Letters to Karel #15

Dear Karel,

I am sorry, Baby. I will break my promise. Abi pernah janji akan berusaha sebisa mungkin agar kamu bisa hidup senormal mungkin seperti baby pada umumnya, tak akan kekurangan kasih sayang, tidak juga yang lainnya. Walaupun tanpa umi yang mendampingi. Tapi abi lupa, Sholeh. Kita tidak hanya hidup berdua di dunia. Ada keluarga, tetangga, masyarakat dan orang lain yang juga punya mata dan mulut untuk melihat dan bicara. Dan terkadang, mereka juga repot-repot untuk ikut campur.

Abi kira kita sudah bisa membuka lembaran baru. Mengisi lembaran hidup kita setelah umi tiada. Mengemas semua kenangan tentang umi dalam berkas masa lalu. Tapi ternyata, tidak semudah itu, Sholeh. Hidup ibarat buku cerita bersambung yang berlembar-lembar. Tidak seru rasanya jika kita melanjutkan lembar selanjutnya, tanpa mengerti lembar yang sebelumnya. Mungkin masih bisa dijalani. Tapi rasanya berbeda. Abi tidak ingin kita membuka lembaran baru, tapi tak mengerti dengan lembaran-lembaran yang sebelumnya. Abi ingin, jikapun kita harus membuka lembaran baru, kita sudah benar-benar mengerti dengan lembaran yang sebelumnya. Agar lembaran baru yang kita jalani, benar-benar bermakna dan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Well, abi akan coba perjelas lagi kondisinya. Awalnya abi tidak mau membahasnya sekarang-sekarang. Biarlah nanti kamu tahu jika kamu sudah cukup mengerti . Tapi sekali lagi, kita tidak hidup berdua di dunia, Sholeh. Kita hidup di keluarga dan masyarakat, yang tidak bisa sepenuhnya kita kontrol. Jikapun pada akhirnya kamu harus tahu ini, abi akan menjadi orang pertama kali yang memberitahukannya. Bukan orang lain. Tentang kamu yang piatu sedari lahir. Tentang kenyataan yang ingin abi simpan rapi terlebih dulu dari kamu, tapi ternyata kamu harus tahu lebih dini demi kebaikan kamu. Lebih baik abi menjelaskannya sekarang, daripada kamu harus tahu dari orang lain. Baiklah, Karel. Dengarkan ini baik-baik.

Inilah kenyataannya, kenyataan yang harus kita terima semenyakitkan apapun itu. Umi kamu meninggal sesaat setelah melahirkan kamu. Abi kehilangan isteri. Kamu kehilangan ibu. Orang-orang berbeda menyikapinya. Ada yang peduli. Ada yang kasihan. Ada yang menolong. Ada yang membicarakan. Ada yang menyesali. Ada yang menyalahkan. Tapi abi tidak akan bicara tentang orang0-orang, Sayang. Abi akan berbicara tentang kita. Kita tidak akan membicarakan orang lain jika tidak perlu, Sholeh. Apalagi tentang keburukannya. Kita tidak akan merendahkan diri kita dengan membicarakan keburukan orang lain, Karel.

Nah, Karel, yang perlu kamu mengerti adalah hidup ini bukan tentang kondisi, Sholeh. Karena ada banyak kondisi yang kita tidak bisa mengendalikannya. Salah satunya adalah kematian umi. Hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapi kondisi yang menimpa kita, Sayang. Tak peduli seberapa baik atau buruk kondisi tersebut.  Hidup bukan tentang kaya atau miskin, tapi bagaimana kita menyikapi kemiskinan dan kekayaan. Hidup juga bukan tentang kesuksessan dan kegagalan, tapi bagaimana menyikapi kesuksesan dan kegagalan. Seberapa burukpun kondisi yang menimpa kita, jika kita bisa menyikapinya dengan baik, dengan bijak, dengan tepat, perlahan-lahan semuanya akan jauh lebih baik. Dan semuanya akan berjalan lebih mudah, jika kita tahu kapan saatnya bersyukur dan kapan saatnya bersabar.

Terkadang kita sering tertukar untuk menentukan sebuah batas. Menggunakan batas maksimal nikmat untuk bersyukur, dan menggunkan batas minimal musibah untuk bersabar. Kita baru bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang sangat besar, tapi sudah mengeluh dengan musibah yang begitu kecil. Padahal seharusnya, kita harus tetap bersyukur atas nikmat sekecil apapun, dan berusaha sesabar mungkin untuk musibah sebesar apapun.

Tentu saja kita bisa memilih untuk tidak peduli, Sayang. Mengabaikan apapun yang orang bilang. Tapi abi ingin kamu tumbuh dengan kepedulian, Sholeh. Peduli dengan apa yang ada di sekitar kamu, termasuk peduli dengan orang-orang yang menurut orang lain tak layak untuk dipedulikan. Semua orang selalu layak untuk dipedulikan, Sholeh. Karena pada dasarnya, ketika kita peduli dengan orang lain, kepedulian itu akan semakin melembutkan hati kita, akan meningkatkan rasa kasih sayang yang kita punya. Sebagaimana umi dulu melakukannya.

***

Suatu ketika umi pernah bercerita tentang salah seorang temannya yang menyebalkan, yang seringkali merepotkan, tidak mau peduli dengan teman-teman yang lainnya. Kamu tahu apa yang umi bilang, Sholeh? Umi tak terlalu mempermasalahkan seberapa menyebalkan temannya itu, seberapa sering temannya itu merepotkannya, umi hanya merasa kasihan dengan temannya itu, dan meminta masukan abi bagaimana umi harus bersikap agar temannya berubah jadi lebih baik lagi.

Umi tidak seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, Sayang. Tidak suka belanja. Belanja hanya yang perlu-perlu saja. Dan jika belanja di pasar, entah itu sayuran atau yang lainnya, umi jarang sekali menawar. Pernah umi membeli buah-buahan, yang harganya jauh lebih mahal daripada biasanya. Dan umi tahu, harganya tidak wajar. Kalau di pedagang lain bukan segitu. Tapi umi tetap membelinya tanpa menawar. Waktu abi protes sepulangnya umi belanja, sambil ‘cengengesan’ tanpa dosa, umi malah bertanya balik; Emang nggak boleh ya, kalau umi pengen membahagiakan pedagangnya?

***

So, I am sorry. Kamu tidak bisa tumbuh seperti baby pada umumnya, Sholeh. Karena kamu sudah piatu sedari lahir. Tapi jangan pernah berkecil hati, jika siapapun nanti, entah teman-teman kamu atau siapalah, bertanya atau membicarakan tentang umi. Abi janji akan selalu membuat kamu tumbuh dengan spesial, Karel. Dengan pemahaman yang baik, dengan setulus-tulusnya kasih sayang, dengan pikiran yang lurus, juga hati yang lembut.

And thank you Baby, for always remembering me that we should never give up on someone we love. 

… bersambung

 

Bogor: Rabu, 20 November 2013
(16 Muharram 1435 H)
20:38 WIB

Advertisements

4 comments

  1. Saya menunggu2 kelanjutan dr Letters for Karel. Apakah berhenti sampai disini saja?

    1. nanti akan dilanjut lagi, insyaAllah 🙂

  2. Hai mbak sekar.. Saya sangat menunggu kisah baby karel.. Bener2 ga sabar.. Ditunggu ya mbak..

  3. hehe, insyaAllah. 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: