Letters to Karel #4

Dear Karel,   

Jika kamu mencintai seseorang, dan orang itu menginginkan sesuatu dari kamu, kalau kamu memang benar-benar mencintainya, selama keinginannya itu baik, bersegeralah kamu memenuhi keinginannya, Sayang. Sebelum semuanya terlambat. Jangan seperti yang abi lakukan terhadap umi kamu. Abi gagal memenuhi permintaan terakhir umi.

***

Umi tak pernah menuntut sesuatu di luar batas kemampuan abi, Sholeh. Selalu menerima apa adanya, jarang sekali mengeluh. Dulu semasa kuliah, kami sering sekali bertengkar, berbeda pendapat satu sama lain. Tapi setelah menikah, belum pernah sekalipun umi membantah abi. Selalu menurut. Selalu merasa perlu meminta pertimbangan abi atas keputusan yang diambil. Selalu minta izin jika keluar dari rumah. Bahkan kalaupun keluarnya masih di area komplek rumah. Jika ada perbedaan pendapat diantara kami, umi lebih sering mengalah. “Ya udah kalau gitu, bagaimana abi saja.” Begitu jika umimu mengalah. Atau jika perbedaan itu prinsip sekali menurut umi, biasanya umi memilih waktu-waktu yang tenang untuk membicarakannya, untuk memperjuangkan keinginannya, setelah ritual sepertiga akhir malam keluarga kecil kita. Padahal, umi lebih tua daripada abi, walaupun hanya selisih 8 bulan. Padahal, tingkat pendidikan umi lebih tinggi daripada abi.

Jika umi marah atas sikap abi yang sudah keterlaluan, dia tidak pernah melampiaskan kemarahannya dengan suara, Sayang. Dengan berkata yang tidak-tidak. Umi lebih memilih menangis atau mendiamkan abi. Dan pasti sudah meminta maaf terlebih dulu dalam waktu kurang dari 24 jam. Meminta maaf atas kekanak-kanakannya mendiamkan abi, atas kecengengannya menangis, lalu mulai menceritakan kenapa dia marah, mana sikap abi yang keterlaluan. Besoknya sudah seperti biasa lagi. Umi sering bilang kalau dia ingin selalu menjadi isteri yang baik, isteri yang mendapatkan ridho dari suaminya. Sesering dia meminta maaf kalau ternyata ada kewajiban yang terlupakan. “Maaf ya abi, umi belum bisa jadi isteri yang baik.”

Nah, Karel, sehebat apapun kamu kelak, sepintar apapun kamu, setinggi apapun kedudukan kamu, pastikan kamu mengerti apa peran kamu, Sayang. Dan bagaimana seharusnya kamu menjalankan peran itu sebaik mungkin. Bukan berarti karena kamu pintar, punya kelebihan, punya kedudukan yang tinggi, lantas kamu bisa seenaknya menjalankan peran kamu di setiap tempat. Di keluarga, kamu harus selalu jadi anak yang baik lagi berbakti, Sholeh. Tak peduli seberapa hebatpun kamu di luar sana. Sebagaimana umimu selalu berusaha untuk menjadi isteri dan ibu yang baik di keluarga kecil kita.

Pernah suatu ketika, selesai sholat dzuhur di mushola yang lumayan jauh dari rumah, abi diundang untuk menghadiri syukuran tetangga samping mushola, abi tak membawa hp waktu itu. Dan tak sempat pulang untuk memberitahu umi. Acaranya hampir satu jam. Kamu tahu apa yang terjadi, Sayang? Umi menjemput abi ke mushola sambil menangis, khawatir karena yang umi tahu abi pergi untuk sholat, dan bisanya tidak selama itu. Bahkan umi sudah menghubungi beberapa teman abi, termasuk orang-orang yang terakhir abi hubungi lewat hp, menanyakan keberadaan abi. Di lain kesemptan, ketika abi ada pekerjaan ke luar kota, lebih lima menit saja dari waktu yang abi janjikan tapi abi belum ada di rumah, dan abi tdak bisa dihubungi karena hp mati atau silent, umi pasti langsung menghubungi rekan kerja abi, menanyakan keberadan abi, khawatir kenapa-napa.

Karel, memiliki berarti kamu harus bertanggungjawab atas apa yang kamu punya, Sayang. Entah itu barang apalagi orang. Jika kamu memiliki keluarga, berarti kamu beratnggungjawab atas keluarga kamu. Atas orang-orang yang ada di dalamnya. Atas orang-orang yang kamu sayangi, sebagaimana umimu yang selalu merasa bertanggungjawab atas kondisi keluarga kita.

***

Nah, Karel, kamu mau tahu apa permintaan terakhir umi yang tidak bisa abi penuhi? Umi tidak minta yang macam-macam, Sayang. Di malam terakhir sebelum kepergiannya, umi hanya ingin mendengarkan abi tilawah, Karel. Membaca Al-Quran. “Lagi pengen deh, denger abi tilawah.” Permintaan yang tidak bisa langsung abi penuhi waktu itu, karena abi ada urusan membalas email beberapa orang. Permintaan yang ternyata abi tidak diberikan kesempatan lagi untuk memenuhinya.

SUMMER

… bersambung

Bogor: 3 November 2013
(29 Dzulhijjah 1434 H)
5:04 WIB

Advertisements

One comment

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: