Memotong Fajar Menjadi Sepuluh (5)

sabar

Aku masih mengingatnya betul. Satu waktu dimana kau menghabiskan jam seorang diri. Kemudian mengirimiku sebuah keterkejutan yang beralasan.

Kita jenuh,
dan kita salah arah.

Mungkin memang betul apa kata orang. Penjelasan kata itu begitu rumit. Kau pun tampaknya merasakan hal yang sama denganku. Begitu sulitnya, sampai-sampai kita melupakan apa yang seharusnya kita siapkan untuk menuntaskan waktu 1 tahun ini.

***

Spesial untuk saudaraku..

Ketika kata ini tak mampu lagi berbicara, semoga tulisan ini sedikit menjadi jalan berkomunikasi antara kita. Entah mengapa, jari ini terasa lancar sekali mengetik. Tak seperti biasanya, ketika aku mulai menulis sebuah artikel, ataupun sekedar tugas kuliah. Kali ini, aku merasa ada sebuah dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang ku tak paham apa itu.

Momen Idul Adha kali ini terasa benar-benar spesial bagiku, mendalam dan penuh arti. Allah meneduhkan suasana yang berbeda malam ini, Subhanallah. Ternyata ada sebuah pelajaran berharga yang mengingatkanku pada sesuatu yang spesial; the special one. Bukan Jose Mourinho, tapi engkau, tapi kita, tapi kalian..

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.” [Ash-Shaffat:102]

Ada pelajaran besar yang mesti kita ambil disini. Tersentak aku ingin menuliskan banyak hal tentang ini. Semoga Allah memberikan kita kepahaman penuh dalam membaca dan mengaplikasikan maknanya.

“Ya Allah! Alangkah indahnya keimanan, ketaatan, dan penyerahan diri ini..”
“Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Ini adalah kata-kata seseorang yang menguasai sarafnya, yang yakin terhadap perkara yang ia hadapi, dan penuh dengan percaya diri akan menjalankan kewajibannya. Hal itu pada waktu yang sama juga kata-kata seorang yang beriman, yang tak merasa berat dengan perintah itu. Maka, dia pun menunaikan perintah itu dengan spontanitas dan sesegara mungkin. Sehingga, ia cepat menyelesaikan tugasnya, dan terbebas dari beban itu.

“…Hai Bapakku..”

Dalam suara yang penuh cinta dan kedekatan. Penyembelihan dirinya itu tak membuatnya terkejut, takut, atau kehilangan kewarasan. Bahkan juga tidak menghilangkan akhlak dan kasih sayangnya.

“… Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu..”

Dan, ia merasakan apa yang dirasakan sebelumnya oleh hati ayahnya. Ia merasakan apa yang dirasakan sebelumnya oleh hati ayahnya. Ia merasakan bahwa mimpi itu adalah isyarat. Isyarat itu adalah perintah. Dan, itu cukup untuk dituruti dan dijalankan tanpa banyak cakap, ditunda-tunda atau ragu-ragu.

“…Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar…”

Alangkah indahnya akhlaknya terhadap Allah. Alangkah indahnya keimanannya. Alangkah mulianya ketaatannya. Dan, alangkah agungnya penyerahan dirinya.

 tumblr_lh8kdkbuqe1qhytc3o1_500
Saudaraku, aku tidak tahu siapa yang menggerakkanku. Tiba-tiba saja, kakiku enggan berdiam. Lebih memilih untuk melangkah menuju masjid kita, untuk sholat isya’ diatas karpet yang menjadi saksi perjalanan ruhani manusia menuju Robb-nya. Ya, masjid ini. Masjid yang entah bagaimana selalu terasa sejuk, bahkan ketika cuaca diluar sana terasa membakar ubun-ubun.

Aku sama sekali tidak memiliki agenda khusus disini. Hanya datang untuk –entahlah– menulis surat ini? Ya, mungkin saja. Aku coba mengikuti alunan takbir yang dikumandangkan seorang marboth, ketika aku telah selesai sholat. Aku bertakbir di masjid kita, masjid dengan sejuta kenangan bersama menjemput cinta.

Aku mulai merasakan sesuatu. Ada yang mengganjal. Tanpa berpikir panjang setelah itu akan apa, aku turun ke perpustakaan masjid, mengambil sebuah buku tafsir Al Qur’an, dan membacanya.. hingga pada akhirnya ada satu hal yang membekas di hatiku. Semoga juga bagi kalian.. Aku membuka laptop dan mulai menuliskan sepucuk surat untuk kalian. Ini tentang sebuah PENGORBANAN.

“Perjuangan menyampaikan kebenaran ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap, TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersamanya, dan perjuangan atas nama kebenaran inipun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul amanah ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban perjuangan ini.”

Saudaraku, sejauh mana pengorbanan kita?

Astaghfirullahal’adzhim..
Barang kali kita terlena dengan rutinnya aktivitas sehari-hari. Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya.

Siapa yang mengikat dan menyatukan kita semua? Kehadiran teman-teman? Adanya kesepakatan dan kenyaman diantara kita untuk berjuang bersama? Bukan. Bukan itu. Orientasi kita hanya Allah semata. Itu yang kulihat belum kita miliki. Aku khawatir, bahkan sangat takut, aku tidak bisa mendidik keluarga kecil ini dengan baik. Aku khawatir, kita berjuang karena sebuah kenyamanan. Nyaman karena bisa saling curhat, mengobrol, lalu apa lagi?

Beginikah semua orientasi yang tidak di dasarkan pada nilai Ilahi? Sehingga setiap aktivitas kita berjalan tanpa ruh. Kalaupun ada, dan terlihat bersemangat, aku takut itu hanya karena orientasi yang berbeda. Hanya karena kita adalah sebuah keluarga, bukan karena Allah.

Sehingga ketika masalah itu hadir, yang dijadikan panduan adalah sikap kita masing-masing, sikapku, sikap dia, dan lain-lain. Lalu ketika keluarga ini sudah saling merasa tidak nyaman, sewaktu-waktu dapat ditinggalkan begitu saja. Ini hanya karena seluruh hati kita tidak berhimpun pada satu tekad bersama, yaitu Allah.

Saudaraku, mari bersama mengevaluasi diri. Aku tidak sedang marah. Aku hanya sedang menyesali perbuatanku, perbuatan kita, yang mungkin saja sempat terbungkam oleh kebahagiaan sesaat yang melalaikan.

Cukup.
Jadilah Pejuang Hamas yang mewarisi pengorbanan Nabi Ibrahim dan Isma’il.

Sebuah Masjid dengan kemegahan Asma Alloh
Pukul 19.58 WIB; diselingi alunan takbir, Idul Adha.
Allahuakbar walillahilhamdu..

***

Kau masih ingat?
Aku masih ingat dan menyimpannya rapat-rapat disini. Di dalam hati.

waktu yang merambat rindu
22:46 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: