Letters to Karel #6

Dear Karel,   

I am sorry for everything, Baby. Maaf atas kondisi sesulit ini. Padahal tak sepantasnya seorang baby seperti kamu harus mengalaminya. Jika setiap bayi berhak untuk mendapatkan air susu ibunya setiap saat kapanpun ia mau,  kamu harus mengalami prosesi yang cukup panjang hanya sekedar untuk mendapatkan ASI, itu pun bukan dari umi kamu sendiri.

Proses itu bermula dari mencari ibu baik hati yang mau berbagi ASI-nya dengan kamu, Sayang. Yang mau pun belum tentu cocok karena harus diverifikasi dulu aspek kesehatan, keturunan, usia bayi yang dimiliki, agama, sampai komitmen untuk bersedia mendonorkan ASI-nya dalam jangka panjang buat kamu, Karel. Dan sebagian besar ibu yang mendonorkan ASI-nya itu adalah wanita karier, sebenarnya mereka bersusah payah memerah ASI-nya untuk persediaan ketika masa cutinya habis, agar jika mereka kembali bekerja, baby-nya masih tetap bisa minum ASI. Dan mereka telah berbaik hati untuk kamu, Karel. Semoga Allah membalas setiap tetes ASI mereka dengan balasan yang jauh lebih baik, semoga pahala dari kebaikan-kebaikan yang kamu lakukan kelak mengalir juga kepada mereka, sebagaimana ASI mereka mengalir dalam tubuh kamu. Semoga Allah kasih syurga buat mereka ya, Sholeh.

Proses menyusu-mu berlanjut dengan menjemput ASI ke rumah pendonor ASI, dengan jarak yang lumayan, 2-3 hari sekali, menggunakan tas khusus karena ASI dalam kondisi beku, pagi-pagi sekali jika ingin bertemu dan bersilaturahim langsung dengan keluarga pendonornya, karena di atas jam 7 pagi mereka harus berangkat kerja. Tentu saja ASI beku itu tidak bisa langsung diminum, Sayang. Masih panjang lagi prosesi-nya sampai ASI itu masuk dalam tubuh kamu. Harus didiamkan dulu sampai mencair, dengan perubahan suhu yang tidak boleh terlalu drastis agar tidak merusak zat gizinya. Setelah cair dihangatkan dan disterilkan lebih dulu di dalam botol. Agar bebas dari kuman dan bakteri.

Ribetnya lagi, ASI yang sudah cair tidak boleh dibekukan kembali, ASI yang sudah dihangatkan juga tidak boleh dihangatkan kembali. Artinya, dibutuhkan pola khusus agar ASI itu bisa masuk dalam tubuh kamu dengan waktu dan jumlah yang tepat. Agar kamu tidak kekurangan setetespun, agar setiap kamu lapar, ASI sudah siap tersedia. Pernah beberapa kali kamu menangis lapar, tapi ASI belum tersedia karena masih dingin atau masih dihangatkan. And you know what, Karel? Pada saat itu, jika saja keajaiban itu boleh diminta, abi akan langsung minta agar puting abi mengeluarkan ASA, air susu ayah. Agar kamu tak perlu menangis lebih lama lagi.

Kamu tahu, kenapa kita harus repot-repot menjalani prosesi itu, Karel? Kenapa tidak membeli susu formula saja di supermarket terdekat, sekali beli untuk satu bulan atau enam bulan sekaligus? Lebih cepat juga praktis, bukan? Karena umi selalu ingin yang terbaik buat kamu, Sayang. Dan terkadang, sesuatu yang terbaik dalam kehidupan kita, harus kita dapatkan dengan banyak pengorbanan. Jauh-jauh hari sebelum umi pergi untuk selamanya, dengan semangatnya umi bercerita akan memberikan ASI untuk kamu, Karel. Dua tahun penuh kalau bisa. Bahkan umi memilih resign dari pekerjaannya hanya untuk memberikanmu ASI eksklusif, Sayang. Jikapun harus bekerja, umi mau bekerja dari rumah saja. Bahkan sejak 3 bulan sebelum kelahiran kamu, umi sudah membeli pumping ASI, untuk men-stock ASInya buat kamu, jika sesekali umi harus pergi atau produksi ASI-nya lagi kurang banyak.

Nah, Karel, abi harap kamu benar-benar mengerti tentang ini, agar kamu tidak banyak mengeluh di kemudian hari; ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita minta begitu saja seenaknya kita, Sholeh. Seperti kamu yang tidak bisa meminta atau memilih lahir dari ibu yang seperti apa atau dengan kondisi yang bagaimana. Ada Allah Yang Maha Berkehendak. Dan jika Allah sudah berkehendak, seburuk apapun kehendak-Nya itu menurut kita, percayalah bahwa menerima, selalu menjadi pilihan yang paling bijak, Karel. Karena menolak kehendak-Nya hanya akan membuat hidup kita semakin sulit. Karena hanya dengan menerima, kita bisa merasakan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita. Sabar ya, Sayang. Kamu mau tahu apa yang sering dikatakan umi kamu, kalau dia sedang mendapatkan ujian?

“Alhamdulillah, masih dikasih ujian, berarti Allah masih sayang sama kita.”

… bersambung

 

 

Bogor: Selasa, 5 November 2013
(1 Muharram 1435 H)
11:15 WIB

Advertisements

One comment

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: