Mengenal Lebih Dekat Keluarga Imron

67823

Gambar: ilustrasi

Satu lagi kisah dalam Al-Qur’an surah Ali Imran yang sangat menginspirasi siapapun pembacanya. Jelas, ini bukan kisah sembarang kisah. Kisah ini adalah sebuah catatan sejarah dan akan terus terulang di masa kini maupun masa depan. Ada nilai yang patut dicatat; persembahan kepada Allah.

Mari kita berkenalan dengan Imron dan keluarganya. Mereka patut menjadi tauladan dalam membina rumah tangga, sekaligus menyiapkan masa depan seorang anak.

***

Imron masih keturunan Sulaiman as. Istrinya bernama Hannah. Sampai umur senja keduanya belum dikaruniai anak. Pada suatu ketika, Hannah melihat burung yang sedang memberi makan anaknya, sehingga muncul keinginan yang sangat kuat dalam hatinya untuk mempunyai anak. Singkat cerita hannah pun hamil.

(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat. Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Ali Imran: 35]

Mari kita perhatikan..
Anak yang masih belum jelas kemunculannya. Akan tetapi, Hannah sudah bertekad untuk menjadikan anak tersebut sebagai anak yang mendedikasikan kehidupannya untuk berkhidmat kepada Allah. Berbeda sekali dengan sebagian orang tua zaman sekarang. Sebagian besar, fikroh atau pikiran orang tua era milenium telah tergerus oleh impian tanpa orientasi jelas. Kejelasan orientasi ini dimaksudkan sebagai tujuan yang tidak hanya menghasilkan kehidupan mapan; pekerjaan nyaman, rumah pribadi yang besar, mobil bagus, gaji/penghasilan bulanan diatas 10 juta, dan sebagainya. Bukan itu. Menurut saya, ini bukan tujuan jelas, sama sekali tidak visioner.

Mengapa?
Kita lupa dengan sebuah visi abadi, di dalam rencana-rencana masa depan manusia yang pelan-pelan mulai terkubur pasir modernisasi dan globalisasi. Setelah kematian, masih ada kehidupan abadi yang menanti dengan segenap balasan adil dari Allah. Visi untuk kehidupan abadi inilah yang harus paling besar dan paling matang persiapannya. Bukankah begitu? 🙂

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Hannah menyiapkan anaknya untuk berkhidmat kepada Allah. Berkhidmat disini bukan berarti harus menjadi seorang ustadz atau ulama. Jangan pernah terpaku dengan mainstream. Profesi apapun yang akan digeluti seorang anak, maka orang tua tidak boleh lupa untuk menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri mereka sejak dini, bahkan sebelum anak lahir. Inilah yang dilakukan oleh Imron dan istrinya. Oleh karena itu, semenjak belum lahir, kita harus mempersiapkan agar anak kita kelak menjadi hamba yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. That’s it! Salah satu contoh visi abadi yang melekat pada misi sepasang suami-istri. 🙂 It’s awesome.. Do you think so?

Jika anak itu menjadi seorang pengusaha, maka dengan hartanya ia bisa berjuang di jalan Allah. Jika anak itu seorang ulama, maka dengan ilmunya ia bisa berjuang di jalan Allah. Itulah intinya.

Adapun cara untuk mewujudkannya, banyak dijelaskan di ayat lain dan juga dijelaskan dalam hadits.

Kita simak ayat setelahnya,

Maka tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”. [Ali Imran: 36]

Pada awalnya, Hannah mengharapkan seorang anak laki-laki karena menurutnya anak laki-laki lah yang akan mewujudkan impiannya. Dikarenakan laki-laki adalah imam, penerus nama keluarga dan semua nabi adalah laki-laki. Namun, Allah swt berkehendak lain. Allah memberikannya anak perempuan. Tanpa mempertanyakan keputusan Allah, Hannah pun lantas dengan suka cita memberikan nama Maryam dan memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan bagi anaknya.

Seringkali seseorang merasa kecewa ketika anak yang dilahirkan tidak sesuai dengan angannya, maka tidak demikian dengan Hannah. Seringkali, orang tua lupa memohon perlindungan untuk anaknya ketika anak tersebut dilahirkan. Contohlah Hannah.

Doa Hannah pun bukan hanya untuk anak yang telah dilahirkannya, tetapi juga untuk keturunan anak tersebut. Maka, tidaklah cukup bagi seseorang untuk memperhatikan masa depan anaknya, bahkan ia juga harus memperhatikan keturunan sesudahnya. Ini juga persiapan jangka panjang yang banyak luput dari susunan rencana masa depan kita.

Ada pertanyaan yang timbul, mengapa nama Imron tidak banyak disebut?
Ya. Kita yakin bahwa Imron berhasil mendidik istrinya dengan baik. Ketika seseorang mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang luar biasa, hal tersebut tidak lantas menjadikan orang tersebut dikenal khalayak luas. Namun, seluruh penghuni langitlah yang akan sibuk membicarakan namanya. Membicarakan amalan-amalannya yang menguarkan wewangian. Tak ada sebaik-baik balasan selain keridhoan Allah dan surga. 🙂

***

Hikmah lain, Alloh menunjukkan peranan seorang ibu dalam keluarga. Kita tahu bahwa laki-laki lebih unggul dari wanita dalam beberapa hal. Namun, harus kita ketahui pula bahwa wanita pun lebih unggul dibanding laki-laki dalam hal lain.

ibuLantas, mengapa Alloh memberikan seorang anak perempuan kepada Hannah? Apa hikmahnya?

Bukan hanya laki-laki yang akan meneruskan dakwah, menyampaikan kebenaran, dan menjaga bumi sebagaimana telah Allah tugaskan kepada seluruh manusia untuk menjadi Khalifah. Bukan hanya laki-laki yang akan memperbaiki umat. Perempuan pun memiliki andil dan tugas yang sangat besar.

Dari Maryam lah lahir Isa as. Dari perempuan juga muncul Imam Syafi’i, Al-Ghozali, dan orang-orang hebat lainnya.

Nah, oleh karena itu, dalam sebuah keluarga, tugas utama seorang suami adalah mendidik istrinya, sehingga sang istri mampu mendidik anaknya dengan baik. 🙂

***

Indah sekali ya kisah keluarga ini. Bagaimana murninya sebuah keikhlasan dalam diri Hannah, tanggung jawab besar pada pundak Imron sebagai kepala keluarga, seolah mencerminkan bagaimana Islam begitu cantik bersinar dari kesederhanaan dan visi panjang Imron beserta keluarganya.

Adakah kita telah mencontoh mereka?

Wallohu’alam bisshowab

hari penuh introspeksi
Ahad, 25 Agustus 2013 (18 Syawal 1434 H)
21:04 WIB

Advertisements

6 comments

  1. Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

    Sungguh ini pemaparan yang menarik tentang keluarga visioner.

    1. masyaaAllah! seandainya seluruh manusia, terutama yang sering bertanya-tanya tentang bagaimana seharusnya membina sebuah keluarga harmonis dan hebat, maka tiadalah yang dapat menandingi hikmah indah dalam Alquran. Padahal kitab ini sudah diturunkan ribuan tahun yang lalu. Sayangnya, kita (terutama saya) sedikit sekali mengkajinya. 😦

  2. Ma Syaa Allah. Ini artikel sudah diposting 2014; tapi saya baru nemu hari ini, 2016.

    Berawal dari kegiatan rutin kultum di Pesantren Sintesa dengan bahasan tentang waktu mustajab berdo’a …

    … seorang rekan menjelaskan ‘cara kerja’ Allah dalam mengabulkan. Beliau menyinggung kisah keluarga ‘Imran ini dengan sebuah hikmah dari ibn Ath-tha’illah dalam kitab Al-Hikam,

    “Jika dibuka kepada kamu pintu kefahaman tentang penolakan, niscaya berubah penolakan itu menjadi pemberian.” (Ibn Atha’illah)

    Do’a pasti terkabul, dan yang sering kita anggap ‘penolakan’ dari Allah sesungguhnya adalah pembuka jalan.

    Seperti halnya Hannah yang terlihat ditolak ketika meminta anak laki-laki, tetapi malah melahirkan wanita termulia dalam Al-Qur’an.

    Alangkah baiknya Allah swt. kepada kita.
    Alangkah tidak tahu terimakasihnya kita.

    Terimakasih, mbak, artikelnya menjelaskan dengan bahasa yang renyah. 🙂

    1. 2013 maksudnya he he

  3. Alhamdulillah akhirnya saya tahu inti dari surah Al imran,makasih informasinya mba

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: