Mendidik Fitrah

hand,fun,flower,graf,love,black,and,white-2c68794e5bb05779548c725542a069ff_hManusia memiliki beragam cara untuk menghendaki dirinya sendiri. Kehendak itu bisa berupa pola linier maupun diagonal. Tergantung diri kita mengarahkan kehendak itu menjadi hal baik dan tak menyakiti siapapun. Kehendak yang muncul, dalam bentuk apapun, baik atau buruk, tidak lantas terjadi dengan sendirinya atau mampu berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari sebuah ‘pendidikan’. Seperti apa rupa ‘pendidikan’ itu hingga sanggup mecetak pola kehendak dalam diri manusia?

Mendidik Akal atau Pikiran
Kehendak muncul sebagai sebuah akibat dari akal atau pikiran yang menginginkan suatu hal. Akal atau pikiran ini telah Allah ciptakan untuk manusia sebagai bukti bahwa Allah menempatkannya sebagai makhluk paling mulia. Melalui apa yang telah Allah tanamkan sejak awal masa penciptaan manusia itu, maka muncullah cara berpikir yang terbentuk berdasarkan pola pengasuhan maupun pola pendidikan dari orang tua dan pengaruh lingkungan.

Mendidik akal tidak lain adalah mengaktualkan potensi dasarnya. Potensi dasar itu sudah ada sejak manusia itu lahir dalam bumi, tetapi masih berada dalam alternatif: berkembang menjadi akal yang baik atau sebaliknya. Dengan pendidikan yang baik maka akal yang masih berupa potensi itu akhirnya menjadi akal yang dapat digunakan, tapi dengan pendidikan yang buruk, akal menjadi fatal akibatnya. Karenanya pendidikan akal mempunyai arti yang penting. Ilmu pengetahuan menjadi titik kritis dalam poin ini.

Mendidik Jasmani
Well, seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa mendidik jasmani sama dengan melatih fisik. Secara harfiah maupun dalam pelaksanaannya, bentuk pendidikan fisik yaitu berupa olah raga. Jelas.

Mendidik Ruh atau Jiwa = Mendidik Fitrah
tangan-wuduIni adalah klimaks dari poin keseluruhan. Mendidik bagian ini membutuhkan kesabaran, proses panjang, dan hasil yang tak bisa dilihat secara jelas dengan panca indra. Jiwa manusia harus dibangun kembali dengan kesungguhan. Suburkan iman, memaknai kembali rasa takut kepada Allah, menanamkan kembali rasa kebersamaan dengan Allah di dalam hati, dan menjaga rasa itu dalam keadaan apapun sampai masa hidup kita selesai.

Bangun kembali sifat-sifat baik yang telah ada pada diri manusia. Kebaikan adalah sifat universal, dapat diterima banyak orang, sebesar apapun perbedaannya.

Membangun jiwa manusia dengan rasa benci pada kekufuran dan kejahatan serta kedzaliman. Suburkan kembali sifat-sifat yang terpuji yang telah Allah berikan. Suburkan rasa tauhid; rasa bertuhan di dalam hati.

Apabila hati manusia telah terdidik, yaitu kembali ke fitrah alaminya, maka raja dalam diri manusia telah terdidik menjadi baik. Apabila raja di dalam diri manusia telah terdidik menjadi baik, maka ilmu pengetahuan yang telah memenuhi akal pikiran akan diarahkan dan ditundukkan kepada Allah SWT. Begitupun sebaliknya.

Wallahu’alam bisshawab

***

brrrrrrr
Bogor, 2 Oktober 2013
(26 Dzulhijjah 1434 H)
17.45 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: