Wayang: Exploration of Local Wisdom

When Islam come to Indonesia in the 16th Century, wayang kulit was adjusted to the Islamic principles by modifying the Hindu-based epics to those based on Islamic values. For example, Sunan Gunung Jati (one of the famous Islamic saints or preachers in Java) used wayang to win Islamic converts.

(Dr. Kanti W. Walujo, 1995: 4)

wayang-pandawa_lima

Gilak!
ini gilak! Saya lagi tergila-gila sama wayang!
Rasanya kayak ketemu sama seseorang. Awalnya biasa aja, lama-lama dag-dig-dug, terus kok jadi seneng gitu tiap liat dia. Sampai berharap ketemu dia lagi, lagi, lagi…  #mulai -_-

Sampe khawatir nantinya kalo ada pria yang ngelamar saya, saya nggak mau karena dia bukan wayang atau nggak mirip wayang atau saya malah minta mahar seperangkat alat wayang [?]

Oke cukup.

Penyebab saya bisa suka wayang adalah bimbingan nulis sama editor. Saya disuruh nulis cerpen dengan tantangan bikin tokoh villain. Villain itu seseorang yang punya kecenderungan kejam, suka membunuh, semacam antagonis. Antagonis belum tentu villain. Tapi villain pasti antagonis. Ngeri-ngeri sedap gimana gitu. Saya sampe disebut saiko sama beberapa temen. Gara-gara cerita yang saya bikin kayak nafsu banget bunuh orang dengan cara seksi.
SAMWOO Emoticons 133

Contoh cerpennya pernah saya publish di sini. Dan tanggapan sang editor ternyata nggak kalah sadis. Intinya cerpen saya masih jelek. Terus saya merenung. Saya pikir ide tentang wayang yang diperoleh dari hasil keputusasaan karena sempet mentok ide ini local wisdom banget. #uhuk. Sepengamatan saya, sebagian besar buku-buku di tokbuk yang karya anak negeri, orang Indonesia, sedikit sekali nuansa kearifan lokalnya. Kalo 80% aja isi toko buku adalah buku-buku terjemahan, berarti sisanya adalah buku kita. Nah, dari sisa angka itu, kalau dipresentase lagi jumlah karya yang kearifan lokalnya kuat, berapa persen? Saya nggak punya datanya sih. Selama ini saya mengamati aja tiap ke toko buku, dan miyapah banget betapa seringnya saya ke tokbuk dalam sepekan meskipun nggak beli apa-apa karena bokek. Ampe saya pusing kepala beneran gara-gara kelamaan melototin buku-buku di sana. Terus bertekad untuk nggak mau kembali lagi ke toko buku, karena ternyata saya mengalami pusing dan mual sungguhan. Kemudian esoknya, saya gagal melaksanakan tekad itu. Ngoaahaha.

Perlu banget diketahui bahwa tulisan berbau kearifan lokal itu sangat disukai oleh penerbit, juri lomba, pokoknya banyak yang suka. Kenapa? karena segala sesuatu tentang kebudayaan bangsa itu laku. Gara-gara ini juga, saya jadi belajar beberapa pelajaran sejarah semasa SD lagi. Sayangnya, saya nggak belajar sejarah wayang waktu SD. Sayangnya lagi, saya nggak tau kalo ternyata eyang saya penggila wayang dan tau banget soal kisah-kisah dalam dunia pewayangan. Scara, masa kecil eyang dihabiskan dengan keliling dari satu kampung ke kampung lain di desa Tanjung, Klaten, cuma buat liat pertunjukan wayang. Toh anak muda sekarang jarang banget ada yang suka wayang. Iya nggak sih? :/

Klise!
Siapa bilang topik wayang itu klise?
“Barusan kan, kamu yang bilang, Kar...”
Oh iya..

Katanya, di luar negeri, kesenian wayang ini udah jadi konsumsi mereka. Di Indonesia juga, banyak bule-bule yang tertarik. Bahkan udah masuk warisan budaya dunia. Saya nggak tau apakah sebelumnya pernah ada penulis yang udah nulis cerita (fiksi) tentang wayang (subjeknya wayang) ataupun yang objeknya wayang. Mungkin ada, cuma saya aja yang belum tau. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan kisah tentang wayang sebagai objek utama dalam cerita.

Klise atau nggak, tergantung cara menyajikan ceritanya.. 🙂

Tembang dan Misi Keagamaan
“Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir, dondomana jlumatana, kanggo seba mengko sore. Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane, yo surako, surak hayo.”

Makna yang tersirat dalam syair-syair tembang Lir-ilir di atas adalah ajakan untuk menjalankan rukun Islam dan berbuat kebajikan. Artinya, terdapat nasihat untuk menjadi muslim yang baik. Dalam Riwayat Sunan Kalijaga, tembang ini diciptakan oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Di dalam tembang ini terdapat makna religius yang disampaikan lewat syair-syairnya. Tembang ini awalnya disampaikan di dalam kisah wayang Punakawan. Itu lho, yang tokohnya Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

and this mission was success!

Belajar Sejarah (lagi)
Aaaah, saya jadi kangen sama masa-masa SD. Kalo lagi sowan (silaturahim) ke rumah sodara-sodara di kota-kota di Jawa Tengah, di pintu rumah ada aksara jawa. Waktu itu sih, saya masih lancar bacanya, ngerti apa artinya. Sekarang lupa, huhuhu 😦 Betapa sejarah hidup kita zaman 90-an ternyata lucu dan indah untuk diingat lagi ya.

Makin saya riset tentang dunia pewayangan, makin saya jatuh cinta sama jalan cerita di baliknya. Ternyata kisah-kisah wayang bisa direpresentasikan dengan kisah kehidupan kita. Nilai moralnya banyak.

***

Udahlah, tunggu novel saya tentang wayang ini terbit ya! 😀

akhir tahun 2014!
Bogor; 24 Juni 2014
7:20 WIB

Advertisements

2 comments

  1. Aku juga pernah lihat wayaaaang,. dan iya, emang sukak. Masalahnya adalaaah, buta banget sama bahasa Jawa. Jadi walopun cukup terhibur dengan alunan gamelan serta gerakan-gerakan wayangnya, dalam beberapa momen tertentu berasa hampa gitu gegara gak ngerti bahasanya gimana 😦

    Pernah juga tau di luar memang wayang sudah jadi pertunjukan favorit. dan harus digarisbawahi bahwa mereka suka karena bahasanya sudah di translate kan ke bahasa inggris. Jadiii,. yaaaa,…. baiknya gimana? Tetap bahasa jawa yang artinya terus menjaga keasliannya, atau di terjemahkan ke bahasa lain supaya lebih bisa diterima?

    1. Sama mbaaak. Haha. Temen saya ada yang pegiat wayang gitu. Dia emang dari kecil dicekokin wayang sama keluarganya. Trus suatu hari dia bilang, “seandainya orang2 tau arti dari bahasa jawa yang disampaikan dalang, nonton wayang semalam suntuk pasti betah banget. Bahkan mungkin kurang cukup”

      Ide bagus itu mbak kalo diterjemahkan. Baiknya dalang tetep pake bahasa jawa, trus ada penerjemahnya gitu kali ya. Hoho :mrgreen:

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: