Otoritas Bahasa

Ketika tidak hanya kebebasan berpendapat yang diperangkap sedemikian rupa, hingga lelah berharap satu saja cita hidup tercapai, ternyata masih ada kurungan lain yang menghantui. Bahkan hantu itu menampakkan diri menjadi perintah yang kemudian tercatat sebagai sebuah kebijakan tanpa ada hitam diatas putih.

Kebebasan Berbahasa
kebebasan berbahasa
Joss Wibisono mengungkapkan sebuah fenomena lama yang tenggelam dalam tumpukan sejarah berdebu, tentang Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa); satu-satunya otoritas bahasa kita itu terjerembab dalam kontroversi karena tuduhan menjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko. Lembaga yang pernah menjadi alat penindasan Orde Baru.
tesaurus bahasa indonesiaBenedict Anderson mengajak kita mereformasi bahasa Indonesia. Membebaskan bahasa Indonesia dari warisan Orde Baru yang “membosankennja bukan kepalang, kaku, tanpa mutu apalagi bersipat dusta en pura2.” dengan begitu akan muncul bahasa Indonesia yang “hidup kembali bukan sebagai bahasa milik penguwasa, tetapi milik ra’jat Indonesia dengan segala variatienja, selain pembebasan pers perlu pula pembebasan bahasa dan edjaan.”

Ternyata, memang penjara terhitam berada pada kurun waktu 32 tahun. Salah satu ciri kekuasaan sewenang-wenang adalah tekad untuk mengendalikan bahasa. Maklum, orang berpikir dalam bahasa sehingga begitu bahasa terkuasai, maka pikiran orang pasti juga akan dikuasai.

Ada dua pendapat. Pertama, kebutuhan akan otoritas bahasa sebagai kontrol agar tidak amburadul. Namun, pendapat kedua menganggap bahwa otoritas justru akan memandulkan bahasa. Joss mengemukakan opininya, jika memang masih dibutuhkan, haruskah otoritas bahasa itu seketat zaman Orde Baru yang dengan mengontrol bahasa juga ingin mengendalikan pikiran orang?

Otoritas bahasa bisa saja dipertahankan, tetapi sejalan dengan arus demokratisasi. Jangan sampai ada monopoli kekuasaan. Contoh dari Belanda, yaitu terdapat satu otoritas bahasa (Taalunie) yang mencakup Vlaanderen (wilayah Belgia yang berbahasa Belanda) dan Suriname yang juga berbahasa nasional bahasa Belanda. Bahkan Belanda memiliki Spellingwet (undang-undang ejaan). UU ini terwujud dalam het Groene Boekje (Buku Hijau), pedoman mengeja kata-kata bahasa Belanda. Namun, semua orang Belanda tidak wajib mematuhi buku hijau ini.

Ada yang menarik disini. 😀

Pertama, Spellingwet hanya diarahkan pada tiga sasaran, bukan untuk khalayak umum. Ketiganya adalah lembaga negara, lembaga pendidikan yang dibiayai negara, serta semua bentuk ujian yang diatur berdasarkan hukum (misalnya ujian sekolah, ujian universitas, dan ujian untuk menjadi warga pendatang).

Kedua, sebagai perlawanan terhadap het Groene Boekje, dunia jurnalistik Belanda menerbitkan het Witte Boekje (sebagai bentuk otoritas tandingan) untuk menolak banyak ejaan yang ada dalam buku hijau. Buku ini disebut juga buku putih. Ejaan resmi dianggap terlalu ketat, kurang luwes, dan mengabaikan begitu saja kebiasaan lama karena dianggap salah.

Bisa dimengerti jika perlawanan ini bangkit dari kalangan jurnalis. Penggerak buku putih itu adalah tiga harian, empat mingguan, dan satu lembaga penyiaran publik.

Nah, cukup seru ya 🙂
Jelas sekali terlihat bahwa para jurnalis yang hidup dan bernafas dengan bahasa akan merasa terancam jika harus mengikuti peraturan kebahasaan pemerintah.

Bayangkan saja apabila para wartawan dan sastrawan Indonesia diwajibkan menggunakan otoritas pemerintah, maka ketika kebathilan bisa dengan bebas berkeliaran, disaat yang sama bukanlah kebenaran yang akan terungkap dari tangan-tangan para pembawa pena. Tidak akan lahir lagi karya-karya kreatif dan inovatif.

Joss Wibisono menganggap bahwa perlawanan ini jelas mendesakkan kemajemukan berbahasa. Kemajemukan bermasyarakat yang sekarang begitu didambakan, sebaiknya juga diwujudkan dalam bidang bahasa. Mungkin bisa dimulai dengan sikap EGP (tidak peduli) pada Pusat Bahasa. Bukankah lembaga ini sekarang sudah tercela karena tuduhan plagiat?

Wallohu’alam

Always On Fire
Bogor; Ahad, 2 Juni 2013
23 Rajab 1434 H
20.30 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: