Dilema Tingkat Akhir_part 4

Beberapa bulan terakhir saya sibuk bercinta dengan rutinitas. Seperti yang saya baca di novel-novel, seperti yang saya lihat di film, dan beberapa serial drama. Seperti itulah saya berubah menjadi tokoh introvert. Tidak ada surga terindah kecuali sebuah kotak persegi panjang berukuran 7×4 meter, bernama kamar.

Sekali saya pulang, kamar adalah destinasi terbaik yang pernah ada. Kunci pintu kamar rapat-rapat, tak peduli kebisingan di baliknya. Nyaris unsocial. Berhadapan dengan layar monitor, menekan tombol abjad dan angka. Jika lelah, lirik tumpukan eksemplar di sebelah. Siap-siap berpandang mesra dengan lembar-lembar tugas akhir, dan tentu saja, beberapa bacaan kesukaan.

C360_2014-09-26-09-00-26-397

Tapi sekali saya keluar rumah, kota lain pun siap dijelajah. Tak peduli seberapa jauh dan lelah. Bertemu kawan lama -yang alhamdulillah masih Allah jaga persaudaraan kami- dan kawan baru. Mengobrol santai atau berdiskusi panjang. Menjadikan waktu saya sungguh bernilai sempurna.

Itu adalah bentuk kehidupan yang sama sekali tidak terbalik.
Ternyata, rutinitas itu tidak buruk juga. Meskipun rasa bosan adalah kewajaran. Toh, siklus hidup ini memang satu bentuk rutinitas, ya nggak sih? Sama seperti waktu yang terus-menerus bertambah angkanya, tapi mengikis porsi usia manusia dan makhluk hidup lain. Sama seperti jam yang jarumnya selalu berputar ke kanan.

Lalu semua yang disebut buruk itu bermuara pada satu penjelasan. Bukan jawaban, memang. Sampai sekarang pun saya belum tahu jawabannya. Tentang hakikat, tentang pemaknaan. Pernah saya bertanya, apa wujud hakikat sebenarnya? Kemudian penjelasannya sungguh sederhana, sampai rasanya saya sakit, ngenes.

Ibadah adalah wasilah (alat) untuk menghidupkan
dan menjelaskan hakikat-hakikat

(Fii Zhilalil Qur’an – Sayyid Quthb)

Are you got the turn point?

FOCUS!
Bogor; Jumat, 26 September 2014
10:50 WIB

Advertisements

10 comments

  1. Terkadang jadi berpikir juga, mengalihkan kegiatan di depan laptop dengan membaca. Kapan istirahatnya mata? Tapi melihat hal-hal yang berbeda juga bisa jadi istirahat sih, walaupun bukan dalam artian ‘berhenti bekerja untuk sementara’.

    I didn’t get the point. Hemmppfftt

    1. rutinitas dan pemaknaan 🙂

  2. selamat menjalani rutinitas yang ada..

    iya, seringkali hidup hanya beranjak dari rutinitas satu ke rutinitas lain (yang sengaja kita ciptakan) ^^

    1. Makasih mbak tin. Ngerjain tugas akhir cuma butuh fokus. Aku sebenernya nggak betah juga cuma ngerem di kamar. Haha. Tapi gapapa deh. Demi cepat luluss 😀

  3. Semoga lekas kelar TAnya. Semua dimudahkan 🙂

    1. Aamiin.. makasih mbak tike.. 😀

  4. Mbak, itu eksternal keyboard ya mbak? Masangnya sama kayak USB kah? Maaf OOT mbak, hehee

    1. Iya. Kayak usb biasa. Tinggal dicolok 😀 beda fokus ya. Haha

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: