Menyeruput Secangkir Buku

picture: theticketkitchen.com

picture: theticketkitchen.com

Menempatkan buku pada posisi paling nyaman, nikmat, dan lezat adalah hal paling langka. Ini bukan tentang membacanya sebagai bentuk rasa suka, hobi, sampai membudaya. Bukan itu. Ini lebih dari sekedar suka. Candu. Ah, kosa kataku berantakan sekali. Aku belum menemukan kata yang pas selain candu. Mungkin sejauh ini, kata itu yang kupilih. 😀

Mengaitkan buku dan candu dengan definisi baru. Mulai dari mengambil satu buku dari rak. Kemudian membuka lembar demi lembar dengan perasaan menggebu-gebu. Menghirup hawa yang menguar dari setiap kertasnya seperti menyesap asap daging panggang. Menyusuri huruf demi huruf bersama secangkir coklat mengepul hangat di pagi hari. Pagi yang mataharinya muncul malu-malu. Pagi yang embunnya masih terlelap di pucuk daun. Nikmaaaaaaat

Pengertian candu yang sangat sederhana. Sesederhana definisi kebahagiaan menurutku ketika bertemu dengan ilmu. Ilmu yang membuat haus setiap peneguknya. Mengundang lapar setiap pelahapnya. Ilmu yang terkandung dalam sebuah bukulah yang membuat para pembelajar itu tak pernah berhenti belajar.

Bukankah semakin tinggi ilmu seseorang, maka Allah pun akan meninggikan derajatnya? Nah, buku bisa menjadi salah satu sarana meningkatkan derajatku. Meneguk segelas air segar dan melahap sepiring sayur serta lauk pauk. Yummy! ^^

Ini menjadi salah satu impian terbesarku. Membuat orang lain merasakan hal yang sama. Sebuah tempat bersantai, dengan rak penuh berbagai macam bahan bacaan menyegarkan disekelilingnya. Tanpa atau dengan secangkir coklat panas sebagai teman, tak mengurangi sedikitpun kelezatan suasana membaca dan menyantap buku dengan lahap. Sekali lagi –dan akan terus kuulangi berkali-kali– manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Aku ingin membagi ilmu di dalam kertas-kertas itu kepada orang lain. Ini juga kebahagiaan dalam bentuk sederhana. 🙂

Persis seperti yang dituliskan Chairil Anwar dalam puisinya berjudul Diponegoro; sekali berarti sudah itu mati

Sayangnya, setiap mimpi yang dimulai dari 0 akan berhadapan dengan satu tembok bata. Cukup kuhancurkan saja untuk melewati jalan berikutnya. Upaya untuk menghancurkannya saja tak mudah. Kesulitan itu lantas menjadi momok, malapetaka, bahkan kebodohan bagi siapa saja yang coba menembusnya. Itulah masalah terbesar yang pada akhirnya membuat orang-orang terkungkung dengan bayangannya sendiri. Masalah besar yang bukan terletak pada tembok batanya, tapi pada rasa takut yang bersemayam di dalam diri.

picture: asfarian.wordpress.com

picture: asfarian.wordpress.com

Lantas, jika aku bisa menemukan cara untuk mencapai jalan indah dibalik tembok, seperti Muhammad Al Fatih menemukan cara cerdas melewati benteng Konstantinopel, bagaimana reaksi sekitarku?

Terkejut? Tertawa? Meremehkan?
Ya ya ya.

Mereka tidak siap jika aku mampu melompat. Sedangkan lompatanku tentu bukan hasil berkedip semalam, sim salabim. Lompatan tinggi dari hasil latihan terus-menerus. Tempaan keras setiap hari.

picture: reynaldidwi.blogspot.com

picture: reynaldidwi.blogspot.com

Mereka sungguh tidak siap dengan impian besarku. Tidak kemarin, hari ini, maupun esok, jika belum kubuktikan bahwa apa yang kuperjuangkan sekarang lebih dari sekedar mengejar kekayaan dunia. Namun, ada wangi akhirat disana. Ada harum susu yang mengepul dari aliran sungai di surga paling tinggi. Ada tawaran yang jauh lebih berharga dari apapun. Kebermanfaatan. Dan Itu yang tak tampak oleh mereka.

Mereka tak siap dengan datangnya seorang pelopor, karena mereka menyibukkan diri sebagai pengekor. Mereka tidak siap dengan diriku yang baru. Mereka tidak siap karena masih saja terikat arus. Masih terpaku mainstream sebagian besar manusia. Aku masih ingat betul bagaimana cara mereka memandangku. Aku yang sudah tumbuh besar dengan banyak sekali isi kepala. Berbagai macam hal di dalam kepalaku ini mendesak, menyeruak, meminta giliran untuk segera ditelurkan menjadi sebuah karya.

Siapa mereka?
Merekalah yang seharusnya menjadi tempat terhangat ketika selimut paling tebal sekalipun tak sanggup membungkus tubuhku yang kaku kedinginan. Mereka yang lebih memilih hidup lurus, melajukan roda diatas kerapian aspal, dan dipagari sepanjang jalan.

Lalu aku?
Aku memilih jalur mendaki. Jurang menganga di kanan dan kiri. Bebatuan tajam di sepanjang jalan. Tak ada jalan mulus, apalagi lurus. Aku memilih jalan ini, karena aku tahu hasil yang kudapat nanti akan jauh lebih manis. Kuhabiskan sebagian besar hidupku, sebagian besar prosesnya bukan hanya dengan peluh. Ada darah disana. Ada harga mahal yang harus kutebus. Dan itulah yang mereka tak pernah punya. Nilai sebuah pengorbanan.

picture: anekainfounik.blogspot.com

picture: anekainfounik.blogspot.com

Aku sungguh memaknai setiap pekerjaan yang kulakukan dan setiap sikap yang kuambil. Aku memahaminya dengan kesungguhan. Ini bukan sekedar berlelah-lelah akibat mengerjakan sebuah tugas semata. Impianku, cita-citaku, masa depanku lebih dari apa yang mereka lihat sebagai uang. Lebih dari sekedar kata ‘sukses’.

“Sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup,
tetapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses”
[Booker Washington, Pejuang Kulit Hitam AS, 1864-1943]

Aku akan segera menuntaskan mimpiku. Aku tidak akan pernah takut dengan apapun, kecuali Allah, selama aku benar. Karena aku melakukan semuanya dengan cinta dan kejujuran.

***

Baiklah, tampaknya aku memang harus bersegera menyiapkan diri atas ketidak siapan orang-orang disekelilingku. Aku harus siap disaat mereka tak siap atau mungkin tak akan pernah siap dengan derasnya impianku. Sebab, semakin kemari, isi kepalaku semakin meletup-letup. Aku makin gerah dengan betapa derasnya darahku mengalirkan semangat untuk memenuhi dahaga dengan ilmu. Belajar.

Begitulah..
Kumpulan kertas-kertas berbau daging panggang telah berhasil melumpuhkan saraf ketakutanku. Semoga Allah senantiasa menjaga semangatku menuntut ilmu, belajar tiada henti, terus-menerus memperbaiki diri, sampai hariku berakhir syahid. aamiin

Books Cafe!
one day…. 😀 😀 😀

picture: excellentquotations.com

picture: excellentquotations.com

Bulan baru,
dan segenggam semangat baru
Kamis, 8 Agustus 2013
1 Syawal 1434 H
23:37 WIB

Advertisements

7 comments

  1. Pagi2 udah baca ginian.. #tersulutsemangat

    1. wow!
      Semoga semangatnya ga akan pernah padam 🙂

  2. KSATRIO PINANDHITO · · Reply

    #SyahduSekali…

    1. instrumen koi, mode: on 😛

      1. KSATRIO PINANDHITO · · Reply

        😉

  3. sering BW ke kamu Kar, tapi baru nemu tulisan ini. Danke ya Kar! Memotivasi1 🙂

    1. ini yang ada di antologi yang terbit di gramed nis. :mrgreen: tapi banyak yang diedit sih

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: