Sehari Bersama Syaitan

sendiriAku mengintai syaitan. Kudapati ia mengikatku di setiap jalan yang dapat mengantarkanku ke surga. Ia mendatangiku seperti diberitakan Allah dalam Al-Qur’an; dari kananku, dari kiriku, dari hadapanku, dan dari belakangku.

Tapi ia tidak bisa mendatangiku dari atas, dan tidak akan mampu menghalangiku dari permohonan selamat kepada Rabb-ku.

Aku perhatikan, keimanan itu bak sebuah benteng yang melindungiku dari syaitan. Namun, pada dinding benteng itu terdapat lubang-lubang yang bisa dijadikan sela untuk masuknya syaitan. Lubang itu diantaranya adalah kesombongan. Ia memiliki rongga-rongga yang nyaris tak terlihat. Seorang mukmin harus waspada terus-menerus untuk menjaga bentengnya. Menutup semua lubang dengan teliti.

Bisa saja, syaitan menanti saat-saat buruk dengan menyibukkanmu dari kewaspadaan, sehingga ia masuk melalui lubang lain. Itulah yang terjadi pada diriku, ketika aku percaya padanya bahwa sholatku telah batal. Syaitan justru masuk pada diriku melalui celah ujub atau sombong. Ia memperlihatkan padaku bahwa sholat yang aku lakukan itu diterima dan telah sempurna.

***

Kondisiku dengan syaitan pada hari itu, mencatat sejumlah peristiwa yang mengharuskanku untuk tetap siaga. Kusebutkan diantara peristiwa itu, misalnya tentang was-was yang terus-menerus dihembuskan syaitan. Ia berusaha agar aku marah kepada Allah, dan melupakan nikmat-nikmatNya.

Saat itu, aku melewati sebuah jalan dan bertemu dengan seseorang yang dahulunya adalah teman di satu sekolah. Pembicaraan kami berkembang hingga ia menceritakan bahwa dirinya kini sudah memiliki kedudukan terhormat, harta berlimpah.

Ketika itu, syaitan berkata kepadaku, “Lihatlah itu.. Mengapa engkau dengan ilmu dan kemuliaan dirimu itu tidak memperoleh harta dan kedudukan? Apa salahmu sehingga takdirmu tidak seperti dia?”

Kukatakan kepada syaitan,
“Diam, kau musuh Allah. Engkau ingin aku kufur terhadap nikmat Allah atas diriku? Apakah di dunia ini ada seorang manusia yang memperoleh semua kebaikan yang ia inginkan, sehingga tak ada orang lain yang melebihinya?

Mengapa aku harus melihat pada orang ini dan tidak memandang pada orang lain sepertiku yang juga memiliki ilmu dan sikap baik? Mereka juga tidak mempunyai kedudukan dan tidak mempunyai harta banyak. Mengapa engkau ingin mengajakku untuk melihat yang lebih tinggi dariku dalam urusan dunia, untuk iri kepadanya??”

Mengapa engkau tidak mengarahkanku untuk lebih melihat orang yang berada di atasku dalam hal agama? Mengapa aku harus berdesakan untuk meninggikan derajat di dunia yang tidak kekal? Mengapa aku iri dengan orang ini yang hartanya lebih banyak dari hartaku dan tidak iri kepada orang yang sholatnya lebih banyak dari sholatku? dan memperoleh pahala lebih banyak dariku, serta memiliki simpanan kebaikan yang lebih besar dari simpananku?

Mengapa aku iri kepada hartanya dan tidak iri kepada ilmu yang aku miliki? Bukankah ilmu, manusia, dan kepandaian itu adalah sama halnya dengan nikmat harta dan jabatan?

Mengapa engkau meremehkanku?
Alhamdulillah.. aku tidak meremehkan diri sendiri sedikitpun, karena aku mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kesehatanku baik, aku hidup dalam damai di rumah, aku tenang dalam bekerja, aku ridha dengan Rabb-ku. Aku tidak ingin apapun kecuali meminta kepada Allah agar engkau menjauhiku!”

***

bisikam setan menyesatkanSyaitan terus-menerus mengikutiku, melalui cara membangkitkan syahwatku. Saat menaiki kereta api, aku bertemu dengan perempuan Prancis yang cahaya wajahnya seperti rembulan. Perempuan itu membuka bagian dada, betis, dan kakinya. Aku berniat untuk mencuri-curi pandang kepadanya. Tapi aku teringat hadits tentang dua jenis pandangan; yang pertama itu adalah bagianmu, dan yang kedua itu adalah dosa atasmu.

Maka, kutundukkan pandanganku dari perempuan itu. Kualihkan pandanganku ke jalanan dan mencoba berpikir tentang masalah lain. Tapi, syaitan datang dengan menggiringku untuk tetap berpikir tentang perempuan tadi. Syaitan mendatangkan ingatanku tentang sosok perempuan itu dengan bentuk yang tak mungkin kuuraikan. Meskipun kuyakin para pembaca pasti mengerti bayangan apa yang hadir ketika itu dalam pikiranku. Astaghfirullah..

Akhirnya, aku mencuri pandang lagi ke arah perempuan itu. Tapi aku segera teringat dan tersadar, seraya memohon perlindungan kepada Allah; A’uudzubillahiminasy syaithaanirr rajiim.

Aku membaca sebuah ayat Al-Qur’an, surat Ghafir ayat 19; Ya’lamu khaa-inatal a’yuni wa maa tukhfii ash shuduur. (Allah mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan di dalam hati)

Aku kagum dengan petunjuk kemukjizatan yang ada dalam ayat ini. Hanya dengan dua kata saja, ayat itu menjelaskan kondisi lubuk hati manusia. Khaa-inatal a’yun; pengkhianatan mata. Sungguh, aku telah mengkhianati mataku. Betapa indahnya susunan kata Al-Qur’an.

***

Ketika aku merasakan bahwa pertarunganku dengan syaitan berlangsung terus, dan aku khawatir bila tidak mampu bertahan, maka kuputuskan untuk lari dengan membawa agamaku. Aku turun dari kereta untuk menunggu kereta yang lain.

Pengalaman ini kualami saat aku berusia 50 tahun….

Bagaimana bila dialami oleh pemuda berusia 20-an atau 30-an tahun?

***

kisah Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya “Yaumun Ma’a Syaithan”
dengan sedikit editing bahasa 🙂
Rabu, 9 Oktober 2013
(4 Dzulqaidah 1434 H)
19:45 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: