Sebuah Meja

Ekspektasi saya tidak begitu besar ketika berangkat dari rumah menuju ruang yang akan digunakan untuk acara halal bi halal dan workshop penulisan artikel angkatan pramuda ke-7 FLP Cabang Bogor. Acara ini akan berjalan seperti biasa, layaknya inaugurasi yang sudah-sudah. Peserta sedikit, acara mulai, lalu selesai, kami pulang. Sudah, begitu saja. Tak istimewa. Apalagi forum ini banyak digunakan hanya sebagai tempat labuh sementara. Daripada tidak ada komunitas dan teman, lebih baik masuk FLP saja. Toh aku juga suka menulis. Menulis PR, laporan, diary, daftar hutang, pokoknya aku suka menulis lah.

Lalu semua berjalan sebagaimana normalnya sebuah acara yang “tak laku”..

Sampai ada permainan ini itu. Yah, saya tertawa. Memang lucu, masak sih saya cemberut? Memang permainannya seru, masak sih saya tidak ikut hepi?

Beberapa waktu kemudian, saya dan dua kawan, satu dari FLP Bogor dan satu lagi dari FLP Wilayah Jakarta Raya, mengobrol bersama di luar ruangan. Di sebuah meja diskusi yang cozy. Sampai datang satu orang lagi, sama-sama dari FLP Bogor, bergabung dengan kami. Empat orang pegiat literasi yang duduk bersama satu meja. Sekali lagi, meja yang pas pada percakapan bernas! Meja yang tumpukan bukunya berada di dalam kepala. Sayang, saya lupa memgabadikan mejanya dalam sebuah foto. 🙂

Flop!

Saya merasa begitu rindu dengan betapa sulitnya saya dulu berjuang mencari forum lingkar pena. Mencari kumpulan pegiat literasi. Mencari lingkaran yang di dalamnya riuh ramai obrolan tentang ilmu, buku, sastra, dibalut renyah senda gurau membuat keakraban menyatukan bermacam warna.

Saya merasa begitu rindu dengan jarak panjang bogor – gunung putri yang rela ditempuh demi bertemu ketua pertama forum ini.

Ternyata… saya hanya sedang rindu dengan duduk-duduk santai dan hangat bersama-sama. Lalu membicarakan hal yang juga kami sukai bersama-sama. Sampai pada epilog, bahwa kami akan memperjuangkan dunia literasi ini, juga bersama-sama. Karena literasi belum mencapai kursi prioritas di negeri ini. Karena yang bersama-sama itu sangat membahagiakan, maka saya harus menuntaskannya dengan upaya terbaik.

Dan semua yang saya sebut tak laku itu, sejatinya menjadi seperti itu karena cara pandang saya sendiri yang melihatnya begitu. Kalau boleh saya bilang, ini cuma rindu yang sudah sangat sesak. Penuh dan nyaris overload. Maka upayanya adalah menekan, menutup resletingnya rapat-rapat. Akibatnya, ya semua serba tak nyaman.

 

Jika dendam saja bisa terbalas, mengapa rindu tidak?

 

membangun dunia literasi,
tak lagi dalam tempurung imajinasi
Bogor; Senin, 1 September 2014
15:58 WIB

Advertisements

8 comments

  1. tulisannya enak dibaca, suka. ^^

    1. suwun.. hihi
      belom tidur mbak? atau udah bangun? haha 😀
      masih ngeblogwalking ternyata..

  2. hmmm,.. sepertinya saya juga sedang mengalami hal serupa, bersama kawan-kawan yang lain tentunya. Dipertemukan dalam suatu komunitas karena kesamaan dalam beberapa hal, namun belakangan merasakan kehampaan saat kembali berkumpul dengan orang-orang itu. Mungkin memang kita tidak boleh melupakan, apa yang sebenarnya membuat kita bisa dipertemukan…

    makasi sharingnya 🙂

    1. “Mungkin memang kita tidak boleh melupakan, apa yang sebenarnya membuat kita bisa dipertemukan… ” –> iya, disertai dengan doa agar hati selalu ditautkan pada kawan-kawan yang punya sejarah dalam hidup kita 🙂

      hampa atau tidak, itu soal sejauh mana kita sanggup memaknai setiap peristiwa 🙂 menurutku, balik lagi ke hati masing-masing, hehe

      thanks sudah mampir mbak Armae 😀

  3. Love this post. Ntah mengapa, tp sukak aja 🙂

    1. makasih mbak, hihi
      aku juga suka photo profilnya mbak tyka #fokus 😛

  4. curhatnya keren 🙂

  5. Arya Poetra · · Reply

    Ya. Saya pun pernah duduk dalam satu “meja” yang sama, dengan kawan-kawan yang dulunya sama sekali belum saling mengenal. Perbincangan diawali dengan sapaan hangat. Lalu, perlahan saling bercerita, bertukar pendapat, bahkan bertukar kesedihan. Entah, ada sesuatu tak terlihat yang membuat kami begitu akrab.

    Tapi, perlahan meja itu ditinggalkan. Satu persatu. Ada urusan yang jadi prioritas (kataku, menghibur diri).. Aku sangat ingat, di meja itu kami pernah membahas mimpi yang sama. Pun pernah ada keinginan tuk memperlihatkan meja yang mempertemukan kami itu pada penggiat-penggiat literasi yang lain. Atau mungkin, mengajak penggiat literasi yang lain untuk duduk sejenak, sekadar berbagi cerita di sana.

    Beberapa selang waktu terlewati. Meja itu masih terlihat kosong. “Ada apa dengan kalian?”. Pikiran itu melintas di kepalaku.. Lama aku tenggelam dalam pikiran itu. Sampai pada akhirnya aku tersadar, bahwa selama ini pun, aku menjadi pribadi yang perlahan melupakan meja itu. Pertanyaannya, “Apa yang harus aku lakukan agar meja itu tak lagi kosong?” Sederhana saja. Bukankah cukup dengan duduk di sana secara rutin? Mungkin sambil meninggalkan beberapa lembar cerita tentang mimpi, tentang pengalaman-pengalaman yang menjadi pembelajaran hidup, atau bahkan tentang meja itu sendiri.. Mungkin ada dari mereka yang kebetulan singgah, duduk, tersenyum membaca catatan itu. Lalu, perlahan meja itu pun kembali riuh oleh celoteh-celoteh…

    ^^Salam dari kami,
    pribadi-pribadi yang juga dipersatukan oleh ikatan-ikatan aksara.

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: