Menjadi Hebat: Pilihan atau Takdir?

…Tak mungkin hidup membebankan ‘hebat’
diantara orang-orang berpunggung lemah.

HEBAT adalah BEBAN.
Ia hanya memilih orang-orang yang layak memikulnya.
Termasuk surga..

karena Surga merupakan hebat tertinggi. Hebat yang totalitas.
Dan Allah selalu memberikan pertolongan
bagi orang-orang yang hebat seperti ini..

REALAUSTSesekali, pandangi dengan seksama orang-orang hebat disekitar kita. Jangan hanya sekadar berdecak kagum. Itu semua orang pasti bisa. Bocah ingusan pun bisa, karena tak perlu ilmu untuk yag seperti itu. Cukup pasang wajah terpukau, geleng-geleng kepala dan mulut ternganga. Selesai.

Coba kita ambil waktu sejenak. Perhatikan mereka yang hebat itu dengan perlahan. Tak usah buru-buru. Maka kita akan sampai pada satu kesimpulan yang sama; mereka pantas disebut hebat.

Mereka, dari awal, sangat menyadari bahwa hebat itu sejatinya adalah beban. Berat sekali. Tapi itulah wujud aslinya. Hebat, identik dengan kesulitan.

Atau, diantara mereka awalnya tidak menyadari, tapi setelah berproses baru sadar. Artinya, syarat mutlak untuk menjadi orang hebat adalah harus berhasil dulu membangun utuh bangunan kesadaran, bahwa hebat itu berat. Bukan sesuatu yang ringan.

Karena itulah, tak semua orang mau memikulnya. Padahal, jika ditanya, semua orang pasti ingin menjadi hebat. Mungkin juga termasuk kita. Hidup ini hanya sekali. Terlalu naif jika memilih pilihan biasa-biasa saja, bukan? Sayangnya, semua orang memang menginginkannya. Hanya ingin saja. Tidak lebih.

Syaikh Muhammad Ghazali pernah berkata, “Kesulitan-kesulitan hidup dalam diri seseorang selalu selaras dengan keinginan yang hendak ia capai, baik yang sulit maupun yang sederhana,”

Hebat adalah pilihan berat atau bahkan yang paling berat dalam hidup. Maka, tentu tak mungkin hidup membebankan ‘hebat’ diantara orang-orang berpunggung lemah. Hidup tidak akan memilih orang yang seperti itu. Kecuali kepada mereka yang berhak untuk disebut sebagai seorang pahlawan, yaitu orag-orang yang tabah dan tegar.

Begitulah orang-orang hebat disekitar kita. Hebat itu adalah takdir yang dijemputnya dari kehidupan. Bersungguh-sungguh. Mereka memahami bahwa itu membutuhkan kerja-kerja terbaik. Mereka memahami benar bahwa ada seleksi yang jelas untuk itu semua.

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang mencitakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” [QS. Al-Mulk:1-2]

Dan orang-orang hebat tetap menjaga kesadarannya hingga akhir hayat. Bahkan, ia akan terus berusaha untuk tetap hebat hingga kampung akhirat. Sebagaimana Imam Ahmad pernah ditanya, “Kapan engkau akan istirahat?” beliau berkata, “Saat kaki-ku melangkah ke dalam surga.”

MasyaAllah.. hebat yang totalitas.

Agaknya, sudah cukup kita memperlihatkan sebagian contoh wujud orang hebat diatas. Selanjutnya, kita juga harus memastikan diri menjadi orang hebat. Iya kan? Karena jika tidak, sama saja kita dengan orang yang geleng-geleng kagum, wajah terpukau, sembari mulut terbuka menganga.

Jika tadi Imam Ahmad memastikan impian ‘hebat’nya hingga ke surga, kita tentu menginginkan hal yang sama. Tak ada yang mau menciptakan sebaliknya. Kita ingin hebat di dunia, hebat di akhirat. Belum ada orang waras yang bercita-cita masuk neraka. Belum.

Maka, seperti yang telah kita pahami di awal, hebat adalah beban. Hanya memilih orang-orang yang layak memikulnya. Termasuk surga. Karena ini merupakan hebat tertinggi. Hebat yang totalitas. Dan Allah selalu memberikan pertolongan bagi orang-orang yang hebat seperti ini.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [QS. Al Baqarah: 214]

***

BSm4BRXCIAI6mQm

Selamat memulai tahun baru hijriah 1435 H. Semoga kita termasuk orang-orang yag senantiasa menjaga kesungguhan untuk memperbaiki diri dan bersemangat meluaskan manfaat diri.

 dakwatuna.com
edited by: sekar
Bogor: Kamis, 7 November 2013
(3 Muharram 1435 H)
18:57 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: