Belajar Menghadapi Kehilangan

Siapa diantara kamu yang pernah kehilangan orang tercinta? Khususnya Ayah atau Ibu.

rain_fall_animation_effect_by_here_i_is-d3f4p63Alhamdulillah orang tua saya masih lengkap. Meskipun tidak bisa dibilang utuh juga. Saya membayangkan, seandainya tiba-tiba saya harus hidup seorang diri. Semua orang terkasih, terdekat, dan yang sangat saya cintai meninggal dunia. Sedangkan saya masih sekolah, belum bekerja, butuh banyak biaya untuk pendidikan, makan sehari-hari, dan banyak lagi. Bagaimana caranya agar saya mampu bertahan? Terlepas dari sikap pasrah atau tawakal kepada Allah. Tentu itu menjadi satu bentuk kekuatan dan keharusan dalam diri setiap muslim. Ini pikiran saya semenjak masuk ke bangku perkuliahan.

Saya coba berdiskusi dengan salah seorang teman,
Saya : “kalo suatu hari kamu dihadapkan pada kesendirian, misalnya orang tua meninggal dan kamu masih butuh banyak biaya hidup, sekolah, dll. Apa yang akan kamu lakukan?”
Teman : “aku udah sempet bayangin hal itu sih. Sempet mikir juga seandainya Abi-Umiku meninggal. Aku ya harus kerja.”

Dia menjawab panjang lebar, tapi saya lupa karena diskusi itu sudah 2 tahun yang lalu. Intinya, dia harus survive, apapun dan bagaimanapun kondisinya. Meskipun penjelasannya tidak begitu rinci, tapi saya tangkap maksudnya. Respon saya saat itu cuma manggut-manggut. Selebihnya, diam.

Begitu hebatnya orang-orang diluar sana, dan sebagian teman saya yang sejak kecil sudah merasakan kehilangan serta kekurangan, tapi tetap bersemangat, berprestasi, seolah tak pernah terjadi apapun dalam hidupnya. Salut. Walaupun sebetulnya mereka mengalami kekurangan dari segi harta, ditambah ditinggalkan salah satu keluarga tercinta. Saya harus belajar banyak dari mereka. Tidak ada salahnya kan kalau saya siapkan segala sesuatunya dari sekarang? terlebih lagi soal mental. 🙂

***

Jujur, saya betul-betul belum siap. Apakah ini karena saya terlalu sayang dan begitu mencintai mereka? atau hanya karena saya takut tidak bisa hidup karena tidak ada yang membiayai lagi? Saya akan sangat khawatir kalau ternyata saya termasuk ke dalam kategori kedua; “tidak bisa hidup karena tidak ada yang membiayai lagi” Kalau benar adanya, maka harus ada yang diperbaiki dari dalam diri saya.

Karena kesadaran itu pula, sekarang saya sedang dalam tahap mempersiapkan. Hidup mandiri, bukan berarti saya tidak lagi butuh orang lain sebagai bantuan. Makhluk sosial, cuy. Saya perlu untuk belajar kehilangan dan menyiapkan mental. Termasuk ketika saya menikah nanti. Siapa yang tahu suami dan anak-anak saya bisa mendampingi saya sampai kapan? atau malah saya yang meninggal lebih dulu dari mereka? Wallahu’alam. Semoga orang-orang terkasih saya, Allah berikan usia yang panjang. Sehingga kami bisa menjalani dan menikmati kehidupan ini bersama-sama.

Untuk kedua orang tua saya khususnya,
semoga Ibu dan Bapak masih bisa terus mendampingi sampai saya tumbuh dewasa dengan segala problematikanya..
semoga Ibu dan Bapak masih bisa menyaksikan saya menikah dan membesarkan anak-cucu..

InsyaAllah.. 🙂

love them as always
Bogor; Sabtu, 2 Mei 2014
22:51 WIB

Advertisements

4 comments

  1. ..pernah, suatu hari di kamar mandi sebuah rumah sakit. nangis dan begitu takut kehilangan seseorang itu. setelahnya, malah seperti menunggu “saat itu tiba.”

    bukan apa-apa, hanya antara harap dan takut saja. hingga ketika semua terjadi, akhirnya menjadi kebas. takada air mata berlebih, sebab Ia tau persis, kami yang takmungkin kuat ditinggal tiba-tiba.. harus dipersiapkan setahun dahulu dengan berbagai pernik sabar dan ikhlas yang harus di apdet setiap detik, sebagai bekal di hari kemudian, jika tanpanya itu tiba.

    hingga sekarang, masih sering merasa dia ada.

    1. Iya, banyak orang ngerasa gitu mbak. Temenku ada yang Ibunya meninggal. Tapi dia nggak pernah sedih, ngerasa Ibunya nggak pernah pergi, karena si Ibu selalu hadir di mimpinya. Dan itu kayak nyata.

      Beda lagi sama tetanggaku. Ditinggal suami tiba-tiba yang lagi duduk santai ngisi pengajian. Istrinya nggak keluar air mata sama sekali sampai jenazah suaminya masuk liang kubur. Tapi setelah itu, pas di rumah sendiri sama anak-anak, nangisnya bisa tersedu-sedu. Mungkin kehilangannya baru terasa pas jasad orang tersayang itu udah bener-bener ga ada di rumah. 😥

      Tapi memang bener gitu ya mbak? setelah ditinggal, kita tiba-tiba kebas begitu? apa mungkin karena terlalu shock?

      1. kalo titin tipe yg begitu.

        pas ada peristiwa yg bikin shock malah cm senyum dan biasa aja. setelah itu baru berasa pas sendirian.

        klo org rumah karena biasa bareng kerasa bgt katanya, tp kerna titin dirantau suka masih lupa ehehe.. pernah main ke toko, mikirnya.. ah iya, mau beliin baju buat bapak.

        atau tiba2 ngomongin bapak, yg membuat orang rumah spontan tanya: bapak siapa? 😀

        mungkin yg ditinggal tiba2 akan beda lagi rasanya, titin setahun penuh disiapin sama Allah. itu pun msh begitu rasanya, gmna yg tiba2 :(.

        1. aku pernah baca tulisan mbak yang judulnya kangen bapak (kalo ga salah) 🙂

          semoga bapak ditempatkan di surga Allah, diampuni segala dosanya.

          oh ya mbak, aku izin copas tulisan mbak ke salah satu postinganku ya. Udah aku tautkan ke blog mbak 😀

          Postingan mbak yang sangat aku suka, judulnya “Barangkali” 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: