Letters to Karel #12

Dear Karel,

Karel, kamu boleh saja punya fisik setangguh apapun, keinginan sekuat apapun, cita-cita setinggi apapun, prinsip seteguh apapun. Tapi kamu juga harus punya hati yang lembut, Sayang. Karena dengan hati yang lembut kamu bisa menyayangi dan disayangi siapapun yang kamu mau. Karena dengan hati yang lembut, kamu bisa mengerti orang lain, tanpa harus bersusah payah untuk minta dimengerti. Karena dengan hati yang lembut, kamu akan mudah berbagi kebaikan dengan siapapun. Karena dengan hati yang lembut, kamu akan segera menyadari jika melakukan kesalahan serta lebih mudah untuk memaafkan dan dimaafkan. Berjanjilah, Nak, kalau kamu akan selalu berusaha untuk memiliki hati yang lembut, sebagaimana umimu memilikinya.

Abi pernah kesal sekali dengan umi kamu, Karel. Pagi itu, umi kerja di rumah, memang sedang punya banyak PR dari kantor. Abi tak pernah mempermasalahkan kalau umi harus bekerja, Sayang. Kami sudah menyepakatinya jauh-jauh hari. Sederhana saja kesepakatannya, itu juga umi yang mengusulkannya; pekerjaan umi jangan sampai mendzolimi keluarga. Apapun jenis pekerjaannya, keluarga harus tetap menjadi prioritas. Tapi pagi itu,  banyak sekali pekerjaan rumah tangga bagiannya umi yang belum beres dari hari-hari sebelumnya. Well, umimu belum mau memakai jasa pembantu, Sholeh. Ingin menajalani dan menikmati peran sebagai isteri dan ibu rumah tangga yang baik dulu, katanya. Padahal dari kecil, keluarga besar umi sudah terbiasa dengan pembantu. Keluarga kecil kita terbiasa untuk membagi pekerjaan rumah tangga, Sayang. Rencananya, baru setelah kamu lahir umi mau memakai jasa pembantu. Tentu saja bukan untuk mengurus kamu, Sayang. Hanya untuk membersihkan rumah. Umi ingin fokus mengurus kamu terlebih dulu dan tentu saja tak ingin rumahnya berantakan. Abi waktu itu juga sedang dikejar deadline kantor, sedang bad mood, jadi tidak bisa menggantikan tugas bagiannya umi. Entah darimana datangnya ide itu, mungkin karena sedang kesal, abi menghukum umi. Hukuman yang membuat umi sangat menyesal atas kelalaiannya.

Kamu ingin tahu apa hukumannya, Sayang? Memukul umi? Bukan, Sholeh. Tak boleh ada keluarga kita yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, bahkan jika kekerasan itu sekecil kamu menepuk nyamuk. Sakitnya bisa saja hilang dalam seketika. Tapi selalu butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati akibat pukulan itu. Malah bisa jadi lukanya tak akan sembuh. Tenang, Sholeh. Kamu akan dibesarkan dengan pemahaman yang baik, dengan penghargaan dan sesekali hukuman yang mendidik.

Hukuman umi waktu sederhana saja, Karel. Abi tidak mencium kening umi seperti biasanya, langsung pamit setelah umi mencium tangan abi. Dan bagi umi, itu hukuman yang sangat berat. Bagi umi, ridho suami selalu penting, Sholeh. Jadi membuat suami kesal, bukan masalah yang sederhana. Taruhannya adalah syurga. Sesampainya abi di kantor, umi langsung menghubungi abi, menangis dan meminta maaf atas kelalaiannya, berjanji untuk memperbaikinya. Abi juga tidak menyangka sampai segitunya, padahal setelah meninggalkan rumah, sedikit demi sedikit rasa kesal abi sudah hilang. Ah, terkadang, untuk urusan perasaan perempuan itu memang suka berlebihan, Karel.

***

Nah, Karel, kamu ingin tahu bagaimana caranya memiliki hati yang lembut, sebagaimana umimu memilikinya? Kamu hanya perlu mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah, Sayang. Dengan Yang Maha melembutkan hati, dengan cara yang paling kamu sukai. Kamu harus selalu berbagi, Sholeh. Berbagi apa yang kamu punya, berbagi apa yang kamu bisa. Percayalah, kita tak akan kekurangan dengan memberi, Sayang. Bahkan pada akhirnya, di hari perhitungan nanti, yang kita punya adalah apa yang telah kita berikan. Bukan apa yang telah kita habiskan. Selalulah berusaha untuk mendapatkan kasih sayang-Nya. Karena jika Allah sudah menyayangi kamu, kamu akan mudah disayangi oleh semua orang. Sebagaimana Allah menyayangi umi, sebagaimana umi disayang oleh semua orang.

… bersambung

Bogor: Rabu, 20 November 2013
(16 Muharram 1435 H)
20:22 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: