Letters to Karel #10

Dear Karel, 

gambar16 Jangan pernah bersombong ria dengan apa yang kita punya, Sholeh. Karena kita tak pernah benar-benar memiliki. Kita hanya dititipi. Dititipi apa yang kita punya, dititipi orang yang kita cintai. Nanti jika saatnya tiba, titipan itu akan diambil oleh pemiliknya. Kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun, dan terkadang; secara tiba-tiba. Dan kita tak bisa berbuat apa-apa, Sholeh. Karena memang pada hakikatnya, semua yang kita punya adalah kepunyaan Allah, yang bisa diambilnya kapan saja Dia mau, termasuk; umi kamu.

Karel, kamu masih punya banyak titipan selain umi kamu. Di kehidupan mendatang, kamu akan punya keluarga, orang-orang yang kamu kasihi dan sayangi, harta benda, gelar, status sosial, beserta semua paket titipan Allah yang lainnya. Dan yang perlu kamu lakukan terhadap titipan-titipan tersebut; kamu hanya harus menjaganya dengan sebaik mungkin. Sebagaimana umi selalu menjaga apa yang dia punya, lebih-lebih menjaga kamu.

Jika titipan itu berupa harta benda, pastikan kamu mendapatkannya dengan cara yang baik, dan mengeluarkannya dengan cara yang bijak. Tak boleh ada sedikitpun uang haram yang masuk dalam kantong kamu, Sholeh. Tak boleh ada setetes darahpun yang mengalir dalam tubuh kamu, yang dihasilkan dari makanan yang dibeli dari uang yang tidak-tidak. Dulu, umi orang yang mengendalikan keuangan dalam keluarga kita, Sayang. Dan umi menjalankannya dengan sangat baik. Jika gaji abi lebih besar daripada biasanya, atau mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji, umi pasti mengintogerasi uang itu darimana. Bukan karena umi tidak percaya, umi hanya ingin memastikan uang itu diperoleh dengan cara yang baik. Tapi jika umi mendapatkan penghasilan tambahan di luar pekerjaannya, abi tidak perlu repot-repot bertanya. Karena umi pasti akan menceritakan tanpa diminta. Umi selalu merasa penting untuk bercerita, Sholeh. Untuk melapor apa yang dilakukannya, sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada suami.

Penghasilan abi langsung dipotong umi sekian persennya untuk infak dan dana-dana sosial, santunan keluarga serta kerabat dan sebagainya. Abi hanya mengantongi sekian persennya untuk pengeluaran abi sebulan. Tapi boleh minta lagi jika dibutuhkan. Umi orang yang sangat menghargai abi, Sholeh. Walaupun umi punya penghasilan sendiri, umi tahu persis pos mana yang harus menggunakan uang abi, pos mana yang perlu menggunakan uang umi. Untuk keperluan dasar seperti sandang, pangan, dan papan umi pasti mengalokasikannya dari uang abi. Karena itu sudah menjadi kewajiban suami, dan keberkahan rezeki suami ada di situ, untuk menafkahi keluarganya. Uang umi lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan tak terduga atau tabungan. Atau untuk membeli hadiah atau apapun buat orang lain. Atau sesekali memenuhi kebutuhan tersier umi sebagai kaum hawa. Dan umi selalu minta izin terlebih dulu, jika harus mengeluarkan uang di luar budget yang sudah dianggarkan. Meskipun uang yang digunakan uangnya umi.

Jika titipan itu berupa peran, pekerjaan, status sosial dan sejenisnya, kamu hanya harus menjalankannya dengan sepenuh hati dan sepenuh tanggungjawab, Sholeh. Umimu selalu bisa diandalkan setiap orang. Tidak mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah. Hampir semua orang yang bekerja sama dengan umi, merasa puas dengan pekerjaannya. Mahasiswanya banyak sekali yang konsultasi via sms atau datang langsung ke rumah tentang mata kuliah yang diajarkan umimu. Atau serba-serbi lainnya seputar keagamaan, dunia akademik, pengalaman kuliah dan sebagainya.

Jika titipan itu berupa orang-orang yang kamu cintai, kamu hanya harus memastikan orang itu baik-baik saja. Terpenuhi segala hak dan kewajibannya. Tidak kurang sedikitpun kasih sayang. Seminggu sebelum umi pergi untuk selamanya, abi jatuh sakit, Sayang. Umi yang merawat abi dengan penuh kasih sayang. Abi masih ingat dengan jelas wajah khawatir umi ketika menyuapi abi waktu itu, dan seketika umi minta maaf. Umi selalu merasa bersalah ketika abi sakit, Sayang. Umi merasa belum bisa jadi isteri yang baik, belum bisa merawat abi dengan benar. Sebelumnya kalau abi sakit, walaupun sakitnya cuma demam, umi pasti izin dari kantor untuk merawat abi. Meninggalkan pekerjaan dan kesibukan yang lain, fokus merawat abi. Bahkan umi pernah bilang, daripada abi yang sakit, mending umi saja yang sakit. Tidak tega melihat abi sakit. Terhadap kamu? Lebih-lebih, Sayang. Ada sedikit yang aneh dalam kandungannya, umi langsung minta periksa, bertanya pada teman-temannya yang dokter, pada teman-temannya yang sudah pernah melahirkan, atau mencari dari buku dan internet tentang keanehan yang dirasakannya. Memastikan kamu baik-baik saja dalam perutnya.

Nah, Karel, kamu tahu kenapa kita harus menjaga titipan itu dengan sebaik mungkin, sebagaimana umimu menjaga setiap titipan-Nya dengan sangat baik? Karena sebenarnya, semua titipan itu adalah ujian dalam kehidupan kita, Sayang. Allah ingin melihat kualitas kita menghadapi ujian tersebut, menyikapi semua titipan itu.  Allah ingin tahu, apakah ketika saatnya titipan itu diambil, kondisi kita dan titipan-Nya semakin baik atau semakin buruk. Dan tentu kita akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu lebih baik lagi, Sayang. Untuk menjaga segala titipan-Nya, baik yang sudah, sedang, atau akan diberikan.

… bersambung

Bogor: Minggu, 10 November 2013
(6 Muharram 1435 H)
18:00 WIB

Advertisements

5 comments

  1. saya baru saja menikmati setiap tulisan Letters to Karel dari 1 sampe yang ini
    Bacanya timbul rasa macem-macem, sedih, senang membaca cerita keluarga kecilnya ini begitu subhanallahnya agamis sekali.
    berasa sekali kuatnya kebijaksanaan abi Karel dalam cerita ini. Terharu karna ketegaraan keluarga yang ditinggalkan. penasaran sekali dengan kelemah-lembutan hati. ke-baik-hatian almarhumah. semoga tenang di alam sana ya Ummi Karel
    doa buat almarhumah Allahuma firlaha war hamha, Waafia wafuanha.

    1. aamiin. terima kasih mbak Dea. InsyaAllah nanti saya akan buat 1 postingan khusus untuk mengulas siapa sang Abi dan Umi Karel ini. Meereka berdua kakak kelas saya di kampus. 🙂 Doakan dek Karel juga ya mbak.. Semoga menjadi anak sholeh, kuat, sehat, dan cerdas. Bisa membawa kedua orang tuanya ke surga. 🙂

  2. Dan Karel pun akan tumbuh menjadi pribadi yang sholeh….makasih sudah sharing ya 🙂

    1. aamiin, doa yang sama juga untuk keluarga mbak Indah, khususnya anak-anak yang insyaaAllah sholeh dan cerdas. 😀

      fyi, udah ada bukunya mbak sekarang. Buku Letters to Karel, hehe. Penulisnya Ayahnya Karel

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: