Ruang-ruang

Dengan puisi aku bernyanyi Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa Perkenankanlah kiranya.

~Taufik Ismail, 1965

Setiap abad termaktub dalam detik-detiknya. Barangkali kamu memang harus tahu. Bahwa hidupmu, hidup ini, hidup kita, bukan melulu soal “Aku”. Betapa dalam setiap perbincangan, selalu saja kata “Aku” ditukaskan lebih dari sepuluh kali. Apakah mungkin sampai ratusan? Tentu si Aku tidak pernah tahu, tidak pernah sadar. Lalu sekarang, di sepucuk ini, hitunglah berapa kali ditulis kata “Aku” dan “Kamu”. Karena dua kata itu akan lebih banyak disebut, khususnya kamu.

***

WALLPA~7adakah ia tahu bahwa di ruang lapang
ia dapat menampilkan diri, cabang demi cabang

Aku benci rutinitas. mungkin kamu juga. Kalau aku sudah bertemu yang seperti itu, maka saat itu juga, rasa-rasanya dunia ini cuma berupa kotak, berukuran sempit, mepet sana, mepet sini, senggol kanan, senggol kiri. Cuma.

Oh ya, apakah mungkin buatmu sekarang, hidup ini kurang lapang?

Menurutku, itu soal hati. Ya, kan?
Mungkin memang hati kita yang sedang merasa sempit. Rasanya terhimpit beban di sana-sini.

Kalau sudah merenung berkali-kali, lalu hasilnya masih sama, begitulah hakikat sepi. Melipir ke waktu-waktu sepi itu cukup sejenak. Melenturkan ketegangan otot, menyusun kembali yang sempat terserak. Entah itu semangat, atau mimpi-mimpi kita yang barangkali bisa kita bangun bersama. Terlalu banyak berdua dengan sepi, boleh jadi rasa sempitnya makin menjadi. Maka cukuplah ia disinggahi sementara, bukan berlabuh selamanya. Kan, masih ada aku. Eh, salah. Kan, masih ada Allah…… dan aku 🙂

***

gif10Hidup adalah mencapai martabat kita sendiri,
Hidup ialah melihat hakikat tanpa selubung sama sekali;
Mukmin sejati tak akan merasa puas dengan Sifat-Sifat

Hidup. Hakikat. Oh, betapa Iqbal berhasil memapah manusia. Menjadi perantara melalui kata. Aku tidak begitu pandai berpuisi. Apalagi membuat artinya. Dan aku tahu, kamu pandai berpuisi. Yah, paling tidak menulis dengan rasa. Cuma kamu itu sangat malas. Padahal mencari, melihat, menemukan, itu bukan perkara mudah. Apalagi yang kita cari tak berwujud. Coba aku tanya kamu, wujud hakikat itu apa?

***

WB01_01Kesedihan dan kegirangan dalam menguasai alam yang berputar
Apakah raga? kebiasaan akan bau dan warna
kebiasaan berdiam di batas-batas luasan dunia
Jauh dan dekat timbul dari kesadaran kita

Sudah pernah kubilang, orang-orang juga pernah. Wanita bercerita ini itu, bukan digunakan sebagai bahan gosip. Apalagi berkeluh kesah, merutuki takdir. Na’udzubillah. Ya, begitulah. Sulit menerjemahkan alasan-alasan Allah menciptakan wanita dengan model sama; bercerita hanya untuk mendapatkan telinga yang bersedia mendengar. Benar-benar hanya itu.

Sudahlah, soal ini cukup sampai pada kesimpulan; mendengarkan, mengamati, dan diam adalah satu paket kebijaksanaan sebelum bersikap. Sering orang lebih banyak mendahulukan cakap, ketimbang otak. Mungkin adab berpikir di zaman ini sudah dirasa mirip keong. Lambat, payah. Sedangkan zaman yang berotasi cepat, harus disikapi dengan kilat. Baiklah, mungkin ada baiknya kita buat peribahasa baru; DIAM itu keong EMAS 🙂

***

mencipta? Ialah mencari yang tercinta,
memperlihatkan pada makhluk lain wujud pribadi kita
segala gabalau yang kacau dalam hidup ini
tanpa keindahan kita tak mungkin terjadi
semua ini ialah semangat penuh daya cipta dan gairah hasrat
yang hebat, tak terperi

 

adakah kau hidup?

jadilah hebat,
jadilah kau penuh daya cipta!

(Iqbal)

 

 

Kita sedang mencerna ruang-ruang,
untuk mencari, menemukan, dan menyesap hakikat
bersama hati yang lapang,
hati yang terang

memahat semangat
Bogor; Kamis, 21 Agustus 2014
20:05 WIB

Advertisements

4 comments

    1. hahaha, alhamdulillah.. makasih mbak. Ah, sendirinya lebih keren! 😀

      1. ini melalui perenungan ppanjang dan telaah kritis *tsaah 😀

        titin suka ngasal ajaaah kalo nulis.

  1. […] pun saya belum tahu jawabannya. Tentang hakikat, tentang pemaknaan. Pernah saya bertanya, apa wujud hakikat sebenarnya? Kemudian penjelasannya sungguh sederhana, sampai rasanya saya sakit, […]

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: