Percakapan

sahabat11

“gue udah dapet email. Alhamdulillah diterima”
“alhamdulillah..”

Dan tiba-tiba ingat salah satu cuplikan film 3 idiot;
Kami memahami satu lagi tingkah laku manusia. Jika temanmu gagal, kau akan merasa sedih. Jika temanmu menjadi yang terbaik, kau akan lebih sedih.

Kesedihan itu bukan karena keberhasilan yang teman kita raih. Tapi lebih kepada sesal yang dalam,
mengapa aku tidak bisa sepertimu?
mengapa aku begitu bodoh dalam banyak hal?

***

Sepertinya memang beginilah cara terbaik kita bersuara. Hanya ada hela napas putus-putus, cepat, atau bahkan perlahan tapi panjang karena dada yang terlalu sesak. Kemudian satu kata meluncur. Satu kata lagi menyahut kata sebelumnya. Kita tak pernah menemukan apapun dalam percakapan, selain isyarat akuistis. Lalu dijalin satu demi satu, sampai tiba pada simpul; ternyata menjadi dewasa itu rumit ya. 

Ada satu tulisan yang sepertinya mewakili kita. Judulnya Barangkali

Barangkali kau lupa, Allah bekerja dengan cara-Nya untuk membuat kita bahagia :’)

Barangkali kau lupa, tentang kisah di awal senja. aku tergopoh-gopoh menebar denyar tak beraturan. Menahan tetes air yang ingin berloncatan. Memburai tawa berlebihan. Barangkali kau lupa, tak sampai dua purnama sebelumnya, aku membagi canda yang sama-sama kita amini sebagai sebuah kebodohan.

Barangkali kau lupa, tentang jalan sunyi yang sama-sama kita tempuh untuk menemuinya. Menjemput-Nya. Meski aku tahu persis jalan sunyi yang kau –aku pilih tak pernah benar-benar sunyi. Di sana bergemuruh doa dan harap di tiap paginya, petangnya, malamnya. di tiap hujan, di sepanjang perjalanan, di antara adzan dan iqamah. di setiap detak yang masih Ia karuniakan sebagai jeda sebelum aku, –kau tiada. Barangkali.. Barangkali..

namun Allah telah menggariskan, bahkan jauh sebelum aku tahu, kau tahu, dia tahu.

…hanya saja kalian yang harus memulai kisah perjalanan itu sendiri, dengan campur tangan-Nya pada setiap langkah yang terjejak. Di tanjakan, turunan, atau juga tikungan. Hingga muara surga-Nya terbentang indah di hadapan.

soeta 550,
25/11/13

***

true-friendsgeefatiha-wordpress-comSatu pertanyaan yang kemudian menjadi pamungkas dari percakapan kita adalah kapan kamu pulang? Seandainya di depan sana kita berpisah jalan, kita akan tetap menikmati waktu ini kan? Bahkan kalau nanti sudah akrab dengan senja, kita masih bisa menghela napas bersama kan?

Seandainya tumbuh kembang kita bisa dipreteli satu-satu, mungkin akan ada banyak bahasa yang sulit dicerna. Mungkin akan ada lebih dari satu cerita yang sulit dirupa kosakata. Karena percakapan kita terlalu istimewa...

Kamu, dengan bermacam gestur
Aku, dengan beraneka mimik

Dan semuanya punya irama sama; ukhuwah. tali persaudaraan

teman-teman akrab pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali mereka yang bertakwa (Q.S Az Zukhruf: 67)

Mestinya kita tak perlu enggan. Jikalau keluhan dari mulut ini kiranya menjadi beban. Mestinya kita bisa menangis. Jikalau hati terlalu keras dihimpit gerimis yang tak kunjung reda. Bukankah begitu seharusnya alur bertutur dua orang wanita?

Setidaknya, kita tak perlu saling berpunggung. Menyembunyikan jati diri yang (jangan sampai) terkikis zaman. Ternyata, wanita dan sebuah kedewasaan memang demikian. Menuntut pelakunya memiliki imunitas. Dapat dengan terampil membaca kondisi belantara dunia. Bukan hanya kita, tapi semua manusia. Kita tetap saling mengingatkan ya.. 🙂

***

Dan aku bergegas. Bukan lagi menyiapkan. Tapi menyelesaikan. Bergegas menyelesaikan sekarang, untuk suatu hari yang akan kita tatap dengan penuh kemenangan. Lalu kita bawa bahagia ke masa depan dalam satu kalimat,

karena dulu maupun sekarang, percakapan kita begitu istimewa..

malam,
dan dua butir telur
Bogor; Sabtu, 3 Mei 2014
22:59 WIB

Advertisements

5 comments

  1. Ohh ya, semacam eksklusivisme golongan begitu ya. Walaupun konotasinya terkesan negatif, tapi terkadang saya juga mengalami hal itu. Saat percakapan antara saya dengan seorang sahabat tak ingin bisa dengan mudahnya dimengerti oleh yang lain, karena saya khawatir, jika orang lain mengerti, maka dia juga akan masuk kedalam lingkaran yang sudah saya susun dengan rapat… lingkaran kenyamanan, katanya.

    saya sukak diksinya, bagus. Salam kenal 🙂

    1. wah, interpretasinya begitu ya? 😀 hihi gapapa sih. Pembaca kan bebas menafsirkan tulisan apapun dan siapapun. Kecuali alquran dan hadist :mrgreen:

      Sebenernya percakapan antara saya dan dia memang betul-betul percakapan yang aneh. Bahkan kami sendiri, khususnya saya, sering kaget dengan bentuk komunikasi ini. Soalnya kami bisa ngobrol cuma dengan ketawa, terus tiba-tiba paham apa yang sedang dibicarakan. 😆

      Atau kalau kami lagi dalam kondisi ada masalah, maka kami nggak perlu banyak bicara. Raut wajah dan gestur sudah menjelaskan semuanya. Kalaupun ada yang dibicarakan, lebih banyak membahas mengenai masa depan dan impian-impian kami 🙂

      Bisa dibilang persaudaraan kami memang unik. Dan saya sungguh menikmati cara kami berteman, cara kami berkomunikasi. Kalau lagi ada banyak orang, nggak masalah. Dalam kondisi seramai dan sesepi apapun, oke-oke aja.

      Anyway, saya pernah nulis tentang dia juga disini https://sekarsekarsekar.wordpress.com/2013/08/02/sejenak/

      salam kenal juga mbak armae. terima kasih sudah main-main ke blog saya 😀

  2. Apa ya yang ane interpretasikan??
    Hmm.. (bingung mau nulis apa, hha..)

    1. bingung juga bagian dari interpretasi 😀

      1. Haha, bisa jadi, bisa jadi.. 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: