Amplop Merah Biru Di Atas Meja

Daun2
ada satu tumbuhan
sederhana, tapi menjelma rupa
yang
daunnya punya warna
seperti musim punya cerita
tak saja dua
tapi empat

itu artinya..
ada air mata yang bertabur
ada cinta yang bersemi
ada harapan yang menghangatkan
dan ada rindu yang meluruh

dia menawarkan empat musim
ketika aku baru mengenal
artinya sebagai rasa

***

Seharusnya aku tahu ini salah. Kesalahan sejak kali pertama dia datang ke desa kecilku yang jauh dari keramaian pusat perbelanjaan. Jauh dari bising kendaraan seperti di jalan raya yang menghubungkan desaku dengan kota Kabupaten. Tidak seharusnya aku bertemu dia. Tidak sekarang. Mungkin nanti saja? Ah, ini memang sudah kesalahan besar sedari awal.

“Gimana kabar sekolahmu, dek?”
tanyanya yang sejak lima menit lalu duduk manis di bangku kayu warung nasi Lek Somad. Aku tertunduk. Lesu. Tak bergairah menjawab pertanyaannya. Basa-basi yang tak menarik. Meskipun aku suka sekali mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu. Adik. Aku sangat tahu, panggilan itu melambungkan hatiku, tetapi sekaligus menjatuhkan sebagiannya. Aku hanya dianggapnya adik.

“Baik”
akhirnya keluar juga satu kata dari bibirku. Kenapa aku selalu saja terbata-bata didepannya. Tidak kemarin maupun sekarang. Tidak suara maupun mimik muka. Semuanya serba kaku. Dia selalu berhasil membuat ulah.

“Bapak sama Bu’e pasti lagi kerja ya sekarang. Mbak bakal kangen banget sama sawahmu, dek. Kangen liatin Bapak sama Bu’e nanem padi, duduk-duduk di gubuk tiap sore.”

Aku tidak pernah berani menatap wajahnya lama-lama. Namun, kali ini aku tergoda dengan suara lembut yang menyimpan rindu teramat besar terhadap desaku. Terhadap waktu yang mempertemukan wajahmu dengan sore hari di ladang. Aku mencuri-curi pandang. Dia tertawa kecil setelah selesai mengingat sedikit memori tentang kedua orang tuaku dan pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari. Kulihat matanya menerawang jauh ke depan. Ke arah ladang luas di depan warung nasi. Aku duduk di depannya, dan dengan leluasa mengamati setiap gerak tubuhnya.

“Nanti, apapun yang terjadi, kamu harus tetep kejar impianmu ya. Mbak pengen lihat kamu di Kota besar sana pakai toga. Nanti Mbak akan tunaikan janji Mbak setelah kamu bisa pegang cita-citamu disini..”
matanya langsung tertuju tepat di dua manik mataku, seraya mengepalkan tangan kananya. Aku tak kuasa menghindar. Segera kualihkan pandangan ke tangan kanan yang ditunjukkannya padaku. Ah, bagaimana caranya aku bisa menangkap mimpi-mimpiku jika kau tidak ada bersamaku lagi?

Kepalaku kembali terkulai. Menunduk semakin dalam. Aku tidak boleh menangis sekarang. Tidak disini. Dia selalu berpesan agar anak laki-laki jangan cengeng.

“Jo…”
dia memanggilku. Kali ini bukan dengan panggilan Adik seperti biasa. Aku tidak juga mengangkat kepala. Ini sungguh kekanak-kanakan. Sebetulnya aku ingin sekali mengucapkan selamat tinggal dengan wajah merona bahagia di hadapannya. Tapi tidak pernah bisa. Dia pasti sedang menatapku lekat-lekat sekarang.

“Maafin Mbak ya.. Mbak harus kembali ke Jakarta besok pagi, setelah subuh. Jojo mau antar Mbak ke Kabupaten? Kita jalan-jalan dulu sebentar. Pasti pasar udah ramai.”
Ia coba menyadarkanku yang 100% tidak sedang melamun. Aku memang tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih dari seorang Adik kepada Kakaknya. Tidak akan pernah bisa. Ya Tuhan, apakah aku benar-benar menangis? Semoga saja dia tak melihat air mataku yang mulai menggelinding di pipi. Satu menit dia menunggu tanggapanku. Aku tak jua bereaksi apapun selain mengusap kedua pipi dengan cepat dan menyusut hidung. Ingusku mulai keluar juga. Dia diam saja. Aku hanya mendengar helaan napasnya. Sepertinya dia tahu kalau aku menangis.

***

Tepat setelah musholla kecil yang berjarak 50 meter dari rumahku menyelesaikan sholawatan selepas sholat subuh berjamaah, aku segera berlari menuju rumah Bapak yang ia tempati selama berada di desa ini. Aku melihat rumah itu sepi. Lampu-lampu sudah dimatikan. Oh, mungkin saja ia sedang bersiap-siap membereskan pakaian, pikirku. Aku tak berani mengetuk. Aku masih malu. Kututup pertemuan kemarin sore di warung nasi Lek Somad dengan sangat buruk. Aku pergi begitu saja setelah memberikan alasan paling bodoh kepadanya.

“Jojo pulang dulu Mbak. Tadi Bapak nyuruh Jojo bersihin kandang banyak (soang). Nyuwunsewu..”
mengucapkan salam pun tidak. Padahal aku tahu, ia sudah mengajarkan banyak hal baik kepadaku dengan sabar. Jangankan mengucapkan salam, melihat wajahnya pun tidak.

Pagi ini aku hendak meminta maaf padanya. Aku ingin sekali menjelaskan bahwa kemarin aku hanya merasa sedih karena dia akan pergi. Entah kapan bisa kembali lagi kesini. Aku juga ingin mengantarnya ke Kota Kabupaten. Menghabiskan waktu sebentar saja. Sekedar berjalan-jalan dan berfoto dengannya. Dia suka sekali memoto apapun. Entah apa pasal, setiap foto itu selalu membuatnya tertawa.

“Ini namanya kamera digital, dek. Jojo bisa ngambil gambar pake ini. Kayak gini nih contoh fotonya. Mbak ajarin ya cara pakenya.”
Dia memperlihatkan beberapa foto berlatar ladang milik Bapak yang hijau dan ada Bu’e disana sedang duduk santai di gubuk. Aku terkesima melihat benda ajaib ini. Dua bulan yang lalu, tepat satu hari setelah ia menjejakkan kaki di tanah kelahiranku, Magelang.

Garis-garis batas di kaki langit menyadarkan kakiku yang sudah berdiri lebih dari 30 menit. Aku menunggu di depan pekarangan, tak berani menginjak teras. Ini sudah lewat dari waktu fajar, dan ia tak juga muncul. Sebentar lagi matahari mulai meninggi, tinggal menunggu dengan hitungan jari. Kemarin dia bilang harus berangkat pagi sekali, sebelum langit terang.

Sekarang bagaimana? Dia tak jadi pergi-kah? Aku sudah terlanjur dihinggapi rasa senang, tapi bercampur kekhawatiran. Mungkin saja memang benar dugaanku dia tidak jadi pergi. Seulas senyum bertengger di bibirku. Sebelum senyum itu benar-benar lenyap, kulihat dari kejauhan Bu’e berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahku. Wanita berusia 40-an yang masih terlihat sehat dan kuat itu menjinjing jarik (kain batik yang digunakan sebagai rok) agar langkahnya cepat dan lebar. Wajahnya diliputi kecemasan.

Le..Le.. iki.. nduwene Mbak Kinanti.. piye yo Jo? Aduh, Bu’e wedhi.. kan Mbak-mu kuwi ra’ mrene meneh. Piye ki?” (Nak.. Nak.. ini punya Mbak Kinanti.. gimana ya, Jo? Aduh, Bu’e takut.. kan Mbak-mu nggak kesini lagi. Gimana ini?)

Ibuku menunjukkan sebuah buku kepadaku. Aku tahu itu memang buku yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia selalu membaca buku itu di waktu senggang.

“Nggih mpun, dibale’ke mawon tho, Buk.. Mriki, kulo paringi Mbak’e..” (Ya sudah, dikembalikan aja, Bu.. Sini, saya kasihin Mbak-nya)

Aku meraih buku itu dari tangan Bu’e dan beranjak menuju pintu rumah yang ia tempati. Hendak kukembalikan buku itu. Sebelum melangkah, Ibu sudah menghentikanku.

“Lho? Mbak Kinanti kan wis mulih, Le.. Mau pamitan karo Bu’e pas koe isih ning mesjid. Jarene kesusu selak ono opoo ngono ning Kuto kono.. Lha mau Bu’e kiro koe wis ketemu. Durung tho?” (Lho? Mbak Kinanti kan sudah pulang, Nak.. Tadi pamitan sama Bu’e pas kamu masih di masjid. Katanya buru-buru ada apaaa gitu ni Kota sana.. Tadi Bu’e kira kamu sudah ketemu. Belum toh?)

Aku terpaku. Dia sudah pergi. Tidakkah meninggalkan apapun untukku? Sepatah atau dua patah kata? Sementara dia pergi, aku hanya disisakan kesedihan yang meletup-letup. Ingatan itu berkelebat cepat. Bagaimana ia membuat masjid di desaku menjadi ramai dengan suara nyaring anak-anak mengaji. Bagaimana ia memapahku mengenal dunia. Berjuang keras membantuku meninggalkan kenakalan demi kenakalan yang telah membuatku lumpuh total selepas SMP.  Aku putus sekolah dan lebih memilih menghabiskan hidup dengan merokok, nongkrong, bermain tak tentu waktu.

Ia datang dengan banyak cita. Hadir dihadapanku dengan tekad yang tak pernah surut. Seolah-olah Tuhan menghadirkannya khusus untuk masa depanku. Mulai dari mengharuskanku memiliki banyak mimpi. Termasuk membantuku belajar dan memaksaku mengikuti ujian kejar paket. Ia berharap, kelak aku bisa segera melanjutkan pendidikan dengan memakai seragam putih-abu. Aku terbiasa dengan dua bulan yang -entah mengapa- terasa begitu cepat. Terlalu cepat mungkin.

desa

Pagi itu keramaian desa terasa begitu senyap ditelingaku. Kepergian fajar hanya menyisakan kabut dan tidak lagi sejuk. Meninggalkan dekapan paling dingin yang pernah kurasakan. Sebanyak dan sebesar apapun upaya matahari mencari celah. Sesegar apapun air pegunungan melimpah ruah menghidupi sawah. Setiap jengkal pagi seperti menyeruak, menggedor-gedor hendak membangunkan isi kepalaku yang larut bersama langkahnya. Tetap saja, ia tetap meninggalkan seberkas luka. Hanya menyisakan sebuah buku bertuliskan “Ranum” di sampul depannya.

***

Hal yang paling sering kulakukan ketika tiba di desa ini hanyalah dua. Pertama, duduk setiap sore di gubuk tua di tengah ladang; menghabiskan sisa senja bersama sebuah kamera dan mushaf kecil. Kedua, membeli sepucuk amplop setiap akhir pekan. Mungkin yang kedua ini terdengar aneh? Kurasa tidak.

Aku harus menuliskan banyak sekali cerita. Ada yang nyata dan tidak. Melalui tulisan-tulisan yang kubuat itu, kukirimkan ke kota. Kota Jakarta, tempat kuliahku. Ah, aku lupa. Buku yang selalu kubawa itu. Itu adalah buku milikku. Maksudku, itu adalah buku yang kutulis sendiri. Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu impian terbesarku yang satu itu. Kita bisa saling berkirim surat dengan amplop ini bukan?

Nah, untuk adikku, Jojo..
Kau harus bisa melebihi apa yang sudah kulakukan itu. Seperti menulis buku, yang ternyata diam-diam kau juga suka membacanya. ^_^
Kau harus bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Bukankah kau ingin sekali kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Ibukota? Aku tunggu ya..

Salam Semangat,
Putri Mutiara Kinanti

Sepucuk amplop model jadul tergeletak di atas meja, di dalam kamarku yang reot. Amplop yang tepiannya bergaris merah dan biru. Bu’e pasti yang meletakkannya disini. Ini pasti surat darinya. Pasti. Aku segera membacanya. Tergesa-gesa. Menyimpan rasa penasaran yang luar biasa mengganggu. Setelah membacanya, kudekap buku miliknya erat-erat. Sosoknya menjelma buku ini. Aku harus menyimpannya baik-baik. Suatu saat kelak, akan kuantarkan buku ini padanya langsung.

Kurasa, ia tak hanya meninggalkan buku ini saja. Ia meninggalkan banyak sekali jejak dalam kepalaku, dalam diriku. Jiwa mudaku yang meletup-letup digiringnya menuju janji masa depan yang lebih baik. Aku patuh. Dan pada suatu masa nanti, aku akan menuai apa yang ia telah tanamkan dalam jiwaku.

Mbak Kinanti.. Akan kubalas suratmu dengan membawa serta bait-bait Ranum milikmu. Tidak melalui pos atau apapun yang menjaraki kita. Oh, tapi bagaimana kutahu alamatmu? nomor teleponmu saja aku tak tahu.

Aku tak peduli.
Aku kan menyusulmu, Mbak.
Dengan segala cara..

bagian pertama
Selasa, 13 Agustus 2013
6 Syawal 1434 H
01:45 WIB

Advertisements

2 comments

  1. sdh lama ndka lihat amplop spt di atas 😛

    semangatnya boleh ditiru nih buat menyusul mbak Kinanti walau nggak tahu alamatnya

    1. amplopnya masih ada mbak, di beberapa warung 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: