Kutukan Keberuntungan

“Idealisme yang nggak sesuai realita itu sebuah kebodohan. Plih mana? Idealis atau realistis?”, aku cuma nyengir. Bingung mau jawab apa. Tidak berhenti sampai situ, pertanyaan berlanjut, sampai pada komentar, hingga akhirnya tiba di titik klimaks; mereka mencemooh impianku. Bukankah seharusnya mereka menjadi tempat pertama yang paling hangat mendekapku ketika aku kehilangan arah?

Apakah mereka “benar-benar” keluargaku? KELUARGA?

Entahlah. Walaupun pada awalnya, aku cukup terkesiap dengan respon mereka, tapi aku bertekad dalam hati. Mereka hanya butuh pembuktian. Ya! buktikanlah impian besarmu itu, dengan kemampuan terbaikmu. Bukankah impian hebat hanya diperuntukkan bagi orang-orang hebat?

mawar2Sayangnya, hidup orang-orang hebat tidak semudah yang kita kira selama ini. Proses pencapaian itu, layaknya atlet bulu tangkis berlatih siang malam hingga cedera tubuh disana-sini, tapi pada akhirnya berhasil meraih piala emas. “Ah, nggak kok.. Aku tau jalan hidupnya orang-orang hebat itu sulit, jatuh bangun, nggak gampang deh pokoknya.”

Olala, bahkan jatuhnya mereka saja, kau tak akan mampu membayangkan. Jatuh, luka, sedih, menangis, sampai kehilangan orang yang dicintai. Entah pergi untuk selamanya, atau pergi dari hidup kita tapi sesekali masih bisa saling menelpon, sms-an, dan bertemu. Keduanya sama-sama menyakitkan.

Seandainya aku tak punya kesabaran, jikalau aku tak ingat mereka adalah keluarga, mungkin…. ahahaha. *pasti pada ngebayangin yang aneh-aneh* 😛

***

Kalau ide tak kunjung tercetus, tak jua keluar, atau terjebak dalam posisi paling menyebalkan; writer’s block, maka berhentilah sejenak. Seduh segelas teh hangat atau coklat panas. Pejamkan mata, nikmati udara, dan ambil buku bacaan kesukaanmu. Tetap dalam posisi rileks saat membaca. Boleh jadi, dan memang biasanya begitu, semakin banyak buku yang kau baca, maka kosakatamu akan semakin bertambah.

crema-cafe-hot-chocolate

Setiap malam, aku selalu menyempatkan diri untuk menulis. Apapun itu, entah di publish atau tidak di blog. Seperti apapun aku mengalami writer’s block. Aku cuma mau menulis. Itu saja.

Dan memang benar adanya, bahwa menulis itu bisa jadi salah satu terapi untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran. Dibuktikan dengan apa yang sudah kulakukan selama ini. Termasuk pembuktian paling besar oleh Bang Jonru dalam bukunya, Sembuh dan Sukses dengan Terapi Menulis.

Meskipun tugas kuliah menumpuk, menungguku untuk segera menyelesaikannya. Walaupun mata sudah ngantuk berat dan kepala pusing. Bagaimanapun esok pagi akan ada kuis atau ujian. Aku cuma mau menulis. Itu saja

Penghargaan yang didapat oleh para pegiat literasi, sastrawan, dan penulis besar lainnya, selain karena karya mereka yang dicintai banyak orang, mereka memiliki kekuatan besar: konsisten. Bahkan para peraih penghargaan itu tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa karya mereka akan sebegitu besarnya diterima oleh masyarakat, disukai oleh banyak pembaca. Rasa-rasanya, tak ada hal istimewa yang sudah dilakukan. Mereka hanya tahu satu hal: terus menulis.

Tapi bukan penghargaan yang kucari. Aku hanya ingin menulis dan tulisanku menjadi tulisan berkualitas dari sisi muatan, maupun ejaan. Jika sudah baik kualitasnya, maka dengan sendirinya akan ada banyak orang yang membaca.

Sekali lagi, jikalau dunia tak memberiku piala, bahkan pengakuan sekalipun, aku tidak peduli. Kalau niat sudah salah sejak awal, Allah juga akan memberikan apa yang kuniatkan. Rizki kita tak akan pernah tertukar kan?

***

Ketika banyak kudapati teman-temanku berkeliling dunia, apa yang kurasakan? Tentu aku iri. Jelas aku juga ingin seperti mereka. Namun, aku tahu bahwa jika aku ingin seperti mereka, maka tetaplah berjalan di jalan masing-masing. Aku harus fokus. FOKUS. Forget Other Commitment Until Success. Banyak sekali kesempatan untukku menjejaki belahan lain dari bumi Allah, melalui apa yang tengah kugeluti kini.

Kesempatan ada dimana-mana, Sekar. Kamu hanya perlu jeli melihat kesempatan (peluang) itu, beranilah untuk memulai, sabar dengan prosesnya, dan fokus sampai akhir, sampai sukses, sampai kamu mendapatkan apa yang selama ini ingin kamu dapatkan.

Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah berbakti, berbuat sebanyak mungkin, sebaik apapun yang kamu bisa. Untuk Ibumu, Bapakmu, untuk teman-temanmu, untuk lingkungan sekitarmu.

Ingin berkelana keliling dunia?
InsyaAllah akan ada masanya nanti. Entah sebentar lagi, atau bersama suamimu kelak 🙂
Meskipun perjalanan jauh itu begitu kuat kurindu. Ah, nanti sajalah. Jalan-jalan keliling Indonesia dulu mungkin akan jadi pilihan paling bijak untuk saat ini. Dan berdua itu lebih membahagiakan daripada harus sendiri atau pergi bersama teman lhooo. 😀 *kata orang sih. tapi aku percaya kok, hehe*

Bukankah sekarang kamu akan punya Rumah Karya dan Kafe Buku?
Ya! Sebentar lagi! InsyaAllah…. 😀 Allahumma aamiin.

Nah, fokuslah dengan itu. Menebar manfaat hingga sekitarmu merasakan kebaikan-kebaikanmu adalah kebahagiaan yang tak akan tergantikan, hal paling menggiurkan dibandingkan apapun. *edisi udah lama ga backpackeran*

 InsyaAllah

keep calm

Kalian tahu?
Tulisan ini betul-betul terapi untukku. Bukan berarti aku sedang stres, sedih, atau galau. Aku hanya ingin mengingat kembali, mengumpulkan lagi semangat yang berserakan. Dikumpulkan, lalu diikat menjadi satu, dan dinyalakan terus sampai mati.

Dan aku menjadi semakin bersemangat dalam proses pembuktian kepada siapapun yang tersenyum lebar, tertawa, dan segala bentuk ekspresi meremehkan. Orang-orang itu adalah bagian dari kutukan keberuntungan untukku. *haha, terima kasih ya*

Aku akan BUKTIKAN!
Sebentar lagi..

Selamat tahun baru 1435 Hijriah! 😀
Semoga semakin baik, semakin bermanfaat, semakin berkah, semakin disayang Allah, semakin cantik luar dan dalam.

tahun baru, semangat baru
Bogor: Selasa, 5 November 2013

(1 Muharram 1435 H)
22:31 WIB

Advertisements

6 comments

  1. entah kenapa, saia juga yakin my best traveling partner will be my husband, haha 😀
    padahal nikah juga masih rencana 😉 tapi boleh dong dipupuk keyakinannya bahwa akan ada masanya nanti merasakan nikmatnya traveling berdua sama suami, amiiin…

    1. betul itu 😀 lebih aman, berpahala, dan romantis, hehe 😛 aamiin, insyaAllah mbak. Ayo cari mbak! *eh* #salahfokus

  2. menulis sebagai salah satu bentuk terapi… ah, makasih kak sekar udah diingatkan lagi… saya udah lama lupa dengan terapi ini… it’s a great reminder for me.. semangat terus untuk menulis, that’s your big dream then you can prove it!! fight!! ^_^

    1. aamiin Ya Allah.. wuah, makasih mbak Latisha 😀 begitu juga dengan mbak ya, semoga Allah memudahkan jalan hidup mbak, dan berkah 🙂
      *Semangat nulisssss!!

  3. Emang bener, menulis itu memang ‘menyembuhkan’, sebuah cara untuk mencurahkan perasaan dg cara yg bijak. Semangat, semoga terus konsisten menulis 🙂

    1. aamiin. Mbak eka juga yaa.. keep write and share lewat blog-nya yang sweety 🙂 hihi

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: