Hati-hati Terhadap Acara Ini! #5 – END

Ini adalah bagian pamungkas dari cerita perjalanan saya selama mengikuti acara #KampusFiksi 7 – reguler di Yogyakarta, tanggal 29-30 Maret 2014. Dan acara ini benar-benar harus disikapi dengan hati-hati. Karena #KampusFiksi adalah salah satu acara yang memberikan candu, tanpa diminta. Parahnya, candu itu bertahan lama! Gila. Saya begitu bersemangat sampai detik ini. Terpenting, saya sudah mulai bisa move on. 😀

Semoga ilmu yang saya peroleh selama di karantina akan bermanfaat bagi banyak orang, khususnya bagi tulisan saya kelak. Tulisan ini adalah sajian dari apa yang saya serap selama perjalanan Bogor – Yogyakarta. Mulai dari berangkat naik kendaraan sampai tiba di rumah kembali dengan sekardus buku.

Bukan. Bukan sekardus buku.
Tapi sepuluh kardus ilmu dan segudang pemahaman baru 🙂

kf

HATI-HATI! Menulis membuatmu terancam keren!

***

Coaching Session
Diantara semua sesi materi tentang teknik menulis, keredaksian, dan dunia penerbit, bagian coaching adalah yang paling menantang menurut saya. Salah seorang editor, sekaligus kepala redaksi memberikan tugas kepada seluruh peserta untuk membuat satu cerpen sebanyak 4-5 halaman. Topik cerpen adalah traffic light atau lampu merah yang menyala ditengah kemacetan. Traffic light adalah unsur yang harus ada di dalam cerpen yang ditugaskan. Konflik bebas.

Mulai jam 13.00 sampai jam 15.00, kami ditinggalkan disebuah ruangan yang memang digunakan untuk acara. Kami diberi waktu 2 jam untuk menulis. Menulis dengan gaya apapun, asal tidak saling mengganggu. Sambil dengar musik, sambil ngemil, sambil ngupil, bebas dengan gaya apapun. Asal jangan sambil tidur. Niscaya cerpen itu tidak akan pernah jadi. Oke skip. Karena ternyata proses ini berjalan normal. Tidak ditemukan gaya-gaya aneh dalam proses penyusunan cerpen seperti yang saya bayangkan.

Selesai membuat cerpen, dikoreksilah masing-masing tulisan peserta. Sebelumnya, peserta dibagi ke dalam 4 kelompok. Satu kelompok, anggotanya 5-6 orang. Setiap kelompok punya mentor, yang tak lain dan tak bukan adalah editor penerbit penyelenggara. Selanjutnya, para editor ini yang akan membimbing kami, seluruh peserta, selepas karantina. Dibimbing menulis sampai mahir. InsyaAllah
Wan Wan Emoticons 10*yuhuu*

 

Menulis; Mudah atau Sulit?
Menulis itu mudah.
Dulu…
Untuk yang kelak tidak menjadikan menulis sebagai profesi..

Menulis itu susah.
Ternyata…
Khususnya untuk yang menjadikan jalan ini sebagai pilihan hidup, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Menggali ide, menuangkannya ke dalam sebuah cerita memang butuh perjuangan. Menulis memang suatu upaya luar biasa. Bila menulis adalah pekerjaan yang mudah, licin, dan mulus, maka dikatakan you are not working. You’re not challenging yourself. There is no elevator to success. You have to take stairs. Tak ada elevator jalur cepat menuju kesuksesan. Kita harus mencobanya satu demi satu anak tangga.

Saya melihat banyak sekali faktor X yang kemudian menjadikan saya tidak akan pernah lagi menyepelekan pilihan ini. Semoga Allah ridho, dan saya tak akan menyesal di kemudian hari cause i have choose this way. 🙂

Sesi coaching itu sukses membuat saya malu! Semakin merasa miskin sekali ilmu yang saya punya. Fakir! Betapa saya malas sekali belajar. Dua puluh tahun hidup, saya gunakan untuk apa? Kenapa saya begitu mudah berputus asa? Mengapa saya mudah sekali bersantai, bermain, melegalkan kejumudan, kefuturan? Mengapa saya tidak bergerak cepat? Saat ini, dunia tidak lagi butuh orang-orang kuat. Karena yang akan menang adalah yang mau dan mampu bergerak cepat, serta orang-orang yang kreatif.

Dari setiap kelompok coaching, akan dipilih 1 cerpen terbaik untuk dikoreksi langsung oleh rektor #KampusFiksi di hadapan seluruh peserta. Beliau adalah salah satu tokoh dalam buku Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia, karya Korrie Layun Rampan. Beruntung sekali saya bisa belajar langsung dari beliau. Semoga Allah memberkahi ilmu dan kebaikan beliau.

Meskipun cerpen saya bukan yang terpilih, tapi saya mempelajari sungguh-sungguh cerpen-cerpen yang terpilih. Geli juga waktu saya membayangkan bahwa ini terlihat seperti kompetisi Indonesian Idol. Yang terpilih sungguh tak terduga. As you know, dalam sebuah kompetisi, yang mungkin tampak biasa saja, tapi ternyata menurut juri luar biasa. Yang tampak standar, tapi ternyata spesial. Bukan maksud apa-apa, tapi saya sempat berpikir, “saya juga bisa bikin (tulisan) yang kayak gitu..” Tapi nyatanya, tulisan saya tidak terpilih. Nyatanya lagi, di dalam kelompok saya, ada salah satu peserta yang juga seorang penulis buku best seller, tapi cerpennya tidak terpilih.

Dan kenyataan ini cukup membuat saya berhenti menganggap bahwa menulis itu mudah. Jangan sombong, anak muda!
Wan Wan Emoticons 17

 

T2; Technique and Taste
“Kalimatmu terlalu runtun, sistematis. Coba dibuat lebih lincah lagi”
“Tulisanmu membuat pusing, menuntut pembaca untuk berpikir keras. Tapi justru cerpenmu ini yang paling bagus diantara yang lain”
“Cerpennya hidup..”
“Coba kalimat ini diganti, supaya membuat pembaca penasaran”
dll

Diatas itu adalah beberapa komentar pak rektor #KampusFiksi terhadap cerpen terpilih yang mendapat koreksi khusus dari beliau. Fiksi butuh kelincahan. Butuh kesegaran dalam setiap kalimat yang disusun. Kesimpulan saya pribadi, menulis tidak sekedar tentang teknik saja. Tapi harus ada taste, harus menulis dengan hati. Bagaimana kita bisa membuat orang lain jatuh cinta pada tokoh yang kita tuliskan kalau kita sendiri tidak jatuh cinta dengan tokoh itu? Bagaimana bisa membuat orang lain menangis, kalau kita sebagai penulisnya sendiri tidak menangis? Its mean, kita perlu mendalami dan merasakan betul, apa yang sedang kita tulis. Bahkan beberapa kali saya menemukan penulis yang pada akhirnya betul-betul jatuh cinta dengan tokoh yang ia ciptakan sendiri. Saking menghayatinya.

Tulis dengan hati. Tulis dengan penuh kejujuran.
Wan Wan Emoticons 61

 

This is A Writer Should be
Berikut beberapa poin penting (dari banyak poin yang saya dapat) bagi siapapun yang ingin menjadi penulis. Rituit yang banyak! 🙂
1. Pengetahuan diatas rata-rata
Banyak membaca adalah syarat mutlak. Banyak belajar, dan selalu antusias dengan ilmu. Membaca, memahami, mengkaji.
2. Leluasa menjadi penafsir
Segala macam kondisi dan situasi bisa diartikan secara mendalam, diperoleh ide yang unik, dan dituliskan dengan baik. Jadilah sebuah karya yang mempesona setiap pembaca. Contoh sederhana, misalnya ketika saya naik kereta dari satu stasiun ke stasiun lain. Saya bisa bebas menafsirkan keadaan sekitar menjadi apapun yang saya mau.
3. Mampu mempengaruhi orang lain secara massal
4. Terus-menerus upgrade kemampuan diri: banyak sharing (diskusi), jangan malas riset
5. Mampu mengelola ide

Semua ide, sejatinya sudah banyak ditulis, diambil oleh orang lain, ditemukan, dikaji. Tapi kemudian ide itu bisa menjadi unik dan terasa baru, ketika penulis bisa mengatur sudut pandang dalam menyajikan ide tersebut. Ide umum atau ide pasaran bisa jadi unik kalau disajikan dengan sudut pandang yang baik oleh penulisnya.

Beberapa contoh kasus.
Harper Lee membuang naskahnya ke luar jendela, di tengah tumpukan salju karena kecewa dengan tulisannya sendiri. Untung sang teman menyuruhnya mengambil kembali, membesarkan hatinya, dan jadilah naskah itu salah satu buku legendaris sepanjang masa : To Kill A Mockingbird. Ini buku wajib bagi penulis!

William Faulkner pernah berkata, ia tidak bisa menulis lagi dan lagi karena tidak punya ide. Ada juga penulis-penulis besar yang sempat putus asa, tapi mereka berjuang kembali penuh semangat untuk menyelesaikan bukunya. Salah satu yang sempat ingin berhenti, lalu kembali lagi adalah L Frank Baum, The Wizard of Oz. Novelnya telah difilmkan dalam beberapa dekade dengan versi berbeda. Ada juga Virginia Woolf yang harus memperhatikan detil seorang sahabatnya, hanya untuk mendapatkan karakter terkenal dalam novelnya Mrs. Dalloway. Lalu ada Sir Arthur Conan Doyle yang menyukai profesornya yang eksentrik di kampus, sampai jadilah ia Sherlock Holmes.

Tak usah gusar. Proses kreatif setiap orang itu berbeda. Jangan pernah ingin menjadi seperti si A, B, C, yang dengan jatuh bangun kehidupannya, dia bisa sukses dengan bukunya itu. Hei, kamu.. Ya, kamu yang sedang baca tulisan ini. Percayalah kalau kamu punya nilai juang yang sama istimewanya dengan orang itu. Bedanya hanya pada waktu. Dia sudah sukses lebih dulu, sedangkan kamu, sebentar lagi. Begitu kan? 🙂

6. Kelola imajinasi
Jangkauan imajinasi berhubungan dengan kapasitas keilmuan seorang penulis. Jika ilmu yang dimilikinya luas dan dalam, maka imajinasinya akan semakin tinggi. MasyaAllah.. begitu hebatnya Allah menciptakan imajinasi di dalam kepala manusia. Kita bisa dengan bebas berpikir apapun, melakukan kreatifitas sebanyak-banyaknya. Dan semua hanya berasal dari kepala. Imajinasi adalah buah pikiran tanpa bentuk, tak ada bau, dan tak bisa dirasakan oleh panca indera. Tapi outputnya luar biasa. Ada karya nyata. 😀
7. No kudet, No kuper. Lets make your journey!
Saya mulai menyukai aktivitas jalan-jalan karena kota Yogyakarta. 😀 Masa kecil yang saya habiskan di kota Atlas itu, membawa saya paling tidak satu kali dalam setahun, rutin mengunjungi beberapa lokasi wisata di Yogya. Semenjak saya gemar mencatat value dari perjalanan yang saya lakukan, saya semakin ingin menjelajah negeri ini. Dan perjalanan ini sangat membantu penulis untuk maju, punya banyak ide, dan pengalaman seru tentunya. Journey ini ampuh! Trust, it works! 😀

Dan keinginan menjelajah Nusantara semakin menggebu ketika saya semakin sadar bahwa usia saya terus bertambah, tapi jatah hidup makin berkurang. Mumpung masih muda, sebelum jalan-jalan ke luar negeri, sebelum saya bertambah tua. Dan sebelum Ibuk repot menyuruh saya bersegera menikah. Hahah *terus kentut di depan mikrofon*
SAMWOO Emoticons 48Wan Wan Emoticons 36

Pintar Menulis? Banyaklah Berlatih
Terlepas dari poin-poin yang saya sebutkan sebelumnya, berlatih adalah kunci utamanya. Sering ikut pelatihan, boleh-boleh saja dan bagus sekali. Tapi paling penting adalah berlatih terus-menerus. Kata Stephen King, si pakar penulis cerita thriller, “Jika kau meluangkan waktu 1 jam saja sehari untuk menulis, kau adalah Penulis. “ Artinya, bukan sekedar kuantitas, tapi juga kualitas. Produktivitas itu berbanding lurus dengan kualitas.

Tapi tetap harus ada target. Misal, 1 jam itu harus bisa buat 1 halaman dengan 200 kata. Berarti cerpennya jadi seminggu kan? Kalau sudah ngebet di kejar deadline, bisa 1 hari jadi 5-8 halaman. Bagaimana terus termotivasi? Harus sering ke toko buku, sering gabung di komunitas menulis, lihat pencapaian orang lain yang sudah selangkah lebih maju dari kita. Dengan kata lain, kepo. Kepo itu juga bagus ya kalau dikelola. 😆

Secara teori, tulisan itu harus draft dan re-draft. Artinya disusun, dibaca, disusun ulang, dibaca ulang. Jarang penulis macam JRR Tolkien yang mampu menuliskan kisahnya dengan sangat indah sejak halaman pertama The Hobbit, tanpa banyak revisi.

No excuse, just write.. 🙂
th_096_KWan Wan Emoticons 22

 

Berani
Saya tidak pernah tahu apakah pilihan saya ini akan mendatangkan royalti yang besar. Apakah lantas saya bisa sukses, melejit, bisa hidup makmur dengan mengandalkan pilihan ini. Jadi saya bisa membangun satu tempat khusus untuk rumah karya atau semacam rumah belajar untuk anak usia 6-17 tahun, dan beli mac air 😛 Saya tidak tahu. Bahkan tidak ada kepastian dengan pilihan yang satu ini. Kalau begitu, saya hanya butuh satu tumpuan untuk mampu melangkah. Keberanian.
Wan Wan Emoticons 27

1910-waktu-terus-berlari-sampai-engkau-menghentikannya-dalam-wujudSaya ucapkan terima kasih untuk seluruh crew DIVAPress, para editor (mbak rina, mbak ayun, bulek ve, mbak ajjah, mbak misni). Terutama pak Edi Akhiles yang tak pernah berhenti berbagi dan memberi. Special for alumnus #KampusFiksi 7 yang hebat-hebat. Senang sekali mengenal dan belajar banyak dari kalian. Semoga tali silaturahim kita tetap terjaga, terus saling menyemangati, berlomba-lomba menghasilkan karya. Sukses!

LOVE YOU, GUYS!
Miss Bone Emoticons 76

keep running!
Bogor; Ahad, 27 April 2014
19:31 WIB

 

Advertisements

3 comments

  1. baru baca lengkaap. kereen ish.. ^^
    dapet kesempatan kumpul bareng mereka.

    tin gaksabaran buat nulis2 rada panjang 😥

    1. pendek-pendek juga gapapa mbak. asal konsisten setiap hari, hehe

      1. iyaah,

        huush huush pergi kau malas 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: