Jalan-jalan ke Papua

Kayak yang udah saya posting sebelumnya disini, kemarin malam adalah hari pertama saya mulai kerjaaaaa. Kerja yang sumpeh tumpeh tumpeh, nyenengin banget. Soalnya sesuai passion, bisa dikerjain dimana aja, sambil tiduran, makan, denger musik, ibadah juga nggak keganggu. Meskipun otak dituntut harus kritis, kreatif, inovatif, ga kudet kabar dunia. Huaaahahaha ๐Ÿ˜† . Oh iya, saya harus baca 3 buku pekan ini. Bukunya apa? rahasia. Heheh *ngeselin*
onion-emoticons-set-2-61
Ini postingan random, beneran. Haha. Sampe dibikin tag-nya sendiri. Pengen nulis aja pagi-pagi. Baca, kalo bosen, nulis. Baca lagi, kalo bosen lagi, ya nulis lagi. Gitu aja terus sampe mata tangan punggung kepala leher meledak. ๐Ÿ™„

Ceritanya saya punya rencana jalan-jalan atau travelling ke Papua. Tapi belom tau budgetnya berapa. Yang pasti mau nggembel, backpackeran. Sering nemu artikel dan buku yang ngupas tuntas cara jitu ngelola duit seiprit buat milih penginapan murah tapi tetep nyaman. Makanan yang enak, kenyang, sehat, dan muraaaah *konsisten* :mrgreen: Sampe sekarang masih browsing, nyari-nyari literatur. Katanya harus transit dulu ya? Saya bener-bener kudet banget soal jalan-jalan ke luar pulau Jawa. Biasanya traveling di pulau Jawa mulu. ๐Ÿ˜ณ Ah, pasti ada jalan kok kalo niat dan usaha kita kuat buat kesana.
onion-emoticons-set-2-59

Kenapa Papua?
Saya pengen banget ke Raja Ampat (walopun raja ampat bukan punya kita lagi, kabarnya sih udah dijual ke orang asing ๐Ÿ˜ฅ ). Pengen main ke rumah kakak kelas juga. Beliau jadi kepala sekolah pas lulus sarjana. Satu kampus sama saya, dan pas pulang ke Fak-fak, beberapa bulan kemudian langsung diangkat kepsek. Padahal kalo di pulau Jawa, mungkin prosesnya bisa panjang banget. Harus S2 kalo ga salah ya? Lah ini, baru fresh graduate, langsung ada di posisi tinggi. Saya jadi punya kesimpulan kalau Papua, khususnya yang daerah kabupaten, kayak tempat kakak kelas saya itu, Fak-fak, masih jauh tertinggal. Beliau juga bilang kalo dibandingkan Kabupaten Bogor, tempatnya itu jauh banget dari modernisasi. Ketinggalan banyak teknologi.

IMG-20131003-WA0003Itu artikel koran nasional yang selalu ditempel setiap harinya di mading masjid kampus. Berhubung kampus saya adalah kampus pertanian, jadi ngerasa jleb banget pas baru baca judulnya. Ehmmm, bukannya emang masih banyak ya orang yang enggan mengabdi disana? kecuali penduduk aslinya yang merantau ke Jawa, terus pulang lagi demi membangun daerahnya. *angkat topi* ๐Ÿ˜Ž Pengen ah kapan-kapan saya nulis esai tentang pertanian dan Papua. Saya emang anak pertanian yang aneh. Malah lebih banyak nulis fiksi.
onion-emoticons-set-2-51

Terus terus, ngobrol soal jalan-jalan, sekarang saya mupeng dong sama blog orang-orang yang suka saya kunjungi. Jepretannya itu lhoooooooo. Bikin ngiri, pengen juga kan saya moto-moto objek yang bagus, terus posting di blog atau ikutin lomba. Traveling sama fotografi emang cucok ya. Kayaknya bakal seru kalo saya coba moto-moto nanti pas bener-bener bisa traveling ke Papua. ๐Ÿ˜€

Eh eh, di otak saya sekarang isinya numpuk-numpuk. Proposal, dosen pembimbing skripsi, bahan penelitian, novel, kerjaan, rumah karya, hiks. Segini baru urusan pribadi. Gimana kalo udah nikah nanti. Lebih banyak lagi yang mesti diurusin. Aaaaaaaaaaakk ๐Ÿ˜ฏ
onion-emoticons-set-2-35

Haha. Asli. Nggak karuan ini postingan. Makasih lho yang udah sabar baca. Udahan, mau lanjut kerjaaaa.
onion-emoticons-set-2-84

pusing tapi seneng haha
Bogor: Kamis, 23 Januari 2014
22 Rabbi’ al awal 1435 H
9:48 am

Advertisements

17 comments

  1. haaa.. emoticonnnya lucu. semoga kesampaian yaa.. amiin

  2. Eh? Masak sih Raja Ampat dijual?! Kok bisa? Tp msh di dalam NKRI, kan? :O

    Dulu, prnh denger jg hal kyk gini di Lombok. Pulau2 pada dijualin. Tp msh dlm NKRI. Cuman kyk jual tanah gitu. Kalo di Bali, susah mau jual pulau. Hotel/resor yang beli tanah tepat pinggir pantai pun, tdk boleh menutup akses ke pantai utk umum. Soalnya, org Bali kan kalo sembahyang, ada ritual melarung ke laut. Dulu sempat ada privatisasi lahan, tp skrg gak boleh. Semoga ditiru daerah lainnya.

    Soal pertanian di Papua, setahu saya orang Papua makanan pokoknya sagu dan bukan beras, kyknya. CMIIW. Jd, kira2 bertani apa, ya? Sbg org yg awam, saya cuman tahu bertani padi. Hahahaha

    Btw, good luck sama cita2nya! ๐Ÿ˜€ Saya jg agak telat ini suka travelingnya. Baru usia segini baru suka jalan2 :p

    1. Iya mbak. Saya juga tau dari beberapa temen yang kayaknya sih baca langsung atau dikasih tau dosennya *soalnya dia ngomongnya yakin banget, hehe* Tapi masih NKRI kok mbak. Mungkin jatohnya jadi kayak saham gitu mbak. Memang ga banyak yg tau. Kayaknya saya juga perlu cari literatur utk menguatkan. Hehe

      Di daerah saya sini, ada curug seribu, tempat wisata yang seru. Lokasinya di desa gitu, masih asri. Pas ga sengaja ngobrol sama supir angkot yg juga warga desa itu, curug seribunya udah dijual ke orang asing. ๐Ÿ˜ฅ Kayaknya emang banyak penduduk Indonesia yang ga cinta sama negaranya. Ah, entahlah.

      Sagu, jagung, itu juga termasuk tanaman pertanian. Kategorinya tanaman pangan. Yang kurang disana itu budidayanya, cara bertaninya yang masih jauh tertinggal. Kalo budidayanya masih kurang maju, nanti bisa berpengaruh dgn jumlah produksi (kuantitas) dan kualitas tanamannya. Ujung-ujungnya masyarakat Papua bisa krisis pangan kalo pertaniannya ga dikelola dgn baik. *berasa jadi dosen* :mrgreen:

      Ehmm, mbak Mirna usia berapa? ๐Ÿ˜› *salahpokus*

      1. hihi… jgn nanya umur sama perempuan. pamali ituh… ๐Ÿ˜€

        1. Ups! *ambil lakban* *plester mulut* *salim mbak mirna*

      2. usimautauaja · · Reply

        Yang aku denger dari dosenku, itu lebih ke pengelolaannya yang hampir semua dikelola asing. Bahkan yang promosiin sampe terkenal di dunia itu mereka ehehehe.

        Ayooook! Kita kesana, kuyakin kita pasti bisa! *lagu dora*

        1. Gaya lu! Nabuuuung >,<

    2. Kalau masalah literatur saya juga kurang paham. Tapi berdasarkan pengalaman saya waktu ikut ekspedisi Surili (Studi Konservasi Lingkungan) Himakova Fahutan IPB bulan Juli-Agustus 2013 lalu, masyarakat Indonesia Timur sudah tidak murni makan sagu sebagai makanan pokok. Sagu yang dimakan seperti nasi biasa disebut “Papeda”. Nah, studi kasusnya itu di Masohi, Ibukota Provinsi Maluku Tengah, Pulau Seram. Papeda dan makanan olahan sagu lainnya masih eksis, tapi “nasi” tidak kalah tenar. Mungkin ini efek dari dijadikannya “beras” sebagai makanan pokok oleh pemerintah Presiden Soeharto pada zaman dahulu. Sedih, di sana padi tidak bisa ditanam. Semua beras yang dijual di pasar adalah “impor” dari Jawa maupun luar negeri. Wajar kalau Indonesia kesulitan memenuhi pasokan kebutuhan beras. Tidak semua daerah bisa ditanam padi sementara saat ini hampir di seluruh Indonesia membutuhkan beras sebagai makanan pokok.. ๐Ÿ˜ฆ

      1. weew. ๐Ÿ˜ฏ berarti seharusnya dipertahankan aja ya konsumsi papeda-nya. Biar diversifikasi pangan (beras) gitu. Yah, pokoknya mah disana masih butuh penyuluh pertanian. Yosh! semangat! ๐Ÿ˜Ž

      2. Dulu, saat zamannya Pak Harto, saat Papua pernah terkena bencana, datang bantuan pangan berupa beras ke sana. Saat itu, sebagian besar dari mereka tidak familier dengan nasi. Jadilah kebingungan untuk memasaknya, katanya.
        Menurut saya, seharusnya kebijakan pangan harus juga berdasarkan kearifan lokal. Bagaimana pun, mereka yang hidup lama di sana, jauh lebih tahu tentang tanah mereka sendiri berdasarkan pengalaman sedari nenek moyang.

      3. Saya setuju, seharusnya seperti itu.

        Tapi memang tidak semua desa di Pulau Seram memakan nasi sebagai makanan pokok. Salah satu desa yang saya tahu adalah Desa Piliana yang berada di dekat Taman Nasional Manusela. Karena aksesibilitas jalan yang sulit untuk menuju Piliana, maka di sana jarang terdapat beras (yang di-impor dari Jawa atau luar negeri). Masyarakat di sana biasa memakan sejenis talas (saya tidak tahu spesies atau varietas apa) yang berumbi besar sebagai asupan pemenuh karbohidrat mereka sehari-hari.

  3. jih -,-

    ini orang masih koplak. insyaf toh mbak, kurang – kurangin.

    1. Masbuloh? ๐Ÿ˜†

  4. ini ditulis menggunakan teknik SEO ya sepertinya, saya menemukan tulisan anda dari mesin pencari. bagus SERP-nya. boleh ikutan lomba http://www(dot)GoIndonesia(dot)com/kontes-seo

    1. tahun lalu saya hampir mau ikutan pelatihan internet (salah satunya SEO) Tapi ga jadi. Yang saya tau, salah satu tekniknya adalah sering posting. Supaya menarik perhatian pembaca, judulnya dibuat seunik mungkin. Tentu isinya juga harus bagus. Teknik lainnya saya belum belajar :mrgreen: blog saya juga isinya gini-gini aja, belum bisa punya tulisan yang berkualitas. ๐Ÿ˜ฆ heuu

      Makasih infonya ya ๐Ÿ˜€

  5. kepingin juga ke Papua..
    tapi keingat budgetnya jauhnya minta ampun T_T

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: