Rome Timur: Karisma Ulugh Bek yang Mendunia #1

#MesinWaktu_1

Bismillahirrohmanirrohim,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku”
(An-Nuur: 55)

Sudah saatnya menyaksikan dan merasakan langsung perihal kisah-kisah yang dituturkan turun-temurun. Kisah tentang wajah dunia pada masa Islam menjadi matahari yang sangat terik, bintang yang begitu cemerlang, dan parfum yang amat semerbak. Islam yang pernah menjejakkan kekokohannya dari sudut kota Makkah yang penuh rahmah, lalu bergelombang sampai ke benua yang kini berdiri digdaya; Amerika.

Meskipun saat ini, mataharinya menjadi teduh, bintangnya telah meredup, dan parfumnya telah menguap, namun sesuatu bernama jejak itu sudah mengakar kuat. Akarnya menghujam dalam kepribadian dan perilaku masyarakat dunia dari timur sampai ke barat. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan alam, yaitu astronomi.

Menyenangkan sekali menjadi muslim, karena untuk melakukan sebuah perjalanan saja ada perintahnya dalam Al Qur’an. Bukan hanya perintah shalat, puasa atau haji, namun juga perintah berjalan.

“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi”
(Fathir : 44).

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”
(Al Hajj : 46)

Perjalanan panjang menyusuri jejak kejayaan Islam kali ini, belum sampai pada garis akhir. Bahkan belum seperempatnya, baru satu noktah. Lelah yang kemudian tergantikan, ketika Allah menggerakkan hati dan melangkahkan kaki ini ke sebuah negeri yang telah menjadi buah bibir seluruh masyarakat dunia. Uzbekistan.

Samarkand.8

Kencangkan sabuk pengamanmu,
dan mari kita mulai…

***

Menyusuri The Great of Silk Road
Uzbekistan adalah negeri kecil yang terletak di tengah-tengah benua Asia yang sangat luas. Uzbekistan dikelilingi negara-negara besar seperti Rusia, Cina, Iran, dan Turki. Negeri ini dikelilingi oleh padang pasir yang luas dan panas, serta dan pegunungan yang menjulang tinggi. Pada siang hari, suhunya bisa mencapai 40 – 45°C, dan malam hari 20°C.

Uzbekistan mendapat julukan negeri jalan sutera selama ribuan tahun. Negeri yang dilalui pedagang sutera ini menghubungkan Cina, Persia dan India. Jalur yang membentang panjang, hingga tiba di Nusantara. Menjadi saksi bisu hilir mudiknya Islam yang dibawa serta bersama para pedagang, ulama, dan orang-orang melalui jalur ini.

Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia
Samarkand. Sebuah kota paling tua, bersama dengan kota kelahiran Imam Bukhari, yaitu kota Bukhara yang berada di Uzbekistan. Kota Samarkand ramai dikunjungi oleh jutaan manusia yang hendak menuntut ilmu, atau sekedar berwisata. Pada tahun 1400-an, Samarkand menampakkan kemewahan dengan berdirinya sekolah atau madrasah paling indah di dunia. Gedung madrasah Samarkand sangat megah. Dihiasi keramik mengkilap bergambar bintang-bintang gemerlap.

Registan: pusat keagamaan dan ilmu di Samarkand dahulu kala. Di sini banyak madrasah, yang salah satunya didirikan oleh Ulugbek.

Registan: pusat keagamaan dan ilmu di Samarkand dahulu kala. Di sini banyak madrasah, yang salah satunya didirikan oleh Ulugbek.

Para Pembelajar Sejati
Orang-orang pintar mengajar di Samarkand. Misalnya, ahli agama Islam Imam Al Bukhori, ahli pengobatan Ibnu Sina, dan penyair Umar Kayam. Menjadi basecamp ahli ilmu alamiah, pengarang, dan pelukis seperti Rudaki, Babur, Jami, Avicenna, Navoi, Mukimi, Furkat.

Konon, ilmuwan-ilmuwan di Samarkand tidak pernah mengangkat kepalanya dari buku. Para ilmuwan jarang keluar rumah. Perumpamaan bahwa mereka sangat gemar membaca dengan intensitas tinggi. Mereka sibuk belajar dan meneliti. Hasilnya,kota ini begitu cemerlang dengan gemerlap ilmu pengetahuan dan ramai oleh suara-suara orang yang gemar belajar. Di bangku-bangku sekolah, di pinggir taman, di setiap sudut kota, ilmu begitu dicintai. Ilmu diposisikan laksana oksigen. Menjadi sumber keberlangsungan hidup. Ilmu yang mulia dan penuh berkah.

issue3_missing4_large

Apa yang kemudian membuat Samarkand menjadi pusat ilmu pengetahuan pada zaman itu? Jawabannya adalah pemimpin. Di bawah penguasa atau pemimpian yang mencintai ilmu pengetahuan, negara bisa berubah menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Itulah salah satunya yang terjadi di Samarkand, Uzbekistan. Saat itu, Timur Leng mengamanahkan cucunya Mirza Muhammad Taraghay bin Shahrukh, untuk memimpin dan menjadi sultan di Samarkand.

Pesona Ulugh Bek: Bintang Bumi yang Mengangkasa
Diantara banyaknya ilmuwan, ulama, dan para ahli yang belajar serta mengajarkan ilmu di kota Samarkand, sampai saat ini legenda Ulugh Bek (Oulough Bek) sempurna memukau dunia. Ulugh Bek adalah cicit dari Tamerlan (Timur Lenk), masih keturunan Genghis Khan; pendiri bangsa mongol. Jika Timur Lenk dan anggota keluarganya yang lain adalah tentara, maka Ulugh Bek adalah seorang Ilmuwan.

Karena kecintaan pada ilmu pengetahuan yang begitu mendalam, Mirza Muhammad Taraghay bin Shahrukh, yang lahir pada 22 Maret 1394 di Persia, mengubah kota Samarkand menjadi semacam pusat penelitan dan kota pelajar. Di kota Samarkand, ia membangun madrasah, atau semacam universitas saat ini, dan mengundang banyak ilmuan untuk melakukan riset. Riset yang dilakukan bukan terbatas pada bidang sastra dan kajian Al Quran saja. Ia bahkan fokus pada penelitian di bidang matematika, trigonometri dan geometri. Bahkan ilmu astronomi mendapat perhatian khusus.

lukisan ulugh bekUlugh Bek membuat gedung pengamatan bintang terbesar di dunia. Gedung itu berupa busur derajat setinggi 40 meter (setinggi gedung 10 lantai). Gedung itulah yang kemudian menjadi observatorium terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 1421 M, bersama-sama dengan beberapa sarjana ia menyusun data-data astronomis, yang dikenal dengan naman Zeij Ulugh Beyj. Zeyj (tabel) tersebut selesai disusun pada tahun 1437 M, dan pada abad 17, zeij ini diterjemahkan ke bahasa Barat. Tak mau kalah, Indonesia pun memiliki observatorium yang namanya dikenal luas setelah muncul sebagai lokasi syuting film Petualangan Sherina; observatorium Boscha. Namun sayangnya, observatorium Ulugh Bek kini sudah tidak ada lagi. Hanya tinggal sebuah bagian saja.

Samarkand_29

IMG-20140811-WA0017

tempat untuk menangkap cahaya bulan

Samarkand_30

Samarkand_31

Miniatur observatorium Ulugh Bek: terdiri dari enam tingkat yang dihitung oleh Ulugh bek berdasarkan koordinat bintang-bintang.

Ulugh Bek dan para ilmuwannya mencatat lokasi 1022 bintang dengan sangat tepat. Digunakan untuk menentukan koordinat matahari, bulan, dan planet lain. Ulugh bek menciptakan katalog astronomi, yang disebut, “Meja Bintang”. Begitu cerdas dan jauhnya visi Ulugh Bek. Masyaa Allah!

Pada zaman itu tabel bintang yang dibuat oleh Ulugh Bek berguna untuk petunjuk arah bagi pedagang sutera. Peta bintang dibutuhkan saat pedagang berjalan di padang pasir. Ketepatan tabel bintang Ulugh Bek tidak terkalahkan dengan tabel bintang modern. Padahal ketika itu, Ulugh Bek mengamati bintang hanya dengan mata telanjang. Tanpa teleskop dan komputer.

Disebutkan dalam Science in Islamic Civilisation, observatorium yang dibangun Ulug Bek ini menjadi observaorium terbaik di dunia Islam saat itu. Bahkan dengan peralatan yang sangat canggih untuk ukuran saat itu, 100 tahun kemudian, banyak observatorium di Eropa yang menirunya. Observatorium Uraniborg yang dibangun pada tahun 1576 dan Observatorium Stierneborg yang dibangun pada tahun 1584.

Ulugh Bek meninggal pada 27 Oktober 1449 Masehi, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 853 Hijriah.  Maka, acap kali astronomi menjadi referensi saat mempelajari dunia angkasa, patut kita ingat dengan baik bahwa Islam menghadirkan Ulugh Bek ke muka bumi atas rahmat dan kuasa Allah. Betapa ilmuwan muslim memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu di dunia.

***

Ulugh Bek telah menjadi permata, sekaligus jejak yang melekat bagi kotanya, Samarkand. Tak salah bila penyair dan ahli sejarah masa lalu menyebut kota ini sebagai “Rome Timur” dan “Mutiara” Muslim Timur dunia, atau “Permata dari Timur“. Simbol bahwa kota terbesar ketiga di Uzbekistan ini memiliki karisma dan kuasa tak terbantahkan. Sekali lagi, Ulugh Bek sukses membawa apa yang menjadi passionnya ke permukaan, mengenalkan sains dalam cermin Islam.

Pada akhirnya, ilmu hisab atau ilmu falak yang kini kita pelajari, menjadi bukti dedikasi terbesarnya pada kehidupan di dunia. Salah satu contoh hasil penelitiannya yang berharga yaitu bintang atau zodiak yang kita kenal saat ini. Buruj-buruj (bintang/zodiac): Haml (Aries), Tsaur (Taurus), Jauza (Gemini), Sarathan (Cancer), Asad (Leo), Sunbulah (Virgo), Mizan (Libra), ‘Aqrab (Scorpio), Qaws (Sagitarius), Jady (Capricornus), Dalwu (Aquarius), dan Hut (Pisces).

Catatan: dalam Islam, jenis bintang itu bukan untuk meramal kondisi manusia. Bagaimana kabar asmara, keuangan, kesehatan, keberuntungan, ataupun jodohmu pada hari ini. Ilmu perbintangan itu digunakan sebagai penentu waktu, gerhana bulan, gerhana matahari, dan untuk melakukan perhitungan atau hisab awal bulan. 🙂

***

Perjalanan ini belum berakhir…

silk_road_map_samarkand.psd

Sampai jejak Islam tampak kembali di setiap ruas jalan. Riuh ramai dan sorak sorainya bergemuruh, derapnya berdentum serentak, mengepulkan debu-debu. Kemudian bendera Islam kembali berdiri dengan keperkasaan dan kesuciannya, menjadi penanda bahwa kehidupan akan memasuki tahap keabadian.

Dan menjadikan perjalanan hidup yang kita lalui bukan sekedar perjalanan biasa.

 “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(A
l-Isra’ (17): 1)

Wallahu’alam bissawab

Catatan: beberapa foto dengan hastag @iwanamania, alhamdulillah saya peroleh langsung dari beliau yang sedang Allah beri kesempatan untuk menyusuri jejak kejayaan Islam di Samarkand. Saya akan menunggu destinasi beliau selanjutnya untuk kembali saya kisahkan dalam blog ini. Jika bukan beliau yang memotret, insyaaAllah semoga suatu hari nanti saya yang akan mengabadikan tempat-tempat bersejarah itu langsung. Live report! InsyaaAllah 🙂

Sampai jumpa di perjalanan hebat berikutnya dalam serial #MesinWaktu. 😀
Wan Wan Emoticons 61

sebuah desa dan ruang-ruang renung,
Subang; Selasa, 12 Agustus 2014
20:43 WIB

Sumber referensi:
http://www.turkindorus.com/
http://www.asiamaya.com
http://bobo.kidnesia.com
http://pustaka.islamnet.web.id
http://www.rmol.co

Advertisements

4 comments

  1. mupenggg bikin motivasi biar bisa ke Rome 🙂

    1. Nah, cucok sama passion mbak winny 😀
      ayo kita make a plan! >,< #kompor
      Nanti travelingnya dikasih judul; "Time Machine", trus dibikin serialnya di blog. Haha

      1. hihii ayoo kena brp tu, awak pejalan kere 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: