Mati Gaya #scene1

Mau cerita soal adik angkat di rumah.

Aku nggak pernah punya pengalaman ngerawat adik kandung (karena emang nggak punya) dan dirawat kakak kandung (yang ini juga nggak punya, haha). Yes, I’am the only child. Sempet punya sih, 2 kakak dan 1 adik, but they passed away. Jadi belum sempet ngerasain gimana rupa rasa merawat dan dirawat saudara kandung. Haha

Nah, nyambung soal adik angkat ini, sebelumnya aku mau cerita dulu tentang kehidupan mereka.

Namanya Aliya dan Kholifah. Dua nama yang cantik, tapi sayangnya nggak secantik kehidupan mereka yang –maaf– menyedihkan. Duh, sorry juga, gue gatau cara mengungkapkan perasaan pake ucapan, jadi cuma bisa lewat tulisan. Ya itu, surat kecil ini. *elus dada* haha *toyor*

Bapaknya meninggal pas mereka masih piyik-piyik. Masih kecil, seupil dinosaurus. *gausah ngebayangin*
Ibunya agak ‘stres’. Ngerti ya maksudku, hehe. Mereka berdua itu nggak ada yang ngurus. Tiap hari makan mie. Ettdah, gue ngebayangin mereka dari piyik sampe umur 8 tahun (Aliya, yang paling gede) dikasih makan mie. Kayak apa itu rupa perutnya, ususnya, lambungnya? Bermasalah?

Nggak tuh. Die-nye sehat-sehat aja. Bener-bener anak kuat! Hahah.
Cuma satu doang sakitnya mereka. Aliya –maaf– korengan, Kholifah kutuan. #tibatibahening

Eh, bentar, ini bukan mau eksplorasi kondisi mereka lho ya. Ini tuh, aku tulis disini, karena pengen cerita keseruanku ama keluarga ngerawat anak baru. Scara, mereka anak terlantar, mainnya di kali, kebon, duh!
Aku cuma pengen berbagi aja. Kalo aku jadi belajar banyak hal gara-gara mereka. Banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak. 😀

As we know, ngerawat anak sendiri sama anak orang, apalagi anak yang tadinya liar, susahnya pake banget. Ada yang pernah ngerasain nggak sih? Mereka ini anak yatim, yang kata orang, biasanya bandel. Koreksi ya kalo aku salah. Rata-rata yang aku temuin juga begitu. Anak yatim biasanya bandel. Tapi memang disitu ujiannya. Belajar sabar. Meskipun bandelnya ga bisa digeneralisir buat semua anak yatim sih ya. 🙂 

***

#scene1
Pulang kampus, biasanya ngobrol-ngobrol bentar sama Ibuk. Cerita-cerita soal ngampus seharian, trus sibuk sama urusan pribadi. Naaaaah! semenjak ada dua anak itu, aku jadi harus meluangkan waktu buat ngajarin baca. Eh, bukan baca, tapi belajar ABJAD. Awalnya, pusing juga, mereka nggak bisa-bisa, padahal cuma ngeja Bobo. B-O-B-O. Haha, rasanya waktu itu pengen nyakar tembok.

(pulang ngampus malem, hampir jam 21.00. Liat mereka lagi nyantai, cuma lagi ngerapihin tas sekolah)
Gue: (G): “Udah belajar belom tadi?”
Aliya (A) & Kholifah (K): “Udaaaah” (jawab barengan)
G: “Hebat! belajar apa tadi?”
K: “Belajar ngapus” (sambil liatin satu lembar isi bukunya bekas tulisan yang dihapus)
G: (keburu capek, langsung masuk kamar, tidoooooooor)
A & K: (lanjut ngapus)

*krik.krik*

tambah mendung, tapi nggak gerimis
Bogor; Ahad, 19 Januari 2014
11:44 am

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: