Mengartikan Definisi

definisi-cinta

Masih ingat?

Waktu bus melaju di sore yang sumringah, kita duduk berdua di bangku kopaja reyot, di barisan kedua dari depan. Menikmati antrian panjang kendaraan yang terlihat jelas melalui kaca bus. Kita mengobrol soal rasa. Kau tiba-tiba membahas sebuah perasaan seorang manusia yang sampai sekarang pun aku belum menemukan definisi tepat. Kurasa cinta tak perlu definisi. Bukan begitu? 😀

Sulit sekali bagiku memberimu jawaban. Anehnya, semakin kau banyak bercerita, banyak bertanya, deretan pertanyaan yang tidak jauh berbeda akan semakin memburuku. Apa yang sebetulnya kuketahui soal cinta? Aku terlalu naif dan sok tahu.

“Memperhatikan dalam posisi diam, itu hal yang paling kubenci. Seperti memberi harapan dan menjebakku di kemudian hari. Jika ada yang terang-terangan menunjukkan rasa. Maka aku akan dengan mudah menghindarinya. Sejauh mungkin.. ” katamu. Aku tertawa.

“Justru di titik terlemah itulah, kau diuji..” aku bersuara. Pelan. Aku juga tidak yakin aku pernah melalui ujian semacam itu dengan mulus.

Perbincangan kita diselingi dengan lima menit diam. Kita diam dan bergumul dengan pikiran kita masing-masing. Kau dan aku, sedang mencari kata yang tepat untuk membuka kembali percakapan. Kau ingin bercerita banyak, tapi terhalang oleh sebuah pertanyaan; Untuk apa aku bercerita? Toh tak ada manfaatnya untukku, juga untuk lawan bicaraku. Hey, setidaknya aku bisa membagimu satu ilmu baru. Meskipun aku juga masih harus banyak belajar.

***

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Ali ‘Imran: 14)

Fitrah manusia untuk mencintai perkara-perkara yang syahwat. Seandainya dalam hati atau fitrah manusia tidak ada kecintaan terhadap syahwat ini, niscaya ujian dalam agama tidak ada artinya. Kecintaan yang berlebihan kepada tahta, harta, wanita, dan perhiasan dunia lainnya, sangat pasti akan menghancurkan kepribadian baik yang telah kita bangun sejak kecil.

Pernikahan pun tak akan pernah luput dari ujian itu. Para Nabi diuji dengan istrinya, seperti Nabi Nuh dan Nabi Luth. Atau sebaliknya, para wanita diuji dengan suaminya. Jika bisa melalui ujian tersebut, insyaAllah keridhoan Allah akan menyambut. Akan ada hal yang lebih baik lagi yang telah Allah siapkan untuk kita.

Kau tahu? Bagaimana rupa masa depan sebuah umat, diukur berdasarkan akhlaknya. Akhlak itu seperti cermin dari ilmu yang seseorang peroleh selama hidupnya. Maka, jangan kau lihat seseorang dari dalam dan luasnya ilmu yang ia miliki. Namun, tengoklah perangainya ketika berinteraksi dengan orang lain. Sikap dan tingkah lakunya, akan mencerminkan sedalam dan sejauh apa ilmu yang ia peroleh meresap dengan baik ke dalam jiwanya. Banyaknya ilmu yang didapat, tak akan berdampak apapun jika tak menuai kebaikan dalam setiap tingkah laku sehari-hari.

Oleh karena itu, menjaga syahwat ini menjadi begitu penting bagi kita. Ini bisa menjadi salah satu cermin bagiku dan kau, untuk mengetahui sejauh mana kita bisa mengendalikan hati dengan sebaik-baiknya. Soal ini tak semudah yang kau bayangkan.

***

Bus masih merayap pelan, membelah jalan sempit ditengah kota besar berasap tebal. Kita masih berbincang soal yang rumit. Aku merasa harus cepat-cepat melupakan keinginan untuk merasakan hal yang sama denganmu. Aku tidak mau terjebak dengan perasaan aneh, kemudian mengganggu aktivitasku. Bukankah banyak sekali teman kita di sekolah, di kampus, yang begitu jauh dan dalam terjebak sebuah kosa kata ‘cinta’? Lalu dengan bodoh menyucikan jalan bagi perasaannya untuk terlibat lebih banyak dengan lawan mainnya. Walaupun aku naif, tapi aku masih cukup pintar untuk tidak bodoh. 😀

Zuhud. Satu kata ini seperti sebuah penangkal bagi syahwat yang berkeliaran mencari tempat teduh di hati siapa saja yang lalai dari mengingat Allah. Kau perlu tahu, bahwa zuhud bukan berarti tidak memiliki. Ketika orang-orang diluar sana menyamakan zuhud dengan (maaf) gembel, rupanya makna kata itu jauh sekali dari sangkaan banyak orang.

subur

Zuhud adalah tidak bergantung. Bacalah sejarah sebagai pelajaran, sekaligus cermin masa depan. Tentang Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia adalah putra dari Abu Sufyan bin Harb, seorang penguasa, hartawan dan pedagang besar di Makkah yang menguasai perniagaan di Jazirah Arabia. Sampai akhirnya ia menjadi pemimpin negeri Damsyiq. Suatu ketika, Umar memegang jabatan khalifah. Kemudian Umar mengadakan kunjungan ke Syam termasuk ke Damsyiq. Umar mendapati Muawiyah dengan jubah mewah, kuda tunggangan yang besar dan menawan.

Dengan izin Allah, Umar tahu persis bahwa Muawiyah berpenampilan seperti itu bukan karena ia cinta harta dan tahta. Tak ada yang perlu diragukan dari bashiroh seorang Umar ibn Khattab. Perlu diketahui, bahwa terkadang (bahkan seringkali) seseorang didengar ucapannya bukan karena apa yang ia sampaikan. Namun, siapa yang menyampaikan. Maka, kemewahan yang dikenakan Muawiyah hanyalah sebatas pencitraan yang baik kepada rakyatnya. Muawiyah tetaplah berjiwa zuhud yang tak akan pernah bergantung pada harta dan kemewahan dunia.

Sesederhana apapun, mungkin sampai tampak kumuh dimata orang. Zuhud tetap terlihat cantik dalam pandangan Allah.

***

Pembicaraan kita tak pernah selesai. Bahkan sampai detik ini. Sampai aku menulis tulisan ini disini. Terkadang, perbincangan itu terlintas seper-sekian detik di dalam kepalaku. Aku seperti tengah berdiri pukul 12 malam, kemudian larut menikmati bunyi jangkrik. Krik krik krik. Aku tidak pernah berusaha mencari jawaban dari sekian berondongan ceritamu. Meskipun –kuulangi sekali lagi– akan semakin timbul pertanyaan baru dan sebagian otakku yang lain akan sibuk berkilah.

Jika ada sebagian besar orang yang hancur karena perasaan itu, maka jangan sampai kau, aku, orang-orang terdekat kita terjebak dengan fitrah yang sanggup menjerumuskan, apabila tidak dikelola dengan baik. Pahami, dan jaga fitrah kita akan syahwat dengan sebaik-baik penjagaan. Mintakan semuanya kepada Allah. Minta agar Ia menjaga jiwa kita.

Aku ingin kita berdua terbebas dari dunia yang sungguh keji. Begitu teganya ia mempermainkan manusia. Kau mungkin tak pernah tahu (dan merasa) bahwa cerita-ceritamu membuatku semakin banyak merenung dan semakin peka membaca tanda. Allah menyampaikan pendidikan melalui banyak cara.

***

Sudjiwo Tedjo pernah menuliskan dalam bukunya soal cinta. Bahwa puncak cinta yang paling tinggi adalah ketika keduanya tidak saling telepon, sms-an, bbm-an. Tetapi keduanya saling mendoakan. Sama seperti yang disampaikan Sapardi Djoko Damono, dalam kutipan puisi “Dalam Doaku”. Diakhir ia menulis, “Aku mencintaimu itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu”. Berbeda dengan Kahlil Gibran yang memiliki definisi sendiri, “..dan selalu saja cinta tidak menyadari kedalamannya sebelum saat perpisahan tiba.”

Lalu, bagaimana mendefinisikan kesadaran itu sejak awal? Agar cinta benar-benar tersadar bahwa ia dimiliki oleh setiap manusia.

Aku belum bisa dan tidak akan pernah bisa menuliskan pengertiannya. Aku hanya bisa berbuat. Membuktikan dan mendefinisikannya dengan perbuatan. Dan aku tidak pernah benar-benar menyadari bahwa itu cinta. Aku hanya ingin Allah tunjukkan dengan cara apapun yang di kemudian hari, aku hanya memahami bahwa Allah telah mendidikku dengan caraNya yang Hebat.

Begitukah menurutmu?

***

berjalan pelan
Bogor, 15 September 2013
Ahad, 9 Dzulqo’dah 1434 H
20:46 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: