Letters to Karel #13

Dear Karel,

Karel, dulu waktu abi kecil, abi kesal sekali jika permintaan abi tidak dipenuhi, entah karena keterbatasan orangtua untuk memenuhinya atau alasan lainnya. Sakit sekali rasanya, merasa orangtua tidak sayang dengan kita. Sekarang, saat abi menjadi orangtua, menjadi ayah dari seorang Karel, abi baru mengerti rasanya jika kita sebagai orangtua. Dan kamu ingin tahu perasaan orangtua yang tidak bisa memenuhi keinginan anaknya, Sholeh? Berkali-kali jauh lebih menyakitkan daripada anak yang tidak dipenuhi keinginannya itu sendiri.

Mudah sekali mendeteksi kenapa kamu menangis, Karel. Jika popokmu basah, berarti kamu minta diganti dengan yang kering. Jika popokmu tidak basah, berarti kamu minta minum susu. Jika popok tidak basah tapi kamu tidak mau minum susu, berarti kamu mau digendong. Jadi jika kamu menangis, abi tinggal mengkombinasikan penyebab itu. Kurang dari satu menit kamu akan berhenti menangis. Masalahnya jika kamu mau digendong, kemudian abi gendong, kamu tidak pernah bertahan lebih dari 10 menit, setelah itu tidak nyaman dengan gendongan abi. Menangis, lalu langsung diam setelah nenek atau tante kamu yang menggendong, dengan keahlian dan pengalaman menggendong bayi yang jauh di atas abi. Rasanya itu, ah sulit sekali menggambarkannya. Well, I am so sorry about that. Nantilah abi belajar lagi.

Percayalah, pada dasarnya setiap orangtua menyayangi anaknya, Karel. Hanya saja banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk menyayangi anaknya. Dan abi akan selalu mencari tahu. Jika setiap orang butuh motivasi yang kuat untuk menjalani hidup, maka anak selalu menjadi motivasi yang paling kuat bagi orang tua. Begitupun juga dengan kamu, Karel. Terimakasih untuk selalu menguatkan.

Nah Karel, ada masanya, di suatu ketika nanti, saat kamu beranjak dewasa, kita akan saling canggung dengan hubungan anak-ayah di antara kita, Sayang. Ada ego tertentu yang tidak bisa dijelaskan, ada perasaan tertentu yang sulit untuk diungkapkan. Entah karena apa alasannya. Mungkin karena kita sama-sama lelaki. Tapi sebagian besar ayah dan anak akan mengalaminya, Karel. Entah di fase kehidupan yang mana. Jika kelak kita juga mengalaminya, abi hanya ingin kamu tahu, kalau abi akan menyayangimu selalu, Sholeh.

Hanya yang perlu kamu mengerti, setiap orangtua punya cara yang berbeda untuk menyayangi anaknya. Dan ada sebagian orangtua yang menyayangi anaknya dengan cara yang kurang tepat, Sholeh. Dengan memanjakan, dengan terlalu mengekang atau dengan cara-cara lain yang malah berdampak negatif untuk perkembangan anaknya di masa depan.

Inti dari menyayangi adalah orang yang kita sayangi merasakan kasih sayang kita, Karel. Jadi jika suatu saat kamu merasa kurang kasih sayang, abi ingin kita duduk bersama, mencari cara baru untuk saling menyayangi. Bukan malah saling menghindar dan serba canggung. Atau jika sesekali kita berbeda pendapat tentang suatu hal, yang menyebabkan kamu kurang nyaman untuk membicarakannya, silahkan kamu mencari sandaran lain di luar sana. Tapi pastikan kamu tidak melampiaskannya pada hal-hal yang buruk, Sholeh. Ketika kamu butuh sandaran lain selain keluarga, selalu ingatlah; keluarga bukan hanya tentang hubungan darah, Sayang. Keluarga adalah tentang orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Siapapun dan darimanapun asalnya orang-orang tersebut.

Nah, Karel, kamu mau tahu bagaimana caranya menyayangi, agar kasih sayang yang kamu berikan benar-benar dirasakan oleh orang lain? Kamu cukup menggunakan bahasa yang bisa dipahami dan dirasakan oleh semua orang; ketulusan. Sebagaimana umimu biasa menggunakannya.

***

Umi orang yang tulus, Sayang. Tak heran jika orang yang mengenalnya, atau pernah bersama dengannya, selalu punya kenangan yang manis tentang umi. Bahkan orang yang baru pertama kali bertemu dengan umi, bisa merasakan ketulusan umi. Umi tak pernah hitung-hitungan dalam membantu orang. Umi tipe orang yang mau melakukan dan mengorbankan apa saja untuk orang yang disayanginya, Sholeh. Terlebih lagi kamu. Mungkin kamu masih ingat salah satu percakapan umi dengan kamu ketika kamu masih ada di perut umi. Abi mendengarnya dengan jelas waktu itu, karena kita bertiga berada pada ruangan yang sama. Umi bilang agar kamu sehat-sehat di perutnya. Agar kalian sama-sama berjuang melahirkan secara normal dan saling membantu satu sama lain. Umi bilang sudah siap dengan segala konsekuensi melahirkan kamu. Termasuk jika harus kehilangan nyawa. Sebelumnya, umi juga pernah bilang akan merelakan karier dan pekerjaannya untuk mengurus kamu setelah kamu lahir. Umimu cuma tersenyum menanggapi tulisan yang mengatakan buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya harus jadi ibu rumah tangga. Lalu umi menjawab; Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau tidak bisa jadi isteri dan ibu yang baik.

Abi harap kamu tidak pernah melupakan ketulusan umi, Sayang. Dan menjadikan ketulusan itu sebagai bagian dari diri kamu, sebagai bahasa yang kamu gunakan kepada semua orang. Agar umi semakin bahagia dan bangga melihatmu dari sana.

… bersambung 

 

 

Bogor: Rabu, 20 November 2013
(16 Muharram 1435 H)
20:27 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: