Memotong Fajar Menjadi Sepuluh (2)

nationalgeographic.co.id

hari ini
tentang definisi
tidak jelas juga

tapi
aku menikmatinya

pesanMu selalu:
jagalah ia

seperti kau menjaga nyala
ditengah gulita

Kau membuka sepatu butut. Melepas kaus kaki yang sepertinya bau karena sudah lama tak tersentuh air dan deterjen. Aku menikmati derap langkahmu. Mantap menjejaki ruang kecil penuh debu.

“Assalamu’alaykum..” suara khas. Tidak merdu. Tidak juga serak. Suaramu cukup membuatku yakin bahwa kau telah mempersiapkan pagi ini dengan sangat baik dan matang. Aku tahu kau selalu membawa note dan pulpen. Menulis setiap rencana secara detil dan teratur. Tidak sepertiku.

Hari ini kita akan bicara tentang apa?
Tidak mungkin pembicaraan yang sama. Aku menikmati alirannya saja. Topik hari ini pasti tidak kalah seru, batinku. Aku selalu tahu kau pasti punya bahan pembicaraan yang menarik. Lagi-lagi memancing kata itu di akhir nanti.

c-i-n-t-a

“Jangan pernah mendefinisikan kata itu. Aku tidak suka. Akan ada banyak dusta.” aku menggantung kalimatku. Kurutuki diriku yang tiba-tiba berbicara ba-bi-bu tanpa pikir panjang.

“Tidak. Aku tidak sedang berbicara atau membahas itu. Ini lebih penting dari sekedar…” kau menahan napas sejenak, lalu melanjutkan kalimat yang tercekat di kerongkongan.
“sekedar kata yang aku juga tidak memerlukannya”

Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Ah, bodoh sekali aku ini. Setidaknya, kau bisa menjawab “Ya, nanti saja kita bicarakan itu.” atau “Baiklah, aku hanya ingin pertemuan ini tidak kaku”

Sekedar kata maaf-pun, tidak ada sama sekali?

Aku mematut-matut diri di depan dinding putih. Aku harus bersabar. Sekali lagi, aku harus menahan ego. Bukan saatnya berdebat. Aku harus berhitung dengan suasana. Cermatlah menangkap pesan. Akulah yang justru terburu-buru menafsirkan gelagatnya. Jangan sampai aku terjebak.

Rasa nyaman ini, rasa hangat ini, rasa saling memiliki ini, tak seharusnya ada. Aku belum meluruskan tujuanku dengan benar. Pikiranku berkecamuk hebat. Aku harus apa? Aku terlalu banyak berdebat dengan diriku sendiri. Ini aneh.

RITLFMDRS

Pusing dengan hal tak perlu, aku iseng mengutak-atik 9 huruf acak. Iseng saja. Benar-benar keisengan yang bodoh dan konyol. Aku mencorat-coret kertas kosong yang seharusnya kugunakan untuk mencatat apa yang kau sampaikan.

Kau terus menyerocos. Menggebu-gebu merencanakan ini-itu. Aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan 9 huruf itu saja. Sembilan.

Entah bagaimana langit bercengkerama dengan bumi pagi itu. Awan meretas deras. Sederas kalimatmu. Sederas obrolanmu. Sederas ide-ide yang kau telurkan pagi ini. Esok hari, aku akan menemukan 9 huruf itu genap menjadi 10 huruf.

Apa-apaan ini? Huruf apa yang hendak mempermainkanku kembali?
Hei, sejak kapan kau merasa dipermainkan? Aku malu sendiri dengan teguran hatiku.

Yang jelas, 10 huruf itu akan mendefinisikan arti sebenarnya lima kata yang kucari selama ini. Ini memang tentang kau dan aku.

Ya, tentang kita!

waktu kedua
Jum’at, 2 Agustus 2013
24 Ramadhan 1434 H
23:18 WIB

Advertisements

5 comments

  1. gambar-gambarnya bagus.. motret sendiri, Sekar? 😀

    1. eh? nggak mbak, hehe.
      aku cantumin di judul gambarnya, bukan di keterangan.
      =_=7 harusnya nongol ya sumbernya. heuu. gomene..
      kalo aku yang moto, pasti ada wajahku mbak. Haha *narsis tingkat dewa*

      1. nulisnya di caption, say.. biar muncul di keterangan gambar.. *mana liat wajah ayu-mu, donk.. biar tambah narsis =p

  2. bener2 nih.. sepertinya akan ada undangan menyebar waktu dekat2 ini 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: