Suaramu di Semarang

Akhir pekan kemarin, akhirnya bisa menghirup udara masa kecil di kota loempia. Selalu suka bunyi bel di Stasiun Tawang. Seperti bunyi musik jawa, atau apa ya? Suara khas, dan selalu berhasil menguak ingatan singkat tentangmu. Singkat saja, karena banyak bagian yang mesti dilupakan. ๐Ÿ™‚

Aku mendengarmu…
Sesekali, aku menengok ke belakang, hendak melihatmu. Mencermati dengan kesadaran penuh bahwa aku harus membangun masa depan dengan sebaik-baik usaha. Sesekali saja. Seperti kau telah mengajarkanku untuk tidak sering melihat kaca spion jika sedang berkendaraan.

Nah, sekarang aku kembali. Melihatmu sebagian, meskipun ingatan lama selalu berusaha menyeruak. Pada akhirnya, walaupun sulit, aku bisa berdamai. Memilah sepotong demi sepotong, menyesapnya kembali sebagai bentuk rasa syukur tak terperi. Aku beruntung pernah menjadi bagian dari hidupmu, walau tak bertahan lama untuk mendampingi pertumbuhanmu yang kian bulan kian pesat. Hitungan bulan atau tahun ya? aku lupa. Dan memang enggan mengamatinya.

Aku berhutang budi.
Pada seorang kawan di Kampusku kini, yang menyarankan satu hal saja sebelum bertemu kamu. Letakkan Al-Qur’an dalam hatimu, kau akan tenang, begitu katanya. Berhasil! Aku kembali hadir di duniamu, di keseharianmu, dengan perasaan jauh lebih tenang, jauh lebih damai. ๐Ÿ™‚

***

Ada yang perlu kukunjungi dalam waktu yang sangat singkat ini, Jumat sampai Minggu. Aku harus bergegas pulang pada minggu pagi. Tepat setelah shalat subuh.

Ada salah satu anggota keluargaku yang sedang menghadapi hari bahagianya sebagai seorang profesor. Seorang akademisi yang berjuang mati-matian memenuhi dahaganya akan ilmu. Pengukuhan menjadi guru besar. Alhamdulillah..

DSC_0014 (3)Aku sangat antusias menghadiri undangan beliau. Aku memanggilnya Bude. Setidaknya aku menjadi tahu, seperti apa rupa seseorang meraih gelar akademisi paling tinggi, membaca jurnal-jurnal dan hasil penelitian mereka, dan tentunya berdiskusi! ๐Ÿ˜€

Kau harus tahu, bahwa aku terkantuk-kantuk di meja makan. Memaksakan kedua mata tetap terbuka selagi Pakde dan Budeku duduk ditempat yang sama, dan bersemangat menanyakan bagaimana perkembangan kuliahku. Asyik berdiskusi panjang lebar dengan dua orang profesor. Yang satu perikanan, yang satu lagi peternakan. Hei, itu ada di rantai pertanian. Ini hal yang menyenangkan! ๐Ÿ˜€

Kesenangan, sekaligus kebahagiaan yang begitu sederhana. Yah, jika tidak buatmu, ini tetap menyenangkan buatku. Dan akan selalu begitu. ๐Ÿ™‚

***

Aku masih mendengarmu…
Begitu datang pagi yang -entahlah- menyedihkan atau menggembirakan karena aku akan pulang. Rumahku di Bogor, untuk saat ini. Kalau-kalau aku harus kembali, kuharap aku akan punya hidup yang baru tanpa perlu meminum obat tidur. Boleh jadi aku tak bisa tidur karena dihantui masa lalu, haha. Kalau-kalau aku harus kembali, bukankah kita akan hidup berdampingan? Aku akan menjadi bagianmu, dan kau akan menjadi bagian dari diriku. Seutuhnya? tidak. Allah lebih berhak memilikiku, seutuhnya. SekehendakNya pula. ๐Ÿ™‚

Kakiku menjejak lorong gerbong sempit. Duduk manis di bangku paling ujung. Menanti kepergian yang begitu cepat. Aku harus meninggalkanmu, lagi. Setidaknya aku pergi tidak seperti dulu-dulu. Sekarang lebih terasa ringan dan menyenangkan.

Cepat saja pikiranku teralihkan dengan bunyi bel stasiun, seperti biasa. Berangkat tepat pukul 05.30 WIB. Segera memasang earphone, menarik sebuah buku yang sudah pernah kubaca, tapi sengaja kubawa. Rasanya ini buku yang pas disaat perjalanan. Bahkan aku merasa menjadi tokoh utamanya! ๐Ÿ˜€

Kau harus merasakan sensasi ini. Coba saja bepergian jauh, dan bacalah buku itu.

DSC_0032 (4)Menikmati pagi dengan sepiring nasi goreng, semangkuk pesan bijak dari pak Paulo Coelho, dan soundtrack Love Story yang berjudul Shiny Love, Hawaii Romantic Guitar, dan Waiting for Sunset milik Jubing Kristianto (duh, meskipun kala itu jauh dari senja)

Membangun suasana nyaman diatas kereta itu memang butuh kreativitas. Ah ya! kapan-kapan aku akan menulis satu cuplikan kisah dari buku itu. Menarik sekali untuk dinikmati.

Kau harus antusias membacanya. ๐Ÿ˜€

***

Aku semakin mendengarmu..
Ketika aku harus pulang, langit sudah mereda. Menyisakan sebagian dingin, embun, dan becek aspal. Mungkinkah banjir? Ah, itu sudah biasa kan buatmu? Kau kan tak pernah peduli dengan itu. Banjir atau tidak, kau tetap menjalankan hidupmu seperti dulu. Waktu kita masih sering bertegur sapa.

Aku senang menjadi bagian dari saksi pengukuhan salah seorang keluarga dekat. Siap dan tanpa basa-basi meninggalkan aula. Dan tiba-tiba saja, aku rindu kotaku kini. Kota yang sudah mengajariku banyak sekali ilmu, lewat hikmah hidup yang menderas. Sayang sekali, cuaca dan sisa-sisa hujan membuatku ingin segera pulang, dan itu artinya aku harus pergi lagi darimu. Aku ingin kembali ke rutinitas di kota itu. Kota Hujan yang menyegarkan. ๐Ÿ™‚

DSC_0019 (2)Ya. Aku harus pulang. Kapan-kapan, aku akan kembali lagi. InsyaAllah…

Dan aku tetap mendengarmu…
mesin diesel menderu, bersiap meninggalkan pertemuan singkat kita yang malu-malu. Sama seperti
kepergianku tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal padamu.

Berlalu begitu
dan semakin jauh mendengar suaramu,

bel stasiun tawang yang merdu….. ๐Ÿ™‚

~syalala ๐Ÿ˜€
Bogor; Rabu, 20 November 2013
(16 Muharram 1435 H)
22:55 WIB

Advertisements

13 comments

  1. The Alcemist, salah satu buku favorit saya itu ๐Ÿ™‚
    Gak kepikiran buat bawa buku itu saat traveling. Bukunya memang tidak terlampau tebal, tapi isinya yang ‘berat’ untuk dibaca selintas pintas saat jalan-jalan. Hahaha…

    1. boleh mbak kapan-kapan dicoba baca alkemis sambil jalan-jalan. Ceritanya cucok! ๐Ÿ˜€

  2. pengen ke samarang, makan nasi koyor

    1. saya malah lupa rasanya kayak apa mbak -_-‘

      1. dulu pas ada acara bango kuliner nusantara di malang, sempat nyicip
        enak bangett
        search resepnya di gugel ga ada

      2. dulu pas ada acara bango kuliner nusantara di malang, sempat nyicip
        enak bangett
        search resepnya di gugel ga ada

        1. wah, apa aku tanyain resepnya ke keluargaku aja ya mbak? abis itu diposting di blog. Siapa tau bisa sedikit mengobati rasa kangen kita ๐Ÿ˜€ *kebetulan keluarga besar mayoritas tinggal di jawa tengah semua*

  3. usimautauaja · · Reply

    Waziik, masih ada ga oleh-olehnya? Gue belom nih gue~ *dicaplok*

    1. ada. kardus tahu bakso ๐Ÿ˜€

  4. Mantap deh.. Buku selalu ada ya.. Aku seneng klo ada yg suka membaca, sayangnya aku baca tuh mood2an hahaha.. Tp pengen bgt tularin anak2ku cinta membaca, ada saran tak? Hehe

    1. ada ada, Maaa… entar aku posting di blog ini. Tapi bukan aku yang kasih tips, hehe. Ada penulis namanya Fauzhil Adhim. Beliau kompeten banget di bidang parenting. InsyaAllah, Tunggu postingannya ya Mama Aya ๐Ÿ˜€

      1. Wah.. Ditunggu banget hiihihi…

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: