Letters to Karel #9

Dear Karel,  

How are you today, Baby? Maaf jika abi tak sepandai umi dalam bercerita, Sholeh. Padahal baby seusia kamu harusnya mendengar banyak cerita, untuk merangsang pendengaran kamu, untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada kamu, karena indra pendengaran kamu sudah berfungsi lebih baik daripada indera yang lainnya, Sholeh. Bahkan kamu sudah bisa mendengar sejak dalam perut umimu, Sayang. Mungkin suatu saat kamu akan ingat apa saja (dan itu banyak sekali), hal-hal yang umi ceritakan kepadamu, Sholeh. Mungkin lebih banyak daripada yang diceritakannya kepada abi, karena sejak usiamu di perut umi empat bulan, saat ruh ditiupkan dalam diri kamu, kamu selalu membersamai umi setiap saat.

Sejak usiamu dalam kandungan umi empat bulan, umi sangat berhati-hati sekali bicara, Sholeh. Lebih lembut, lebih sabar, lebih penyayang, lebih banyak membaca dan mendengarkan Al-Quran dan juga lagu-lagu instrumental dan tentunya lebih banyak cerita dan curhat ke kamu, Sayang. Umi selalu memegang dan mengelus perutnya sambil berbicara denganmu, Nak. Saat kerja, saat memasak, saat tilaawah, saat melakukan pekerjaan rumah, di setiap kesempatan yang memungkinkan.

Umi pernah bilang ingin membiasakan kamu untuk belajar bahasa dan berhitung dari dalam kandungan, agar kamu jadi anak yang cerdas karena perkembangan otaknya bagus. Allah membayar lunas keinginannya itu. Terakhir, pekerjaan kantor umimu banyak sekali yang menyangkut bahasa, menerjemahkan bahasa indonesia ke bahasa inggris. Mata kuliah terakhir yang diajarkan umimu di kampus juga banyak sekali hitung-hitungan-nya, Sayang. Bagi umi, kamu selalu menjadi penyejuk hatinya, Sholeh. Jika penat, pusing dengan pekerjaan yang menumpuk, dengan masalah yang tak kunjung usai, kamu selalu bisa jadi tempat pelarian umi yang terbaik, Sayang.

Abi punya seorang teman yang hafidz Al-Quran, saat ditanya kenapa dia bisa hafidz, dia menjawab karena dia selalu teringat pesan dan impian ibunya agar dia hafal Al-Quran, Sholeh. Ketika dicek ke ibunya, ibunya malah lupa kalau beliau berpesan seperti itu, dan ketika diingat-ingat, ibunya baru sadar kalau beliau mengatakan itu ketika anaknya masih dalam kandungan, Sayang. Semoga kelak kamu akan ingat pesan lain dari umimu, Nak. Sebagaimana sekarang kamu bisa menjalankan dengan sangat baik pesan umimu untuk selalu sabar dan kuat, Sholeh.

Umimu memang selalu merasa penting untuk bercerita, Sayang. Bagi umi, abi berhak tahu atas apapun yang dialaminya. And honestly, kadang abi suka males dengar ceritanya. Pekerjaannya yang ini, temennya yang itu, tetangga kiri-kanan, penjual kue keliling, sampai apa yang dibeli di tukang sayurpun kadang umi ceritakan, Sayang. Abi sering sekali mendangar ceritanya sambil bermain gadget, sampai beberapa kali umi kesal. Pernah juga umi bercerita panjang lebar, tapi abi malah ketiduran. Kali ini abi tidak kesal, Sayang. Malah tersenyum dan mencium kening abi. Perempuan memang selalu butuh didengarkan, Sholeh. Dan salah satu cara terbaik untuk menghargai perempuan, kamu hanya cukup menjadi pendengar yang baik. Tentu ketika kamu dalam kandungan, kamu selalu menjadi pendengar yang baik buat umi, Sayang. Sekarang, saat kamu sudah terlahir di dunia, saat kamu tak bisa mendengarkan suara umi lagi adalah saat bagi kamu untuk melakukannya, Sayang. Mengerjakan pesan dan amanah umi. Mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari cerita umi. Membalas segala pengorbanan umi dengan menjadi anak yang sholeh lagi berbakti, Sayang.

Karel, kamu memang hanya bisa bersama umi di dunia tidak lebih dari satu jam, Sholeh. Sesaat setelah kelahiranmu, saat kamu melakukan IMD. Tapi jangan khawatir, nanti-nanti, di akhirat kelak, kamu masih punya kesempatan untuk bertemu dengan umi, Sayang. Bahkan untuk membersamainya selamanya. Syaratnya, kamu hanya harus jadi anak sholeh yang mencintai umimu dengan sangat, Sayang. Sebagaimana ayat Al-Quran yang pernah dibaca dan disampaikan umi;

Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka dalam syurga….  (At-Thur: 21)

Semoga kita selalu kuat ya, Sayang. Semoga kita diberikan kesabaran yang tak ada habisnya. Sebagaimana doa-doa yang pernah umi panjatkan.

… bersambung

Bogor: Jumat, 8 November 2013
(4 Muharram 1435 H)
11:08 WIB

Advertisements

One comment

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: