Menolak Idealis [?]

Saya pulang ke rumah dengan penyesalan yang begitu dalam. Pukul 19.00 tadi, saya sempatkan hadir di sebuah forum diskusi atau kajian mahasiswa. Penyelenggaranya adalah pengurus Departemen Kajian Strategis, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Topik yang dibahas yaitu tentang energi. Setiap peserta yang hadir diberi selembar catatan atau tulisan singkat mengenai apa yang akan dikaji pada malam ini. Judulnya Sinergisitas Sains dalam Kebijakan Energi. Dan saya suka sekali dengan topik ini. Istimewa. 🙂

20140521_23493544Lantas, mengapa saya menyesal?
Karena saya terlalu lama mengamati jalannya diskusi. Terlalu lama meraba kondisi peserta, yang sebetulnya sudah terjawab di pertengahan acara. Situasi diskusi yang kemudian menyimpulkan sebuah benang merah; apa yang sebetulnya kami (mahasiswa) cari? Sebatas kaji atau solusi?

Saya bukan mahasiswa yang jeli mengamati persoalan energi. Sejauh ini, saya hanya snorkeling atau berenang di permukaan. Bukan menyelam sampai dalam (diving) untuk soal energi. Sekali lagi, saya hanya menuliskan kembali apa yang saya rasakan. Bukankah menulis adalah satu bentuk terapi penenang hati? 🙂

Rasa galau yang pada akhirnya membuat saya bertanya-tanya;
apakah selama ini saya betul-betul idealis dalam ucapan (dan tindakan)? #pletakk!
dan diskusi malam ini, begitu menghempas seorang gadis yang mulai menua karena usia dan ketidakbecusannya mengurus problematika negeri sendiri. #halah
Wan Wan Emoticons 29

satu lagi,
saya kebelet pipis di tengah acara.
Jadilah makin sedih. #ngekngok

***

Nah, berikut lima kegalauan saya malam ini.. #ehem

Pertama, soal mahasiswa. Agent of change itu tren purba. Sering saya sebut dalam berbagai kesempatan, bahwa saat ini Indonesia tidak butuh pemuda hebat dengan segudang prestasi besar. Tapi Indonesia sangat membutuhkan pemuda yang mampu membaca kondisi zaman. Yang kreatif, yang akan menang. Mahasiswa sudah tidak relevan jika disebut sebagai agent. Karena zaman ini menuntut mahasiswa untuk menjadi director.

Kedua, dari artikel yang dibagikan, kemudian dikomentari oleh beberapa peserta, tidak menjawab topik sesungguhnya. Saya tidak menemukan bentuk sinergisitas sains dan pengaruh apa yang akan ditimbulkan dalam sumbangsihnya terhadap inovasi negeri. Sinergisitas inilah yang kemudian muncul dalam bentuk kebijakan energi, sesuai dengan judul yang diangkat. Saya tidak menemukan konklusi apapun dalam artikel, yang seharusnya mampu menggambarkan alur diskusi malam ini. Kekecewaan saya yang kedua juga 😀

Ketiga, target MDGs (Millenium Development Goals). Saya tidak tahu apakah MDGs masih relevan sampai saat ini. Apakah akan menjadi topik aduhai untuk dibahas. Saya sangat tertarik karena salah satu daftar target yang harus dicapai tahun 2015 adalah soal energi. Kalau pemerintah sudah berani memasang target, dan sebentar lagi tahun 2015, berarti Indonesia sudah harus siap dengan segala konsekuensinya. Artinya, masalah seperti UU yang mengatur tentang energi, minimnya teknologi, SDM kurang kompeten, dll sudah dipertimbangkan. MDGs juga bisa menjawab tantangan global. Halo Indonesia..sudah sampai mana?

Keempat, soal politik. Dari sekian banyak masalah energi, saya ambil salah satunya, yaitu protokol kyoto. Garis besar isi protokol ini adalah negara maju harus menurunkan emisi CO2 sebanyak 20%. Pada akhirnya, tidak diratifikasi karena kerugian besar akan dialami negara manapun yang menjalankan protokol ini. Rencana inilah yang kemudian membuat ia tidak terpilih kembali menjadi presiden. Siapa hayo presidennya? #tetot Artinya, isu apapun itu, termasuk lingkungan hidup, energi, sampai soal perut, berada dibawah kuasa politik. Semuanya masuk dalam lingkaran politik. Dan kita semua tahu, bahwa politik begitu licin memainkan fungsinya. Dalam hal apapun, ia memiliki seni mengendalikan. Lantas, mahasiswa ada di golongan mana? Melek atau buta politik? Soal ini memang wajib diulas lebih tajam.

Kelima, saya baru tahu kalau pak Irzaman (salah satu dosen kami) memenangkan penghargaan atas inovasi yang dibuatnya. 😆 Aduh, kemana aja ya saya selama ini? Kabar itu juga kurang blow up sih. Anyway, soal inovasi keren dosen saya itu, hendak saya jadikan conclusion untuk “curhatan” malam ini. :mrgreen: Ketika saya mendengar salah satu peserta diskusi mengatakan bahwa, dia bingung hendak berkolaborasi dengan siapa, mencari fasilitas dimana, dan setumpuk kegalauan lain. Kenapa tidak ajukan diri saja ke dosen itu? pak Irzaman itu lho. Ajak beliau kerja sama. Terapkan di desa binaan yang sudah ada selama ini.

***

Engng… begitulah.
Hasil pengamatan saya yang masih sangat dangkal.

Saya tidak tahu, apakah di kemudian hari, saya masih bisa dengan mudahnya mengucapkan kritik dan saran semacam itu. Mengingat realita di depan mata, bahwa saya masih terlalu sering dan bahkan terlalu banyak disibukkan dengan urusan pribadi.
Dan realita berikutnya; mudah mengucapkan, tapi begitu sulit mengerjakan. Akses (semestinya) bukan perkara sulit. Yang sungguh menyusahkan manusia itu ya dirinya sendiri. *lalu ambil kaca*
Wan Wan Emoticons 28

Kalau saja, saya lupa bahwa saya ini warga negara Indonesia..
Kalau saja, saya lupa bahwa saya ini punya tanggung jawab yang sama besarnya dengan para pembuat kebijakan yang nangkring cakep di kursi kepemerintahan..
Kalau saja, saya lupa bahwa saya ini yang kelak dibebani dengan hasil kerja generasi sebelumnya, lalu dihadapkan pada pilihan; mau melanjutkan atau mengubah?

bisakah saya tetap idealis dalam tindakan, dengan realita yang menghimpit di sana-sini?
atau saya tolak dalam beberapa kondisi dan situasi tertentu?

makin tua, makin sadar,
gini nih dilema mahasiswa tingkat akhir

Sekian kegalauan saya malam ini.
Hoaaaahmm…
SAMWOO Emoticons 110

ternyata gue bisa nulis agak seriusan, ngoahaha 😆
Bogor; Rabu, 22 Mei 2014
00:03 WIB

Advertisements

8 comments

  1. “Kalau saja, saya lupa bahwa saya ini warga negara Indonesia.. ”
    Suka bagian di atas 🙂
    Tetap semangat!
    #anakNegeri

    1. eciyee #anakKastrat :mrgreen:
      anyway, makasih kopinya. Jadi tidur jam dua :3

  2. Hidup Mahasiswa!
    *ingetzamanmuda 😀

    1. Eciyeeh yang udah tuwir 😛 *laludigetokmbakInge*

  3. MTA hoooooo gini emang

    1. Apa itu MTA?

  4. Kar, sorry ya lagi ga ada pulsa. Nanti ada rencana kumpul untuk bahas hal itu..
    #Khusus47

    1. Jiaaah lewat wp. Oke

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: