Memotret Makna

Belajaaar Belajaaaaar Belajaaaaaaaaaaaaaaaar!!!!
T____T”
Entar dulu deh. Mau nulis-nulis dulu tentang Junior Camp 3 hari 2 malam kemarin 😀
Abis itu belajar. Beneran.
Eh, ngerjain laporan dulu ding.

Haaaaa… T________________________________T”
Kenapa masih ada laporan?
Oke, salah sendiri jadi mahasiwa. Hueks hueks

Bismillah..

Tidak ada pengandaian untuk yang lalu. Samasekali bukan sesuatu yang terulang atau dapat diulang dengan upaya apapun. Lalu dan begitu saja. Begitu saja untuk sebuah perlakuan tanpa pemaknaan. Maka, memaknai setiap peristiwa menjadi sangat utama dibandingkan hanya mencari kegembiraan atau kebahagiaan pelepas jenuh sebelum ujian. Jangan-jangan, ada onderdil yang perlu diperbaiki. 🙂

Disetiap kesempatan, selalu ada impian dan kenangan.
Impian untuk dapat kembali lagi.
Kembali dengan kebersamaan ini.
Kembali merenung bersama, kembali tersenyum dan tertawa bersama, kembali bergurau bersama, kembali saling menasihati, kembali sholat berjamaah ditengah semesta, dan kembali-kembali yang lain.

picture: apakabarsidimpuan.com

Begitupun dengan kenangan.
Bagaimana peristiwa ini tetap begini sampai seterusnya.
Bagaimana kebersamaan ini tetap indah seperti ini sampai kapanpun.
Bagaimana caranya mengulang rasa ini jika tiba-tiba diteror kerinduan yang menyengat.
Kerinduan dengan kebersamaan.

picture: annida-online.com

Lagi-lagi semua tentang kebersamaan.
Mengapa segala sesuatu yang bersama-sama itu indah?
Karena ada kawan yang menemani? Karena ada kawan yang bisa diajak bersusah-susah?
Atau karena apa?
Makan nasi satu nampan bersama-sama, yang belum tentu terjaga kebersihannya, menjadi sangat nikmat dibandingkan makan nasi satu piring tanpa ditemani siapapun.

Impian dan Kenangan.
Indah dan membahagiakan atas dasar sebuah pemaknaan yang tepat hingga media pembelajaran itu hadir atas hasil analisa diri. Lebih mengakar dan mampu melumat halus sari pati ilmu yang luruh, turun lebat laksana rahmat Alloh yang deras menghujam bumi.

Impian dan Kenangan.
Mulai dari cerita tentang sebuah kesederhanaan.
Bersama dan sederhana menjadi padanan kata serasi untuk dua malam.
Mengapa dua malam? (yaaa.. karena gue kempingnya dua malem lah cuuuy. haha)

Bukan waktu yang ingin diulang.

Pernah dengar kisah tentang dua orang penyelam yang sedang menikmati keindahan terumbu karang?

penyelam

Dua penyelam yang pada suatu pagi tercerah selama mereka menekuni kegemaran ini dihari-hari sebelumnya, dipertemukan disebuah pantai paling indah di Indonesia. Penyelam A selalu membawa kamera yang dapat digunakan di dalam air untuk mengabadikan setiap keindahan yang ia temukan. Mengambil gambar dari sudut-sudut terbaik menurutnya. Memukau siapapun yang melihat foto itu. Hal wajar dan memang biasa dilakukan oleh seluruh penyelam.

Sedangkan Penyelam B, tidak pernah membawa kamera. Tidak sekalipun. Ia menyelam begitu saja tanpa peduli dengan pengambilan gambar atas hasil kunjungannya, hasil ia menyelam selama ini. Kedua penyelam itu bertemu dan saling menyapa ketika mereka telah selesai menyelam.

A : “Hai! Tadi kulihat kau samasekali tidak membawa kamera. Sayang sekali, kawan. Ini pantai terindah di Negeri ini. Kau melewatkannya begitu saja, padahal nanti kau bisa menunjukkannya pada orang-orang, teman-temanmu, dan tentu saja keluargamu. ”

B : (tersenyum lebar) “Aku sudah sangat senang dengan semuanya, dengan kondisi seperti ini. Tidak perlu kamera kurasa. Itu menurutku”

A : (mengernyitkan dahi dan tersenyum heran) “Maksudmu? Kau benar-benar aneh”

B : “Ya. Aku tidak pernah sekalipun membawa kamera setiap menyelam. Dimanapun, seindah apapun pantai dan terumbu karang itu.”

A : “Mengapa? Kau tidak menyayangkan momen indah itu terlewat begitu saja?”

B : (menggeleng pelan dan tegas) “Aku lebih senang mengingatnya disini (menunjuk kepala) dan disini (menunjuk dada). Kenangan itu akan jauh lebih indah dan membekas. Melekat erat, dan memanggil-manggilku untuk kembali kesini. Kurasa, keindahan tempat ini akan terasa benar-benar indah jika ragaku berada disini, berdiri dan menjejakkan kaki di tanah ini. Jika kuabadikan setiap momen, setiap kemolekan terumbu karang, setiap kemegahan alam, suatu hari nanti selepas dari tempat ini, aku akan puas hanya dengan memandang foto itu tanpa pernah bertekad kuat untuk kembali lagi. Aku ingin mengulang seluruh kenangan ini. Mengobati kerinduan dengan tindakan.”

A : (memandang A lekat-lekat, menepuk pundaknya, dan tertawa) “Sederhana, tapi memikat! Terima kasih, Sob. Setidaknya aku belajar satu hal darimu; menjadikan kenangan sebagai sebuah pembelajaran. Bukan sebatas kerinduan menggelora, tapi tak ada upaya untuk mengobati.”

picture: tekno.berita21.com

picture: tekno.berita21.com

Begitulah,

Terkadang mengabadikan sebuah momentum menjadi hal yang tidak diperlukan bagi sebagian orang. Sebagian kecil mungkin, sangat kecil, minoritas, mengingat saat ini adalah zaman alay, hehe.

Bukan tidak penting atau acuh, dan menganggap itu hal aneh.

Boleh jadi, mereka yang tidak perlu kamera atau video adalah orang-orang yang teramat sangat dalam dan tinggi pemaknaannya terhadap segala sesuatu dan mengulang kenangan sebagai obat rindu yang paling mujarab.

Atau opsi terakhir, mereka punya waktu luang untuk kembali singgah ke tempat-tempat yang berhasil membuat rindu itu. 🙂

Impian dan Kenangan
Kedua kata ini melebur menjadi satu.

Ketahuilah.. jika kalian menemukan oang-orang seperti ini, sejatinya ia tidak akan pernah peduli dengan tempat dimana ia berkunjung. Tidak peduli seindah dan sesederhana apapun kondisi lokasi itu. Kebahagiaannya terpenuhi dengan pemaknaan. Tidak peduli kesendirian atau kebersamaan. Walaupun bersama-sama tentu sangat menyenangkan. (kalo guweh, tetep foto-foto dong 😀 V soalnya bakal susah kesana lagi. Scara, sibuk. *huekhuek!*)

Cerita hari ini..
tentang sebuah pemaknaan dari setiap impian dan kenangan yang berujung satu*

*tetap bersama sampai istirahat di jannah Alloh kelak 🙂
insyaAlloh..

KAMMI IPB on Junior-Senior Camp, Gn.Bunder Bogor, Jawa Barat

belajar memaknai setiap peristiwa…
Ahad, 19 Jumadil Ula 1434 H
(Minggu, 31 Maret 2013 M)
22:09 WIB

Advertisements

2 comments

  1. Tidak sepenuhnya sepakat dengan kata2 penyelam B. Untuk orang yang cukup pelupa seperti saya, justru dengan adanya foto, akan menciptakan semangat kembali ke tempat yg sama 🙂

    1. monggo..
      kalo saya sih, dimanapun kapanpun dalam momen apapun, tetep ye jeprat-jepret 😀
      mau lupa, mau inget, pokoknya harus ada kamera. nyehehe..

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: