Surat Kecil

Aku belum pernah punya pengalaman apapun untuk memperlakukanmu sebagaimana seharusnya. Kamu orang baru di kehidupanku. Tak ada satupun yang kutahu darimu, kecuali Bapakmu yang sudah pergi jauh sekali, dan Ibumu yang memiliki down syndrome.

Lantas, bagaimana aku menyebut ini?
Mungkin bisa kamu sebut ini semacam surat. Aku punya beragam ekspresi untuk menunjukkan perasaanku padamu. Tapi selalu saja wajahku kesulitan menyampaikan keseriusan ini. Mengapa sulit? Karena aku takut disebut cengeng. Betapa perasaanku padamu selalu saja mengundang air mata.

Kamu tahu bait ini?

You give me strength
You give me hope
You give me someone to love,
someone to hope

Kamu?
Ya, kamu!

You give me strength.
Kamu selalu punya alasan untuk melumpuhkan keluhanku. Semacam kekuatan untuk tidak pernah mengeluh sedetikpun, sedikit saja. Selalu bersemangat, dan mampu menyemangati orang lain. Simpan kesedihan dalam hati, bukan diperlihatkan melalui raut wajah lelah dan berlipat-lipat.

You give me hope.
Aku, dengan usia berkepala dua, bisa kudapatkan apa yang kumau. Aku tahu dengan jelas, aku ingin jadi apa di masa depan. Aku paham sekali, sekarang aku bisa bersekolah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia. Aku bisa berjalan-jalan dengan mudah kemanapun aku mau. Kamu, setidaknya memberiku banyak alasan untuk tidak pernah berhenti berharap, sesempit apapun kotak kehidupan, setajam apapun roda gilas dunia yang sungguh seringkali membuat kita terlena, bahkan terperosok jatuh.

You give me someone to love.
Sekarang aku punya alasan untuk mudah mengatakan kata itu. Meskipun sampai sekarang, belum kudapati juga definisi yang tepat. Memang baiknya tak perlu ada definisi soal yang satu itu. Kamu, menjadi alasanku untuk berani merasakan, menyatakan, dan menjaga dengan baik perasaan itu. Kemudian mensyukurinya karena ia begitu indah dan melembutkan hati yang sering mati karena terlalu banyak dikeraskan dengan perdebatan dan rasa dengki. Penyakit hati memang mudah mematikan tunasnya yang mulai bersemi. Begitu kan?

You give me someone (Allah) to hope.
Aku akan mengartikan ini sebagai bagian yang sering pula terlewat ketika terdesak dengan sebuah masalah. Padahal, masalahku tidak sebesar masalahmu. Tapi betapa Mahabesar Allah, kamu tetap kuat sampai sekarang, sampai kamu berdiri di hadapanku dengan keceriaan yang sama pada suasana apapun.

***

Kamu,
Aliya dan Kholifah...

Picture1 (800x570)

Aliya (Kakak: kanan) dan Kholifah (Adik: kiri)

Entah bagaimana aku menyebut ini. Kalian hadir ditengah-tengah keluargaku, masuk kedalam keseharian kami, begitu tiba-tiba. Seperti paket yang diletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Allah mengirim kalian untukku, untuk kami; aku dan kedua orang tuaku. Apa yang bisa kami perbuat? Apa? Selain membesarkanmu dengan segenap kekuatan kami, kemiskinan ilmu kami, dan keterbatasan pengetahuan kami.

Kami pun harus belajar banyak hal. Mendidikmu, tentu tidak sama dengan mendidik anak yang memiliki kedua orang tua lengkap. Hidupmu, sebelum bertemu kami, membuat kami harus banyak belajar juga darimu.

“dulu waktu masih di rumah mamah, gimana?” tanya Ibu di suatu malam.
“disuruh mulung sama bapak (bapak tiri)” jawab Aliya.
“mulungnya kapan aja?”
“biasanya sih malem. Jam 9 malem, sampe jam 1”
“jam 1??”

Aku dan Ibu saling pandang. Pantas saja, kami sering mendengar suara anak-anak di tong sampah depan rumah. Ternyata itu mereka.

“Kok mau sih disuruh mulung malem-malem?” tanyaku.
“Disuruh bapak. Kalo nggak mau, ntar kasihan mamah. Mamah suka dipukul sama bapak.”
“terus nanti barang-barang yang dipulung gimana?” aku masih penasaran.
“dijual bapak buat beli rokok sama kopi”  tiba-tiba ruangan menjadi hening. Kami semua terdiam.

Mendidikmu, adalah satu bentuk keistimewaan bagiku, bagi kami. Kalian adalah bentuk anugerah sekaligus ujian; ujian kesabaran. Namun, kami yakin, bahwa Allah akan menggantikan upaya kami dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari dunia dan seluruh isinya. Kami; aku dan kedua orang tuaku, hanya mengharapkan satu hal darimu, dari kalian berdua.

Jadilah wanita yang mampu membawa kedua orang tuamu ke surga. Surga yang paling tinggi, dengan keridhoan dan keberkahan Allah.

***

Percakapan kami di suatu petang,

“Aliya, Kholifah, kalo udah gede, cita-citanya pengen jadi apa?” tanyaku sambil menemani mereka mengerjakan PR.
“Aku pengen jadi guru!” jawab Kholifah lantang.
“Aku…ngng.. apa ya? Pelukis deh.” Aliya menimpali
“Kok pelukis?”
“Soalnnya aku suka gambar, suka mewarnai.” Mata aliya masih bertumpu pada PR-nya. Aku mengangguk-angguk kecil.
“Kalo Kholifah, pengen jadi guru mata pelajaran apa?”
“Matematika. Soalnya aku suka matematika. Nilaiku bagus terus di sekolah.”
“Hebat cita-citanya! Aliya sama Kholifah belajar yang rajin ya, biar nanti jadi orang hebat, bisa jadi guru sama pelukis. Jangan lupa, doain Bapak sama Mamah. Ya?” suaraku riang menyemangati mereka.
Dua anak itu tersenyum, mengangguk, dan serempak menjawab, “Iya kak.”

Itu contoh sepenggal perbincangan sederhana kami. Aku menjadi semakin paham bahwa masa depanmu betul-betul tanpa arah. Bukan tidak mungkin punya impian tinggi. Tapi, siapa yang akan membimbingmu kelak, jika bukan karena pertolongan Allah melalui tetangga dan orang-orang sekitar?

Meskipun impianmu begitu membanggakan, tapi bagaimana situasimu saat ini, membuat siapapun yang melihatnya akan mudah berputus asa. Bagaimana tidak? Ibumu, mengalami down syndrome, tidak berpikir layaknya orang normal. Bapakmu sudah lama tiada. Sedangkan Bapak tiri? Apa yang bisa diharapkan dari seorang Ayah yang hanya sanggup memperlakukan anaknya dengan kejam dan licik?

Seluruh biaya hidupmu, adalah hasil dari kedermawanan hati orang-orang. Kondisi ini, sungguh membuat siapapun amat mudah menjauh dari rahmat Allah. Jika saja tak ada kasih sayang Allah, kehendakNya untuk mengurusi hidupmu, kekuatanNya untuk membolak-balikkan hati manusia, mungkin pintu hati kami tak akan pernah terbuka untuk senantiasa berharap, memohon belas kasih, dan terus bersemangat menjalani hidup dengan kerja keras. Maka, kami akan meyakini dengan kesungguhan, bahwa selama Allah masih membersamai kehidupan ini, maka tak akan ada yang terlantar. Bukankah Allah yang memberi rezeki?

Entah sampai kapan kamu ada disini. Dirumah kami yang kecil.
Kami, khususnya aku, berharap besar pada Allah. Semoga dengan adanya kalian, hidup kami menjadi lebih berarti dan bermanfaat. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi setiap langkah kita.

Picture3

Kita?
Ya, aku dan kamu! 😀

mendung gerimis
Bogor; Ahad, 19 Januari 2014
9:06 am

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: