Keprak

Tersajinya makanan, dupa, dan air bunga untuk mencuci tangan sang dalang menjadi penanda dimulainya acara. Suara waranggana terdengar jelas sampai ke barisan paling belakang. Meskipun gerimis, tentu saja, acara ini selalu ramai dihadiri penduduk setempat maupun dari desa tetangga. Antusiasme penonton terlihat dari seluruh kursi yang terisi penuh, dan mereka yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Ada juga para penonton yang duduk di beranda rumah orang, di atas pohon rambutan tetangga, sampai di atap rumah.

Selain manusia, bekas kebun yang disulap menjadi panggung untuk nanggap ini juga sudah dipadati oleh bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul, dan peralatan gamelan lain. Nuansa mistis kental mengiringi setiap pentas wayang jimat yang dibawakan sang dalang kebanggaan.

Kelir membentang megah, bersiap menjadi saksi setiap lakon cerita yang dimunculkan. Di tengah modernisasi yang mewabah di seluruh pelosok bumi, rupanya dalang Darsono masih setia menggunakan blencong. Melalui lampu minyak itu, cerita wayang akan terlihat hidup. Dan memang wayang itu benar-benar membuat sang Dalang bermain elok tanpa sadar selama 10 jam!

Tak ada satupun yang tak tersihir oleh pesona ndalangnya. Tutur kata, lenggok tangannya memainkan satu per-satu tokoh wayang jimat, sempurna membius penonton. Selain karena kepiawaiannya bercerita, hampir sebagian besar warga lereng Merbabu menghormati pria berusia enam puluhan ini. Kebijaksanaan dan budi pekerti yang luhur, tak pelak membuatnya menjadi panutan dan tempat bertanya masayarakat Desa Kedakan. Sekaligus menjadi sesepuh yang mewarisi seperangkat wayang jimat istimewa.

Nyala blencong bergoyang, ketika dengan semangat membara sang dalang mengisahkan peristiwa perang. Menambah aura epik yang muncul, menyelimuti para penonton. Gending mengalun merdu, memprovokasi ritme cerita menjadi semakin bernyawa. Wayang jimat memang selalu tampak mempesona. Terlebih tokoh Janoko yang menjadi andalan. Wayang kulit itu selalu berhasil membuat bulu kuduk berdiri.

Acara diakhiri dengan hempasan dahsyat. Memberikan pelajaran kehidupan yang berharga bagi setiap penduduk yang rela semalam suntuk berposisi melelahkan, hanya untuk menonton. Tak bisa dipungkiri, banyak kebaikan yang sanggup disampaikan melalui ndalang. Pengaruh Ki Dalang Darsono pada pola perilaku masyarakat Desa Kedakan di lereng Merbabu ini buktinya.

wayang_kulit

***

“Ealaaah.. Cah Ayu… monggo mlebet..” sapa Pak Darsono ramah.

Gadis itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri.  “Mboten, Pak.. Matur suwun… ”

“Aryooo!” Pak Darsono memanggil anaknya.

Dalem, Pak?” pemuda gagah bernama Aryo muncul dengan baju lurik cokelat, menghampiri Bapaknya. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan, melihat siapa yang datang bertamu.

Aryo memutuskan menemui tamunya sesegera mungkin. Mereka berdua menuju ke pendopo, persis di halaman samping rumah Aryo. Duduk bersisian di atas undakan. Aryo sudah berdebat panjang dengan hatinya, semalam. Pagi ini, semuanya harus dituntaskan. Ia tak ingin berubah menjadi pemuda pembangkang yang tak pernah diajari unggah-ungguh.

Mata gadis itu menatap tanah Kedakan yang merah dan basah karena hujan semalam. Pikirannya diliputi kecemasan.

“Saya punya alasan. Ini akan jadi pilihan saya”

Gadis itu menoleh. Itu tandanya dia tidak akan melanjutkan kuliahnya.

“Aku… mau sekalian ke kuburan Mbah Yut, Mas..” Gadis itu mengalihkan topik pembicaraan.

Aryo mengangguk. Pernah satu kali Aryo menemani gadis manis itu berziarah ke makam Mbah Buyutnya, yang tak begitu jauh dari Desa Kedakan. Sejak tadi, ia tak pernah mau menatap wajah, apalagi mata gadis itu. Takut hatinya limbung.

“Saya harus segera berangkat. Buru-buru. Bapak sudah menunggu daritadi. Nyuwunsewu, Dik..”
Aryo tersenyum masygul dan berlalu begitu saja, meninggalkan sang gadis dengan hati trenyuh. Yang ditinggalkan hanya bisa menatap punggung tegap sang pemuda dengan air mata yang tiba-tiba jatuh. Gadis itu lebih dari paham dengan perubahan sikap Aryo barusan. Kelembutan, kedewasaan, dan sikap mengayominya begitu sulit dilupakan.

***

Putri berdiri, mengubah posisi awalnya. Kakinya cukup pegal, setelah tiga puluh menit berjongkok dan merapalkan doa-doa untuk Mbah Yut tersayang. Ini kunjungan ketiga ke makam Mbah Yut. Sampai sekarang, ia terus bertanya-tanya. Tak pernah ada cerita dari keluarga besarnya tentang Mbah Yut. Papa dan Mamanya hanya mengatakan kalau Mbah Yut sudah dimakamkan di Desa Wekas, Kaponan. Putri hanya ingat liburan yang ia habiskan setiap bulan di rumah Mbah Yut, di lereng gunung Merbabu, semasa TK sampai SD.

Matanya basah. Entah itu kesedihan yang jelas karena meninggalnya salah satu anggota keluarga tercinta, atau karena bercampur juga dengan perginya sosok pemuda yang ia kagumi dan cintai. Putri mengusap pipinya pelan. Bersiap kembali ke Yogya dengan perasaan tak menentu.

Melihat gadis itu beranjak pergi, sepasang kaki melangkah mendekat ke sebuah gundukan tanah yang baru saja dibersihkan dari gulma. Matanya menatap papan bertuliskan sederet huruf dan angka. Bibirnya terkembang lebar.

***

Pak Darsono menangkupkan kedua tangannya. Memejamkan mata dan menunduk dalam. Khusyuk menghirup wangi asap mengepul di hadapannya. Ada sebuah kegetiran yang merasuki hati.

Rupanya Aryo benar-benar mencintai gadis itu. Sungguh, dia gadis yang baik. Batin Pak Darsono terus bergemuruh.

Pak Darsono keluar dari satu kamar yang disediakan khusus untuk ritualnya menjaga seperangkat wayang jimat, khususnya tokoh wayang kulit Janoko. Ia beranjak ke nggeladri di teras rumahnya, membawa sebuah belati yang habis dipakai. Mengajak Aryo turut serta. Pak Darsono duduk santai sambil mengusap belatinya dengan lembut. Sayup-sayup, mulutnya melantunkan Megatruh. Hingga tiba pada topik utama.

“Kamu mencintainya, Le?”

Aryo menunduk dalam-dalam. Tak pernah mengerti alasan sesungguhnya.

“Coba buka, Le…” Pak Darsono menyodorkan sebuah kotak berbahan kayu jati.

Ia sudah menyiapkan ini sejak tadi rupanya, gumam Aryo dalam hati.

Aryo tahu itu keprak milik Bapaknya. Menurut, ia buka kotak itu hati-hati.
Satu tokoh wayang. Perempuan. Bapak membuat wayang baru rupanya. Kulitnya mirip Janoko. Tapi… tunggu dulu.

“Ambil”

Jari-jari panjangnya meraba benda itu. Wajah Aryo seketika memucat. Ketegangan luar biasa menguasainya. Tangannya bergetar. Dahinya berkeringat. Napasnya memburu hebat. “Pak….” matanya beralih menatap Bapaknya, mencoba mencari jawaban.

Pak Darsono tersenyum lebar, “Dia sekarang milikmu. Seutuhnya.”

Aryo menggeleng kuat. Reflek melemparkan benda itu kembali ke dalam kotak. Matanya menuntut penjelasan dari seorang dalang wayang kulit.

“Bukankah kulit Cah Ayu itu yang kamu rindu?”

dalang1

Malam itu, sang dalang wayang jimat sempurna membuka jati dirinya. []

——–by.sekar——–

Keterangan
1. Cah Ayu… monggo mlebet.. : Anak cantik, mari masuk
2. Mboten, Pak.. Matur suwun..: Tidak, Pak.. Terima kasih..
3. Dalem, Pak? : Ya, Pak?
4. Nyuwunsewu : permisi
5. Ndalang : seorang dalang yang memainkan kesenian wayang
6. Lurik : baju bergaris, berwarna cokelat tua. Biasa digunakan oleh masyarakat suku jawa.
7. Kelir : layar lebar yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit.
8. Nggeladri : tempat untuk duduk-duduk santai yang terbuat dari semen.
9. Megatruh : tembang macapat jawa yang berisi tentang kematian. Megatruh atau megat roh berarti terpisahnya nyawa dari jasad, terlepasnya ruh atau nyawa menuju keabadian (entah itu keabadian yang indah di surga atau keabadian yang celaka di neraka).
10. Waranggana : penyanyi wanita dalam seni karawitan yang dimainkan di pagelaran wayang kulit. Lazim disebut sinden.
11. Unggah-ungguh: tata krama
12. Undakan : anak tangga
13. Le : panggilan untuk anak laki-laki. Serupa dengan “Nak”
14. Keprak : kotak berbahan kayu jati, tempat menyimpan wayang.

 gambar ngambil dari google, dan saya lupa alamat web-nya. Pokoknya kata kuncinya; fotografi pesona dalang, fotografi dalang. ._.

 

sangat mencintai sastra lokal
Bogor
;
Senin, 14 April 2014
22.36 WIB

Advertisements

3 comments

  1. Waduuh akhirnya bikin merinding…

    1. Iya, bener, akhirnya serem juga berasa baca kisah2 orang psikopat..
      2 jempol buat Sekar! 😀

  2. […] cerpennya pernah saya publish di sini. Dan tanggapan sang editor ternyata nggak kalah sadis. Intinya cerpen saya masih jelek. Terus saya […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: