Menjadi Mengerti

Dua hari saja..
Dua hari yang menjabarkan bagaimana rupa hatimu. Aku jadi tahu siapa kamu sebenarnya.

Aku ingin sekali menuliskan cerita ini dengan kata-kata lucu, seperti lawakan televisi. Aku ingin saat membaca tulisan ini, kau akan memegang perutmu yang bergoyang menahan tawa. Urung, aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Tentang dua hari yang -entahlah- menurutku itu bingkisan di akhir liburan panjang. Aku dan kamu, bisa menikmati perjalanan.

Kita banyak sekali menghabiskan makanan dan minuman. Mulai dari es pocong (dan aku lebih memilih pocong, tanpa es), 3 jenis adonan kopi (yang tak kutahu bagaimana rasanya sampai aku mencoba dan akhirnya menghasilkan berbagai macam bentuk wajah), mushroom cream soup, pasta, dan banyak lagi.

Saat kita ke toko buku, lalu mencarikanmu sebuah jawaban tentang Passion. Aku senang sekali menjadi bagian dari akar-akar masa depanmu, impianmu. Aku tidak tahu, apakah buku yang kau temukan pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan besar dalam hidupmu itu? Habits..

Ini perjalanan hebat. Bahwa kita telah memiliki waktu untuk dikisahkan kembali dalam ingatan. Kita telah memiliki sebongkah nafas yang menyatu, hingga di kemudian hari akan ada rindu yang pantas untuk diceritakan.

Dua hari
Lama yang singkat dan sengatan pukul 12 abai sudah. Kita hanya punya kenikmatan untuk menikmati. Bukankah kau suka sekali dengan dagelan yang kubuat sedemikian rupa? Kemudian kita akan tertawa dan saling bertanya, “setelah ini akan kemana lagi?” atau “kita akan makan apa lagi?” Begitu saja terus, sampai kita benar-benar bosan dengan kepuasan. Lalu tak ada jalan lain selain pulang. 🙂

journeyKita berangkat dengan rasa senang. Tak ada yang lebih hebat dari -salah satunya- perjalanan. Kita memiliki banyak tempat untuk disinggahi, dan dihadapkan pada satu keputusan. Kita memiliki banyak cara untuk memahami, dan dibentangkan pada satu prinsip.

Dan perjalanan, telah membuat kita menjelma sedemikian rupa. Aku dan kamu. Kita punya banyak cerita untuk dibawa pulang. Setidaknya, aku bisa lebih tepat menempatkan diri sesuai usiaku. Tidak cengeng, tidak manja, tidak kekanak-kanakan, tidak egois, atau bahkan naif yang sangat keterlaluan? haha.. Yah, aku senang bersamamu. Begitukah denganmu?

***

Kalau saja kita punya jeda sebentar -kita memang harus punya- maka aku ingin kita berselancar. Jeda yang akan membersamai kita dalam menyusun cita. Bersama tentunya. Tidak sendiri-sendiri.

Aku pernah mengatakan sebelumnya; boleh jadi kita punya mimpi yang bisa dibangun bersama-sama. Kita hanya butuh jeda. Dua hari kemarin adalah contoh jeda yang menjadi bagian dari perjalanan menikmati waktu. Sebaik mungkin, sebermanfaat mungkin.

Lalu sekarang, apa kabarmu? 😀
Kita sudah kembali ke putaran rutinitas yang bisa dibilang menjemukan. Sangat atau cukup? Simpan saja jawabanmu. Jangan katakan padaku.

Aku ingin setiap melihatmu, yang kuingat hanya jeda. Bagaimana kita begitu riangnya menikmati saat-saat meluruskan kaki dan meregangkan urat syaraf. Biarkan air matamu, keluhmu, kau tujukan saja pada Allah. Aku takkan membuatmu merasa puas, tenang, bahkan aku takkan mampu menjawab kesahmu. Maafkan aku.

***

Aku tak pernah mengangggap sebuah jeda sebagai permainan. Sekedar menjemur lelah, lalu selesai. Tidak, bukan begitu. Sekali lagi, jeda kita -dan jeda-jeda berikutnya yang mungkin akan kita lalui lagi setelah melampaui titik jenuh- merupakan sebuah keniscayaan. Ia akan membantumu menemukan potongan kepribadian, sikap dalam setiap keputusan dan semua yang akan kau jalani dalam hidupmu. Kau tahu apa yang kau perlukan untuk itu?

Keberanian..
Kau hanya perlu itu. 🙂

Terima kasih untuk dua hari yang menyenangkan. Semoga Allah senantiasa merahmatimu, Hanif dan Diah. Semoga Allah memudahkan langkahmu memburu mimpi. Setelah lelah berlari, jangan lupa saatnya kita pulang.

Semoga kita punya jeda lagi untuk dinikmati bersama. Pada saat itu, kita akan saling memberi kesempatan pada waktu yang selalu punya rindu. Kemudian membuka kembali peta impian, dan menemukan bahwa coretan telah memenuhi setiap lembarnya. Selanjutya, kita bisa menyilakan kepuasan hadir dalam jeda.

Picture1

Dan aku menjadi mengerti siapa kamu..
bagaimana rupamu…

***

debar mendebur
Kamis, 5 September 2013
(29 Syawal 1434 H)
21:16 WIB

Advertisements

4 comments

  1. cie…iri gue :p
    btw. itu bertiga bergo style semua yak, ckckck. kece lah 😀

    1. lain kali kamu harus ikut kita ya.. 😀
      kalo bisa sih sebelum berangkat atau misalnya terlalu mendadak, insyaAllah pas kamu udah pulang. ^^

  2. gw.. baca ini lagiiiee.. jadi kangeeennnnn.. kalian. dan kebersamaan itu lagie..

    1. kapan yah kita bisa jalan-jalan lagieee??
      -_-‘ alay lu.

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: