Teduh

parai-tenggiri-beach

Kau sudah bilang ‘Ya’, ketika matahari belum meninggi. Masih saja mengenakan jaket usang itu walaupun berkali-kali dijahit sana-sini. Sebut saja semu.

Sudah berapa waktu berlalu, tetap begitu. Bukan gerimis yang kuharap menjawab seluruh pertanyaan tentangmu. Aku tahu ini salah. Bukankah manusia memiliki fitrah?
Terus-menerus menjadi bagian dari keseharianmu, begitu mengganggu. Akibatnya, aku hanya punya rindu. Semakin lama semakin menggebu. Ini semu.

Kau sudah katakan ‘Mungkin’, saat kapal putih berlabuh di Dermaga. Melempar jangkar dengan keyakinan bahwa kembali adalah jawaban pasti. Aku tetap berharap walaupun itu asap yang membubung tak menemukan celah pada atap.

Menyelesaikan catatan mimpi menjadi aktivitas tanpa gairah. Benci semakin menghantui. Aku tak suka situasi ini. Sungguh. Sekali lagi, semu.

Kau sudah bilang ‘Tidak’, pada akhirnya. Pada waktu aku diam, dan jam menagih janji. Aku tahu, kau memang tak mungkin menutup kisah ini dengan ‘Ya’, setelah ada ‘Mungkin’. Kau pasti sedang sibuk menambal kembali jaket lusuhmu. Menggunakannya untuk memberikan senyum kepada orang-orang bawah.

Kau masih sama. Bukankah itu yang membuatmu tak mau memikirkan hal lain? Bagimanapun meriahnya dunia menawarkan jaket baru untukmu. Seketika itu pun, rinduku terbalas.

Ternyata, sepucuk surat dari angin Parai Tenggiri telah menerbangkan pesanku.
Membawa keteduhanmu ke tempatku berpijak di bumi sebelah sini.

ini mimpi kesekian-ku pengen main ke pantai parai tenggiri 😛
Selasa, 2 Juli 2013
23 Sya’ban 1434 H

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: