Letters to Karel #7

Dear Karel,    

You know what, Baby? Time flies but not memory. Tiga belas bulan abi membersamai umi, tiga bulan lebih lama daripada kamu. Tiga belas bulan yang sangat berharga buat abi, sepuluh bulan yang tak akan tergantikan bagi kamu. Tentu kita tidak akan terus bersedih ria, Sayang. Kita juga tidak sedang berpura-pura kuat, padahal hati kita rapuh. Kita tidak sedang bersusah payah melupakan, tapi malah tambah menyakitkan. Kita sedang berdamai dengan diri kita sendiri, Sayang. Kita sedang melapangkan hati untuk benar-benar menerima kehendak Allah, lantas memahaminya sebagai pembelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan kita kelak. Kita sedang merapihkan kenangan kita tentang umi, Karel. Agar ketika kita ingat umi, kapanpun kenangan itu datang menghantui kita, kita mengingatnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Bukan dengan kesedihan dan penyesalan.

Kita masih punya jatah hidup yang bisa jadi berpuluh kali lipat lebih banyak daripada kebersamaan kita dengan umi, Sholeh. Dan tentunya, kita akan membuatnya tetap bermakna, bahkan akan kita buat lebih bermakna jika jatah kebersamaan kita jauh lebih lama daripada jatah kebersamaan kita dengan umi. Lagipula, tak sepantasnya kita berlarut-larut dalam kesedihan, padahal umi sudah berbahagia untuk selamanya di alam sana. Tentu kita tidak akan membalas segala kebaikan dan pengorbanan umi dengan kesedihan dan keterpurukan, Karel. Kita akan membalasnya dengan kebahagiaan dan kebanggaan. Dan kamu tahu, bagaimana caranya membahagiakan dan membanggakan umimu Karel? Kamu cukup menjadi anak sholeh yang berbakti, lagi bermanfaat bagi yang lainnya, Sayang. Sebagaimana yang selalu umimu impikan. Sebagaimana umi selalu berusaha untuk bisa memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Jadi jika nanti-nanti kamu sedang bersedih hati, ingatlah umi kamu, lalu berbahagialah atas kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh umimu di alam sana.

Dari mana abi tahu kalau umi bahagia? Persisnya abi juga tidak tahu, Sayang. Hanya yakin saja. Allah sudah men-skenario-kan umi pergi dengan cara yang terbaik, dengan skenario yang begitu rapi, tanpa merepotkan orang yang ditinggalkannya. Umi-mu tidak meninggalkan hutang sepeserpun, Karel. Malah meninggalkan piutang yang lumayan banyak. Bahkan umi tidak hutang puasa satu haripun, Sholeh. Di bulan ramadhan terakhir, saat usia kandungan umi enam bulan, umi bersikeras memaksakan diri untuk berpuasa, satu bulan full tanpa bolong. Bahkan sempat puasa sunnah di beberapa kesempatan. Padahal, umi harus kerja dari pagi sampai sore. Padahal, untuk kondisinya yang sedang mengandung kamu, umi mendapatkan rukshah atau keringanan untuk tidak berpuasa. Bahkan untuk biaya kematian, tertutupi dari rekening tersendiri umi dan bonus dari pekerjaan yang baru sempat dibayarkan setelah umi pergi. Tidak memakai tabungan keluarga kita, tidak juga dari uang bela sungkawa.

Entah kenapa, sekitar dua bulan sebelum kepergiannya, umi meminta izin kepada abi untuk mengaktifkan kembali salah satu rekening bank-nya yang sudah lama tidak digunakan, untuk berjaga-jaga katanya, terpisah dari tabungan keluarga kita. Uang yang ditabungpun hasil bonus dari project yang baru selesai dijalaninya. Umimu mandiri sedari kecil sampai akhir hayatnya, Sayang. Nanti di lain kesempatan, abi akan ceritakan bagaimana perjuangan umi membiayai kuliahnya sendiri dari S1 sampai S2.

Dari mana abi tahu kalau umi bahagia? Umi memang tidak belum memberitahukannya secara langsung, atau belum mendatangi abi lewat mimpi. Tapi setidaknya, sudah lebih dari tiga orang, yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan umi, bahkan ada yang belum pernah bertemu sekalipun dengan umi, menyampaikan cerita yang hampir sama; mereka bermimpi melihat umi sedang dengan penampilan yang sangat cantik sambil tersenyum dan menggendong anak.

Nah, Karel, mau tidak mau, cepat atau lambat, orang di sekitar kita akan pergi, berganti dengan orang yang baru. Atau diri kita sendiri yang harus pergi, hidup di tempat dan suasana baru. Jangan khawatir Sholeh, karena hidup bukanlah tentang bersama siapa kita menjalaninya, tapi bagaimana kita menjalaninya. Siapapun orang yang membersamai kita, jika kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik, maka hidup kita juga akan berjalan baik, Sayang. Hidup kita harus dan akan terus berjalan; bersama siapapun, di tempat manapun, tapi tidak sampai kapanpun.

IPEY34

… bersambung

Bogor: Jumat, 5 November 2013
(1 Muharram 1435 H)
11:32 WIB

Advertisements

One comment

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: