Tali Sepatu dan Perasaan Wanita

“Sekarang udah tau apa yang harus kamu lakukan?” aku menatapnya lekat.
“Hmmm…” Key mengangguk mantap. Wajahnya menyimpulkan bahwa hatinya sudah jauh lebih baik, lebih damai.

Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana mil ladunka rahmatan innaka antal wahhab

“Ya Allah, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi”
 (Ali Imran: 8)

***

4c256533fb4a6ea009730e65ffbe4ddc“Key, kalau kamu suka, berdoalah sama Allah. Minta dijodohkan, boleh dong? Nggak ada tuh larangan minta apapun sama Allah. Selama nggak melanggar syari’at. Aku dukung kamu kok. Selama cara kamu menyukai dia itu benar. Toh dia-nya juga nggak tau.” ucapku sambil menyuapkan nasi hangat dan potongan kecil ayam bakar.

“Nggaklah. Aku nggak pantes” tukas Key cepat sambil menggelengkan kepala. Dia belum menyentuh makanannya sama sekali. Kami sedang makan siang di warung favorit mahasiswa, tidak jauh dari kampus.

“Kalo nggak mau, ya berarti nggak usah bilang-bilang ke semua orang kalo kamu suka sama dia. Apalagi dia belum nikah, ada di deket kita, gampang ditemui. Hati-hati, fitnah bisa muncul kapanpun dan dari sapapun. Cukup rasa sukamu itu disimpan sendiri. Salah-salah, malah bikin kamu makin berharap lebih. Who knows? Setan gampang masuk ke hati manusia macam kita ini..” aku tersenyum.

Sebelumnya, Key memang ribut bercerita ke beberapa temannya bahwa ia menyukai salah satu kakak senior dari jurusan lain. Wajar. Pria yang disukai Key sungguh cerdas, tak sedikit mahasiswi yang menyukainya, tampan meskipun soal yang satu ini relatif, supel, eksis, mahir public speaking, organisatoris, sekaligus akademisi berprestasi. Dan satu lagi, sholeh. 🙂 Sosok pria yang nyaris sempurna.

Key menarik napas panjang. “Gitu ya?”
“Emang kamu maunya gimana?”
Key mengangkat kedua bahunya. “Aku usahain. Thanks ya..”
“Anything for you, sist…” aku tersenyum lebar. Menggenggam punggung tangannya dengan hangat. Key, suatu saat nanti kamu pasti tahu. Ada hal yang nggak bisa dijelaskan. Namanya perasaan perempuan. Dia begitu peka, tapi sekaligus menyulitkan. Sungguh menyebalkan.

***

Namanya Kahfiya, sering dipanggil Key. Sahabatku di kampus. Semenjak percakapan kami di warung makan saat siang hari, kulihat Key tidak pernah memakai sepatu coklatnya lagi. Aku tahu persis, itu sepatu yang dia suka dan selalu digunakan jika turun lapang untuk praktikum satu mata kuliah di jurusan kami.

“Key, kemana si koko?” tanyaku menyebutkan nama sepatu coklat kesayangannya.
“Dikasih ke orang” Key nyengir.
“Lah?”
“Sepatunya ngingetin aku sama dia” Key berujar pelan. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kok bisa?”

***

“Key, diiket tali sepatunya.” Key menengok ke belakang. Mendapati seorang pria berjalan persis di belakangnya. Tiba-tiba saja langkah Key terhenti. Ia meraba pipinya. Ada yang memerah nampaknya. Sayang sekali, di hutan tidak ada kaca. Nggak salah denger kan? Oh my.. dia manggil Key! Dia manggil Key! Key salah tingkah. Jelas saja. Hanya keluarga dan sahabat-sahabatnya yang memanggilnya dengan panggilan akrab; Key. Selain itu, ia dipanggil Kahfiya. Key tersenyum sendiri. Untung saja, rombongannya sudah berjalan di depan, termasuk si pria itu, berjalan melewatinya. Key berhenti mendadak, hendak menalikan sepatunya. Ia sekarang berada paling belakang. Mengikat sepatu gunungnya sebelum beranjak menyusul kawan-kawannya.

Key dan dua orang teman sekelompoknya bergegas menyelesaikan tugas praktikum di pedesaan dekat hutan yang dilaluinya. Mereka harus mewawancarai salah satu penduduk. Key ingat betul, ia meninggalkan jaketnya di rumah salah satu penduduk sebelum wawancara. Key sempat mampir tadi. Ketika Key kembali ke rumah salah satu warga yang sempat didatanginya, ia tidak menemukan jaketnya sama sekali. Hari sudah beranjak petang, dan Key memutuskan kembali ke rombongan, pergi dari desa tersebut.

“Key, ini tadi jaketnya ketinggalan.” Key yang tengah duduk santai di beranda penginapan sambil membaca buku, mendongakkan kepalanya. Tangannya meraih jaket hijau yang disodorkan pria itu. Itu jaketku! Ada di dia… dan Dia senyum! Ya Allah..

“Makasih, Kak” Key tersenyum kikuk. Jaketnya sudah terlipat rapi. Rasanya hati Key sungguh berbunga-bunga. Pria itu begitu ramah, baik, dan dekat dengan adik-adik kelasnya.

“Yak, istirahatnya cukup ya. Sekarang kita nanjak ke atas, kita lanjutkan meneliti ekologi tumbuhan diatas. Siap-siap ya.” Pria itu mengeraskan suaranya. Mengumumkan perjalanan yang akan segera dimulai kembali. Key bersiap, berjalan di barisan depan dengan dua teman sekelompoknya. Sesampainya di puncak, Key tidak melihat batang hidung pria itu. Key menengok kanan-kiri, mengedarkan pandangan, mencari sosok lelaki dengan kaos putih dan celana gunung coklat. Mendadak hati Key kesal bukan main. Seperti ada yang hilang, tercerabut dari hatinya. Tak terasa, ada yang hangat di pipinya. Key menangis. Tak peduli rombongan, Key meninggalkan tempat dengan kekecewaan besar.

Key berjalan cepat menuruni bukit, hendak kembali ke bus. Tali sepatunya lepas.

Key, diiket tali sepatunya.
Langkah kaki Key semakin cepat, setengah berlari. Seperti menggunakan earphone, suaranya terus berulang di telinga Key.

***

“Bwahahahahaha!!!!!” aku tertawa keras. Memegangi perutku yang tiba-tiba terasa sakit.

“Gitu deh. Aku bodoh banget ya? gitu aja nangis.. Padahal kan bisa aja dia lagi ada urusan kemanaaa gitu. Kok ya bisa-bisanya aku kecewa berat pas dia tiba-tiba pergi. Berasa dia ninggalin aku sendirian. Berasa dunia punya aku sama dia doang. Segitu belum nikah ya. Aku sempet ngebayangin, gimanaa ya kira-kira perasaanku nanti kalo denger kabar dia mau nikah. Haha..” Key bercerita panjang lebar tentang tragedi sepatu coklatnya. Ia tertawa sendiri menceritakan kehebohannya. Aku menutup mulut, mencoba menahan tawa.

“Nggak usah nunggu dipake, itu sepatu cuma aku liatin aja, suara dia tuh seolah-olah muncul. Nyuruh aku iket talinya. Nyebelin deh. Makanya, mending aku kasih ke orang. Beres.”

“Ett dah.. segitu hebohnya. Terus, sepatunya kamu kasih siapa?”

“Tetangga. Anaknya nggak bisa sekolah, nggak ada sepatu.” Key menjawab santai. Tawaku terhenti. Aku menatapnya syahdu.

“Anyway, setelah kejadian di hutan dan pedesaan itu, tiba-tiba aku baca tulisan di FB yang bunyinya kurang lebih begini; Jangan coba-coba berharap jodoh seperti Ali bin Abi Thalib, jika kita tidak mampu menjadi Fatimah. Berdoa sama Allah, semoga hati kita dijaga, suci sampai waktu yang tepat tiba.” ujar Key. Aku tersenyum lebar, mengangkat dua jempol. Key tertawa kecil. Wajahnya terlihat bahagia.

“Pas banget ya dapet tulisan begitu disaat perasaanku lagi nggak karuan.” Key tertawa lagi.

“Key.. its oke. Itu namanya wanita. Wanita punya perasaan yang peka, lembut, sekaligus menyulitkan. Mudah menyayangi, mudah berempati, sekaligus mudah jatuh hati. Bahayanya, jatuh hatinya itu nggak kenal waktu. Di waktu yang salah, hasilnya malah mengecewakan. Itu artinya, dari awal si wanita ke-geer-an, ngarep sesuatu yang lebih tapi lisan menyangkal. Terlalu suka membesar-besarkan peristiwa, membesar-besarkan sebuah kejadian. Seolah-olah itu pertanda cinta yang sempurna.”

“hahaha..” Key tertawa. Merasa si wanita itu adalah dirinya.

“Kedengerannya kompleks banget yak? Aduh, emang sebenernya perasaan perempuan itu nggak pernah bisa dijelasin. Nggak akan pernah deh.” aku mengibaskan tangan.

“Kok kayaknya dengan adanya perasaan perempuan, segala sesuatunya jadi keliatan rempong ya? Dikit-dikit diambil hati, dikit-dikit pake perasaan. Kayak aku ini mungkin.” Key nyengir.

“Eits, jangan pernah nyalahin keputusan Allah. Allah udah menetapkan perempuan punya hati yang jauh lebih peka dari laki-laki. Dan yang perlu semua orang tau, nggak ada yang salah sama yang namanya ‘perasaan perempuan’. Tinggal cara mengelolanya aja yang kudu tepat. Perasaan perempuan itu kayak belut, licin banget. Harus hati-hati dan cerdas mengaturnya..” kulihat, mata Key membulat. Ia mengangguk-angguk kecil.

“Kamu, aku, bahkan para laki-laki dan orang-orang diluar sana dengan logika dan rasionalitas sehebat apapun, lahir dari perasaan perempuan. Lahir dari sebuah cinta, kasih sayang, kesabaran, wah.. banyaklah Key. Sekarang aku tanya, Ibumu seneng nggak pas punya anak kamu? Ibumu sayang nggak sama kamu?” mata Key menatap lekat kedua bola mataku.

Aku tersenyum simpul.

“Aku kasih kamu pe-er nih. Setelah ini, kamu nggak akan pernah mengabaikan lagi yang namanya perasaan perempuan. Nanti, coba tanya sama Ibumu begini; Apa yang Ibu rasakan waktu pertama kali tahu bahwa Ibu mengandung aku?”

Kamu akan dapat jawaban yang sangat indah, Key…” 🙂

malam dan sebotol teh kemasan
Bogor; Senin, 9 Desember 2013
23:27 WIB

Advertisements

6 comments

  1. Entah mengapa saya jadi ingat Ibu saya.. 🙂
    Memang harus berhati-hati dengan hati perempuan. Setidaknya saya sedikit paham dari 3 kakak saya yang semuanya perempuan.

    1. 3 kakak perempuan? wah 😀

  2. Baru ‘ngeh’ tulisan Arabnya ada kurang.. Kurang kata “ba’da”..

    1. Oh iya. Makasih bro

      1. Yo, sama-sama..

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: