Aretha

Ada banyak hal yang harus dijelaskan. Harus ia jelaskan.
Sudah hampir dua pekan, gadis itu menempati rumah ini. Persinggahan sementara, selama kurang lebih tujuh pekan. Besok, ia harus pulang.

“Kamu tahu nggak? Ternyata perihal jarak itu bisa bikin seseorang nggak mudah menangis..” Ia menyapu pemandangan hijau di hadapannya.

Aku menoleh. Menatap bulu matanya yang panjang dan lentik. Ternyata memang benar. Iris matanya berwarna hijau. Campuran warna kebiruan dan kekuningan dari lipochrome menimbulkan warna mata hijau. Baru kali ini aku melihat seseorang memiliki warna mata yang unik seperti dia. Teduh.

Gadis itu juga ikut menoleh ke arahku. Tersenyum. Seperti mudah saja ia menebak bahwa aku tidak tahu sama sekali maksudnya.

“Aku sering nangis, kalo lagi di suatu tempat yang jaraknya sama rumah deket banget. Tapi aku harus tinggal di tempat itu dalam waktu yang lama. Lamaaaaa..” kedua tangannya terangkat, mengepal, lalu meluruskan jemarinya satu persatu. Sampai beberapa jarinya menunjukkan jumlah tertentu, tepat di depan wajahku.

Ia memperlihatkannya padaku. Wajahnya menunjukkan banyak peristiwa. Aku tersenyum simpul.

“Sejak itu, aku jadi belajar kebas. Mencoba untuk nggak peduli sama hal-hal yang menyakitkan. Aku………” Aretha menarik napas, menghembuskannya keras. “…takut terlalu lama bersedih, takut malah melewatkan banyak peluang. Aku….”

Ia menggigit bibirnya. Mulutnya ragu-ragu mengucapkan sesuatu. Matanya menatapku tajam. Lalu kalimat itu meluncur begitu saja.
“aku benci rutinitas” ia membuang muka. Mengucapkannya setengah berbisik. Tapi aku dengar.
“itu ketakutanmu?”
“ya. One other thing..
“jawabannya?”
Gadis itu mengetuk jari telunjuk ke kepalanya, lalu ke dadanya.

Dan pagi itu menjadi perbincangan terakhir kami. Gadis bermata hijau itu harus pulang. Ia memelukku erat. Saling mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Kami pasti akan saling merindukan.

***

Freedom-daydreaming-22933784-1024-768

Barangkali, ada denting yang harus diredam
ketika hari terus berlanjut, tapi kamu masih takut.
Esok itu, terkadang begitu menakutkan
hingga sedu sedan kita seolah menjadi penunda
bagi detik dan detak yang terus beradu.

Bukannya kamu sudah pernah bilang, kalau ada kalanya kita harus menghilangkan acuh?
Beberapa hal di tempat kita sekarang, mengharuskan seseorang mampu menjadi penawar
atas dirinya sendiri.

Kamu selalu meyakinkan banyak orang, termasuk aku.
Menjadi tidak peduli bukan berarti menghapus daftar kebaikan.

Ada sebagian takdir yang tak bisa kita racuh,
takdir menyakitkan, mungkin?
Dan tak bisa diratapi terus-menerus.

Lalu sekarang apa?

Percaya saja..
Bahwa jarak, barangkali memang pilihan tepat
untuk menyimpulkan semuanya
Kemudian membantu kita

menjabarkan alasan-alasan

***

berdoa untuk pertemuan kita kembali,
~aretha

perjalanan
Bogor; pertengahan Juli 2014
00:00 WIB

Advertisements

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: