Letters to Karel #14

Dear Karel,

Good job, Baby. Sebulan sudah kamu ada. Abi ingin sekali mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya, atas pengertiannya, sehingga kita bisa melewati bulan pertama ini dengan lebih mudah. Terimakasih untuk tidak pernah rewel, untuk tidak pernah menangis lebih dari satu menit. Ah, sebulan terakhir, mungkin abi yang lebih banyak menangis daripada kamu, Sholeh. Kamu tumbuh dengan sehat, pintar dan kuat, Sayang. Persis seperti yang diinginkan umi kamu.

Orang-orang heran dengan pertumbuhan kamu yang jauh lebih pesat daripada bayi lainnya di sekitar rumah. Gerakan kamu kuat dan aktif. Kamu sudah pintar tidur miring sepenuhnya ke kiri dan ke kanan dengan seimbang dan bergantian. Kamu sudah bisa menanggapi jika diajak bicara, walaupun suaranya masih itu-itu saja. Kamu selalu mencicipi terlebih dahulu susu yang diminumkan, memastikan itu  ASI dan tidak basi. Kamu tidak pernah mau jika yang diminumkan adalah susu formula. Kamu juga tidak mau jika ASIP-nya sudah tidak bagus. Sekarang kamu malah punya permintaan baru, selain minum susu, ganti popok dan digendong. Kamu sudah sering minta diceritakan, minta diajak ngobrol, minta diajarkan banyak hal. Dan huh, kamu lebih senang mendengar musik dari boneka ikan menjelang tidur, daripada mendengarkan ceritanya abi. Kamu tumbuh dengan sangat baik di bulan pertama, Sholeh. Semoga lebih baik lagi di bulan-bulan berikutnya.


Maaf jika beberapa kali abi tidak mau menumui kamu, Karel. Dulu waktu kamu masih di perut umi, abi dan umi sepakat sambil bercanda kalau ada bagian dari wajah kamu yang jangan sampai seperti umi; mata kamu. Jangan sipit kayak matanya umi. Dan setelah kamu lahir, saat umi pertama dan terakhir kali melihat wajah kamu, umi senang sekali karena kamu lebih banyak mirip umi daripada abi. Apalagi mata kamu. Matamu umi sekali, Sayang. Dan maaf, terkadang itu menyiksa abi. Mengingatkan abi pada umi. Terkadang, kenangan manis juga bisa menyakitkan, Sayang. Ketika kamu sadar kalau kamu tidak pernah bisa mengulanginya lagi. Kadang, rindu juga bisa mematikan, Sholeh. Saat kamu tahu, kenyataannya kamu tidak bisa lagi bertemu dengan orang yang kamu rindukan. Tidak ada orangtua manapun yang mau menangis di hadapan anaknya, Sholeh. Ah, begitulah kira-kira. Nanti jika saatnya tiba, kamu akan tahu dan mengerti.  Semoga perlahan-lahan, semuanya kian membaik.

Karel, banyak orang yang tidak menyadari bahwa apa yang terjadi dalam kehidupannya, adalah kumpulan dari kebaikan Allah dan kebaikan orang lain kepadanya. Abi ingin kamu mengerti ini sedini mungkin, bahwa setiap tetes darah yang mengalir dari tubuh kamu sekarang, adalah hasil kebaikan orang lain yang bahkan tidak mengenal kamu sebelumnya, Sholeh. Ada ibu yang memerah ASI nya untuk kamu di sela-sela jam kantornya. Ada ibu rumah tangga yang repot-repot memerah ASI nya untuk kamu, padahal anaknya tidak memerlukan ASIP.  Ada om dan tante yang berbaik hati menjemput atau mengantarkan ASIP untuk kamu dari luar kota. Jadi tak sepantasnya kita mengeluh, Sholeh. Karena seburuk apapun kondisi kita, selalu ada kebaikan Allah dan orang lain yang akan menyertai. Kebaikan yang besarnya berkali-kali lipat dari hal sepele yang biasanya kita keluhkan.

Nah, Karel, jika kita harus membalas kebaikan Allah dengan bersyukur, maka kebaikan orang lain harus kita balas dengan kebaikan yang lebih banyak. Tidak harus kepada orang yang melakukan kebaikan, tapi kepada siapapun kebaikan itu dialamatkan. Kebaikan akan selalu menghasilkan kebaikan, Sholeh. Semoga pahalanya juga mengalir kepada orang-orang yang sudah berbuat baik kepada kamu, Sayang. Semoga setiap tetes ASI, setiap langkah kaki, setiap kata doa, yang orang lain berikan kepada kamu, mendapatkan balasan dengan sebaik-baiknya balasan, mendapatkan pahala dengan sebaik-baiknya pahala, mendapatkan kebaikan dengan sebesar-besarnya kebaikan.

Kamu anak yang baik, Karel. Dan akan selalu jadi anak yang baik. Sejak kamu di perut umi, ketika kamu lahir, sekarang, nanti, kapanpun, dimanapun, sampai kapanpun, kamu selalu akan jadi anak yang baik, Sholeh. Ingat itu baik-baik. Pegang prinsip itu erat-erat.  Tanamkan itu selalu dalam diri kamu. Anak yang baik bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan, Sayang. Tapi yang segera menyadari, minta maaf dan memperbaiki jika ia berbuat salah. Toh, sesekali kamu butuh kesalahan untuk belajar lebih banyak. Anak yang baik juga tidak harus selalu pintar, Sayang. Anak yang baik adalah anak yang selalu mau belajar. Tidak peduli sesulit dan semenyakitkan apapun proses pembelajaran itu harus berlangsung. Anak yang baik bukan berarti jauh dari masalah, Sayang. Anak yang baik malah harus sering berhubungan dengan masalah. Sebagai pemberi solusi. Jikapun sesekali sebagai penyebab masalah, anak yang baik akan selalu bertanggungjawab, Sholeh. Jika nanti kamu sudah besar nanti, dan kamu sedang dalam posisi yang sulit, maka ingatlah bahwa kamu akan selalu jadi anak yang baik, Sholeh. Dan kamu akan menghadapi dan menjalani segalanya sebagai anak yang baik.

Dan untuk kondisi kita saat ini, ada baiknya abi sampaikan pesan yang pernah umi sampaikan, semoga makin menguatkan:

… bersambung 

 

 

Bogor: Rabu, 20 November 2013
(16 Muharram 1435 H)
20:32 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: