perilaku manusia, memberi pemahaman mendalam mengenai sifat dan kondisi eksistensi manusia.

Karya sastra yang baik akan mengetengahkan kebenaran mengenai sejumlah aspek esksistensi kehidupan manusia. Sastra mampu mengungkapkan sebuah kemerosotan etika dengan balutan estetika yang apik yang berisi pesan moral atau kritik social dengan cara yang lain. Sastra dengan balutan estetika dan etika diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai hakiki karakter, moralitas, dan etik yang bersentuhan dengan problem kemanusiaan dan berbagai halnya secara perlahan dan tak langsung. Menurut Maman S. Mahayana (Bermain dengan Cerpen, 2006) sastra dihadirkan dengan kesadaran untuk menggoda rasa dan nilai kemanusiaan. Menyentuhnya secara halus, dan diam-diam menggerayangi hati nurani kita. Tiba-tiba kita seperti disadarkan untuk melakukan refleksi pada sesuatu yang tersembunyi di balik fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Ada rahasia apakah gerangan dan apa maknanya di belakang dan di hadapan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan itu? Sastra mencoba menguak dan kemudian menyodorkannya kepada kita dengan cara yang khas.

Hal di atas sejalan dengan pendapat Jaffe dan Scott (1968), di dalam membaca karya sastra pembaca akan menemukan (bukan diajari) nilai-nilai kemanusiaan. Menurut mereka, fiksi yang paling efektif adalah yang menafsirkan aspek-aspek kondisi manusia secara efisien dan jujur. Dalam hubungan itulah, sastra mencoba menyajikan dan memaknainya dengan caranya sendiri. Ia mungkin berbentuk cerita lucu atau kisah tentang kehidupan di dunia antah-berantah atau mungkin juga menyerupai potret sosial yang dibalut dengan nilai estetik. Nilai-nilai estetik inilah yang menjadikan sastra mampu menelusup jauh lebih dalam sampai ke ujung hati nurani bahkan sampai ke dasar rasa kemanusiaaan.

Ada satu nilai besar disini.
Bagaimana kemudian penulis sanggup memasukkan unsur agama di dalamnya. Nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai Islam yang secara sadar atau tidak, banyak manusia lupa membubuhinya. Padahal, mau tidak mau, semuanya berkaitan dengan fitrah manusia. Bagaimana kebenaran sampai di hati setiap manusia, sudah saatnya para penulis menginterpretasikan karya mereka dengan kehidupan berserta segala pernak-perniknya.

Semoga Bermanfaat 🙂

Advertisements

One comment

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: