Max Havelaar dan Cermin Tujuh Sisi

Kita bersuka cita bukan karena memotong padi
Kita bersuka cita karena kita memotong padi yang kita tanam sendiri

Balinese Farmer at Sunrise

kenkoskela.com

Dua kalimat dalam potongan pidato seorang mantan Asisten Lebak, Banten, menjadi salah satu jenis mantra yang berhasil menyihir sebuah zaman. Satu dari sekian banyak tipologi manusia yang hidup pada abad 19, sekaligus menjadi ciri khas dalam warna sejarah kekuasaan Belanda di tanah Nusantara. Seorang pria yang berdiri bukan hanya bertumpu pada bara idealisme, tapi juga beralaskan rasa kemanusiaan yang begitu dalam.

Dibandingkan nobel, pria itu mendapatkan lebih dari sebuah penghargaan. Keluasan berpikir, ketajaman nurani, hidup, dan tumbuh dengan kebebasan penuh, nyatanya berhasil menguar sampai saat ini. Sampai banyak orang di kemudian hari menjadikan apa yang ia lakukan sebagai bentuk pembebasan itu sendiri. Kebebasan untuk menggagas, kebebasan untuk berkehendak merdeka.

Begitu menarik ketika kita berani menguak setiap sisi dalam buku ini. Mulai dari bentang sejarah hingga sajian sastra yang mau tidak mau, suka tidak suka, ternyata punya pengaruh besar terhadap khazanah kesusastraan Indonesia. Sastra dan sejarah, keduanya saling berkelindan, dan tentu saja, bukanlah stuiversroman seperti yang dilontarkan Roolvink. Karena Max Havelaar lahir dari napas kebenaran dan keberanian. Ya! Berani! Maka untuk membaca dan mengisahkannya kembali, Anda hanya butuh satu modal. Satu saja, dan itu amat sederhana; berani berbuat benar dengan tindakan tepat.

Sisi Pertama: Perseptif Realisme
Saya tidak akan banyak membahas isi bukunya (kisah di dalamnya), ataupun profil asli penulisnya, karena akan lebih asyik jika Anda membaca langsung dan bisa merasakan sendiri bagaimana ketidakteraturan seorang Multatuli menuliskan kisah demi kisah dengan sudut pandang yang cukup membingungkan.

Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker) pun mengakui sendiri bahwa ia tak pandai menulis. Tapi nyatanya, hasil tulisannya memberi kesan baru dalam kesusastraan di Belanda. Padahal, sebelum Multatuli muncul dengan Max Havelaarnya, tulisan-tulisan yang beredar dan membudaya di negeri kincir angin itu didominasi oleh sastra klasik, bersumber dari alkitab (kitab keagamaan). Tentu, bisa dibayangkan bahasa yang ada pada saat itu tak mudah dipahami masyarakat secara luas, atau dengan kata lain, terlalu ekslusif dan terkesan “mahal”.

Hingga Multatuli mendobrak zaman dengan Max Havelaar yang disajikan secara merakyat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian, percakapan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer (Pram) ternyata memiliki latar sejarah sastra yang tak bisa lepas dari jejak Multatuli. Model penyajian kisah kehidupan pada masa, situasi, dan kondisi yang tak jauh berbeda dari zaman Multatuli, mudah ditemukan dalam Tetralogi Pulau Buru. Dan empat buku tebal itu sukses melambungkan nama Pram di kancah internasional.

Apa yang kemudian membuat karya Multatuli melambung tinggi, hingga Pram berani berkata bahwa Max Havelaar adalah kisah yang membunuh kolonialisme, adalah tentang apa yang saya katakan di awal tadi. Keberanian.

Laiknya Snowden, Multatuli telah membongkar skandal yang belum diketahui orang-orang. Meskipun saya rasa, ada beberapa hal yang berbeda jauh dari keduanya, Snowden dan Multatuli. Terlepas dari motif, konspirasi, atau alasan apapun yang selama ini simpang siur meramaikan opini masyarakat. Mengapa pada akhirnya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker mengasingkan diri ke Jerman hingga akhir hayatnya, sedangkan Snowden, bukannya mengasingkan diri, tapi santai berpelesir ke tempat rekreasi dengan mudah setelah membongkar permainan busuk para penguasa. Setidaknya, mereka berupaya untuk menembus kenyataan yang tak tampak di permukaan.

Multatuli menuliskan novel berjudul Max Havelaar, diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi pada dirinya sendiri selama 15 tahun tinggal di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda. Novel Max Havelaar merupakan tulisan pertama yang membeberkan kepada dunia mengenai penindasan kolonialisme di Hindia Belanda.

Sisi Kedua: Konsepsi Sastra dan Posisi Pengarang
Pada dasarnya, karya sastra “tidak berbeda” dengan karya sejarah, filsafat, atau sosiologi. Kesemuanya mengangkat bahan yang sama; masalah manusia dan kemanusiaan. Yang membedakannya adalah bagaimana bahan yang sama itu diolah, disajikan, dan diberi penekanan lewat sudut pandang masing-masing. Sejarah, misalnya, mencoba merekonstruksi peristiwa manusia dan kemanusiaan yang terjadi pada masa lalu. Filsafat mencoba mengangkat hakikat keberadaan manusia lewat uraian-uraian rasional, logis, dan sistematik. Adapun sosiologi, mencoba mengangkat keberadaan individu dalam kaitannya dengan individu lain dan lingkungan masyarakat dan kebudayaannya.

Lalu, bagaimanakah dengan karya sastra?
Dalam hal inilah uniknya kedudukan karya sastra. Ia dapat memanfaatkan fakta historis, pemikiran filosofis, atau fakta sosiologis. Malah, ia juga dapat menggabungkan ketiganya sekaligus. Saya berani berkata bahwa Multatuli tidak hendak menulis dengan pilihan-pilihan bahasa maupun teknik menulis yang menyajikan keindahan estetik, sebagaimana karya sastra pada umumnya. Ia hanya menulis. Tahu dan melihat langsung kebusukan yang ditemukan, kemudian menjerit melalui tinta dan kertas-kertas.

Recreatio!
Penciptaan kembali suatu peristiwa dalam kehidupan, menjadi sesuatu yang punya makna bagi kehidupan manusia. Karya sastra yang lahir dari tangan Multatuli mungkin juga sebagai tanggapan atas kondisi sosial kultural yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai tanggapan, niscaya ada kehendak untuk menyampaikan sesuatu atau menawarkan pesan tertentu. Di sinilah seorang sastrawan (karena kemudian Mulatuli dianggap telah menjadi pendobrak bagi lahirnya sebuah kebaruan dalam khazanah sastra dunia, maka menjadi boleh ia disebut sebagai sastrawan) sering memainkan peran sosialnya.

Sisi Ketiga: Licentia Poetica (Kebebasan Berkreasi)
Kebebasan berkreasi dimanfaatkan para pengarang untuk menghasilkan berbagai kebaruan. Lewat kebebasan itulah, Multatuli merasa dapat “bebas sebebas-bebasnya” untuk mengungkap apa saja yang terlintas dalam perasaan dan pikirannya. Meskipun setelah itu ia dicekal oleh pemerintah Belanda karena pengaruh hebat yang ditimbulkan dari tulisannya.

Pertama, Multatuli adalah anggota masyarakat, lahir dan besar dalam satu lingkungan masyarakat tertentu, dengan kaidah, norma, hukum, dan undang-undang yang tak bisa lepas begitu saja. Dalam kaitan dengan hal itu, kebebasan berkreasi seorang sastrawan seyogianya diungkapkan lewat simbolisasi-simbolisasi terselubung yang maknanya dapat ditafsirkan secara khas, sekaligus universal.

Ada hal-hal dalam sikap Multatuli yang kemudian tak sedikit menuai kritik. Misalnya, ia hanya mampu menelanjangi bagaimana rupa orang Jawa –yang dalam konteks ini bukan mengarah pada suku Jawa, tapi yang dimaksud adalah orang Hindia-Belanda secara keseluruhan atau Indonesia– ketika itu saat menghadapi kemelut penjajahan, tanpa pernah turun langsung, tanpa pernah berbuat, tak ada kontribusi apapun kepada yang terjajah di sekelilingnya.

Kedua, selain sebagai anggota masyarakat, Multatuli juga warga negara yang berada di bawah kekuasaan politik pemerintah. Sebagai warga negara, ada ketentuan politik tertentu yang hendak dijalankan pemerintah. Jika ada karya sastra yang bertentangan dengan politik yang hendak dijalankan pemerintah itu, maka jangan heran jika kemudian muncul pelarangan atas karya yang bersangkutan.

Ada yang dijunjung tinggi: kebenaran, kejujuran, moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Melalui tulisan, sesungguhnya penulis hendak mengajak masyarakat guna meningkatkan nilai-nilai moralitas, memperhalus etika agar lebih berbudi luhur, dan mendorong peningkatan peradaban manusia. Menurut hemat saya, Multatuli hanya ingin jujur dengan apa yang dilihatnya. Tak ada sudut pandang sastra yang ia lihat. Jika kemudian karyanya meledak hingga ubun-ubun kesusastraan, maka itu tak lebih dari timing yang tepat. Menurut saya lho ya.. 😀

Sisi Keempat: antara Saya dan Aku, Korupsi dan Penipuan
Max Havelaar dalam beberapa cetakan dari beberapa penerbit, dengan beberapa penerjemah seperti H.B. Jassin, Rosihan Anwar, dan terakhir, Ingrid Dwijani, penerbit Qanita – Mizan yang mendominasi rak-rak di toko buku, telah menciptakan pengertian baru. Contohnya sederhana, seperti penggunaan kata “Anda” yang diciptakan Rosihan Anwar. Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin yang diterbitkan Djambatan sebanyak sembilan edisi menggunakan kedua kata ganti tersebut secara tepat. Untuk menunjukkan suasana masa lampau, H.B. Jassin menggunakan kata ganti “Saya”. Sementara ketika Multatuli yang bercerita atau di dalam puisi sebagai pernyataan diri, maka yang digunakan adalah “Aku”. Ia juga memilih kata “Anda”, bukan “Kau” atau “Kamu”.

Sedangkan pada penerbit Narasi (2008) dan Qanita (2014) posisi “Saya” dan “Aku” dipulul rata. Contoh:

1. Narasi (2008)
Saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, saya, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”

2. Qanita (2014)
Aku adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, aku, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”

Selain itu, diksi “korupsi” yang muncul pada terjemahan Andi Tenri Wahyuni, penerbit Narasi (2008) jauh berbeda dari terjemahan H.B. Jassin, penerbit Djambatan dan Ingrid Dwijani, penerbit Qanita (2014). Contoh:

1. Djambatan (1972-2005)
“… dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat.”

2. Qanita (2014)
“… dan, akhirnya, aku tahu bahwa untuk mengakhiri semua penipuan ini, aku tidak bisa lagi menjadi pejabat.”

3. Narasi (2008)
“Dan, akhirnya, saya sadar bahwa saya harus berhenti jadi pejabat jika saya ingin mengakhiri semua korupsi ini.”

Lebih tepat dan tajam jika menggunakan pilihan ketiga, yaitu kata korupsi. Pada terjemahan pertama dan kedua dimaksudkan untuk memperhalus kata tersebut. Padahal, dalam terjemahan bahasa Inggris, yang digunakan adalah kata korupsi.

“And, finally, I realize that I must not be an official if i’m to put an end to all this corruption.” (Penguin Classics, 1987)

Pemilihan kata korupsi menjadi demikian tepat bila kita lihat carut marut Tanah Air Indonesia Raya. Setuju? 🙂

Pembedaan itu hanya dimaksudkan agar pembaca dapat mudah larut dalam peristiwa pada tahun-tahun penjajahan. Karena kata “Saya” dan “Aku” menunjukkan ruang, menampakkan keakraban atau keintiman yang berbeda. Jelas sekali bahwa bahasa Indonesia begitu kaya kosa kata dan pengertian-pengertian yang berbeda sesuai konteks peristiwa dan alur cerita. Telepas dari upaya agar hasil terjemahan tidak berbeda jauh dari naskah aslinya yang berbahasa Belanda, karena pasti ada beberapa nuansa klasik yang hilang ketika selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kesungguhan penerjemah dan penerbit untuk kembali memunculkan Max Havelaar ke permukaan, patut diapresiasi.

Selain bahasa, soal sudut pandang yang cukup kacau, melompat-lompat, sempat membuat geger teori teknik penulisan yang selama ini ada. Lagi-lagi saya juga cukup mengatakan bahwa Multatuli melahirkan tulisan pada waktu yang tepat. Sehingga semua teori seolah mati karena kebenaran dan nilai kemanusiaan yang ia bawa. Sorry to say… 😀 Dan tentulah 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk membentuk pola pikir, yang kemudian memberikan nyawa pada tulisannya.

Sisi Kelima: Sejarah dan Budaya
Ada satu pernyataan dari Sejarawan UI yang saya bubuhi garis bawah dan tanda seru: Indonesia bisa dipahami sebagai entitas solid karena karya sastra. Sekarang, budaya membaca sinopsis sebuah buku sudah cukup mewakili proses membaca keseluruhan isi buku. Lalu dengan bebas kita bicara bahwa kita tahu buku itu. Tahu semuanya. Padahal, hanya sinopsis yang dibaca. Dan ini budaya yang cacat. Karya sastra yang seharusnya menjadi tradisi intelektual, pada akhirnya terseok-seok, sampai pincang akibat dilibas dengan kultur instan.

Padahal, jika sebentar saja kita mau sabar terhadap proses membaca itu sendiri, khususnya tulisan Max Havelaar –yang saya kira cukup membingungkan untuk dibaca oleh anak muda era korea– maka kita akan menemukan satu kerangka berpikir seorang tokoh bernama Max Havelaar, yang tak lain dan tak bukan adalah sang penulis itu sendiri: Multatuli atau Eduard Douwes Dekker. Sampai pemerintah Belanda berpikir untuk segera menyelesaikan semuanya. Menyudahi kekuasaannya yang sudah bercokol lama di Hindia Belanda. Menginginkan permainan yang lebih fair.

Subagio Sastrowardoyo (1983) dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita, menuliskan bahwa ia telah tersentuh oleh tenaga cipta yang hebat dan kekal dari lingkungan luas, hutan-hutan lebat, dan rakyat yang terjajah. Multatuli tumbuh di tengah gejolak sosial, politik, dan pemerintahan yang pada akhirnya membentuk kepribadiannya. Tanah Nusantara dengan segala problematika yang menggugah dan menginspirasi.

Dampak yang muncul terhadap orang Indonesia, mungkin tak banyak. Bisa dibilang sangat kecil. Apalagi buku Max Havelaar baru diterjemahkan pada tahun 1972, sedangkan Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Tapi ternyata, pengarang eropa lah yang merasakan efek awalnya. Karya-karya yang didominasi bahasa “eksklusif” bersumber dari alkitab, kemudian seperti mulai menemukan udara segar untuk mudah diterima dan semakin dekat dengan berbagai golongan masyarakat. Bentuk yang memungkinkan kritik secara terbuka adalah novel. Potret sosial yang dikemas dalam bentuk cerita fiksi. Dan fiksi, bukan berarti menipu.

Mendorong pula lahirnya cerbing atau cerita berbingkai. Menurut Sastrowardojo, Max Havelaar mengandung tiga buah cerita pokok. Pertama, pengalaman Havelaar menjadi asisten residen Lebak. Kedua, pedagang kopi Droogstoppel yang tinggal di Amsterdam. Ketiga, kisah Saijah dan Adinda di desa Badur. Inilah salah satu usaha untuk memperbaharui bentuk sastra lama dengan teknik yang lebih modern.

Sisi Keenam: Merayakan Max Havelaar
Ini gila! Saya sungguh terkagum-kagum dengan seseorang yang duduk di depan, paling kiri dari foto ini, menggunakan pakaian berwarna hijau.

C360_2014-10-21-10-13-32-673

Beliau adalah Ubaidilah Muchtar, pemandu reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten. Tepatnya di kampung Ciseel yang waktu tempuhnya panjang sekali, dengan medan yang sangat sulit. Jembatan putus yang dilalui anak-anak yang akan berangkat sekolah, yang mungkin selama ini Anda simak di televisi. Jalur curam, kanan-kiri jurang, topografi berbukit-bukit, fasilitas yang tak mudah diperoleh, betul-betul jauh dari peradaban.

Dan beliau yang biasa dipanggil Kang Ubay, menempuh jarak Depok – Banten, hanya untuk menghidupkan tradisi intelektual yang mulai terkikis, di Taman Baca Multatuli. Max Havelaar adalah bacaan wajib bagi anak-anak di kampung Ciseel! Dahsyat!

Saya sempat berlinang mendengar penuturan beliau. Membaca novel Max Havelaar 142 kali, dan ia tak membacanya seorang diri. Melainkan bersama dengan anak-anak kampung yang duduk di Sekolah Dasar. Yang membuat saya terhenyak, adalah kondisi kampung tempat Kang Ubay mengajar di Taman Baca Multatuli. Kampung yang baru dua tahun terakhir ini dialiri listrik, tapi sudah sejak lama anak-anaknya gemar membaca Max Havelaar. Sungguh, bahkan saya sendiri mudah terserang kantuk dan bosan ketika membaca Havelaar. Cukup sulit mencerna beberapa maksud dari kalimat di dalam novel tersebut. Malu juga, ternyata saya dikalahkan oleh anak SD. Telak.

Selain Kang Ubay sudah membacanya sebanyak 142 kali, beliau juga punya sembilan cetakan Max Havelaar, kecuali cetakan ke-4. Itu artinya mulai cetakan penerbit Djambatan (H.B. Jassin) sampai Qanita (Ingrid Dwijani) beliau punya semua. Wow! Addict banget ya

Allah.. bahkan saya menangis ketika menulis ini.
Kang Ubay berucap lantang, bahwa anak-anak yang telah membaca Max Havelaar, bukan hanya menjadi seorang anak yang berpengetahuan luas akan sejarah tempat tinggalnya di Lebak, Banten. Tapi mereka terlahir kembali dengan semangat belajar dan impian yang melangit.

Maka, demi memaknai tulisan bernas dalam novel tersebut, setiap tahun, sekitar bulan Mei, mereka merayakan Max Havelaar. Membuat pertunjukan drama dengan properti asli, seperti kerbau, pakaian penduduk desa di Banten, dll. Tentu, properti itu mudah diperoleh di kampung pedalaman seperti di Ciseel. Saya akan menyusun rencana untuk bisa menyaksikan perayaan itu langsung. Apalagi kalau sudah sampai pada kisah Saijah Adinda 😛

Seperti satu rahasia ini. Tokoh dalam sampul novel Max Havelaar terbitan Qanita, ternyata adalah dua anak didik Kang Ubay yang dulu tengah memainkan drama Max Havelaar. Model perempuan di sampul bernama Suryati, sekarang SMP di Jakarta. Dan yang laki-laki, saya lupa namanya siapa. 😀

maxhavelaar-53ed6b1c40fbf

*Yah, kebongkar deh misteri sampul Max Havelaar, haha*

Sisi Ketujuh: Max Havelaar dan Konteks Kekinian
Saya pikir kebiasaan baik anak-anak di Taman Baca Multatuli, kampung Ciseel, mampu menjawab semua pertanyaan tentang apa yang bisa Anda, saya, dan kita semua dapatkan dari sebuah buku berjudul Max Havelaar, dalam situasi dan kondisi yang sudah nyaman seperti sekarang ini. Mereka sudah menjawab tantangan zaman secara sederhana; membangun kembali tradisi membaca, budaya bercerita (berdiskusi dan mendongeng), menulis kembali apa yang sudah dibaca, dan memerankan tokoh dari cerita dalam buku (bermain drama)! 😀

Model yang sederhana, tapi jelas sangat sulit menerapkan proses reading group sebagai tahap awal untuk memahamkan isi Max Havelaar yang njlimet kepada anak-anak SD. Bagaimana kemudian anak-anak pedalaman Lebak itu bisa tumbuh dengan rasa bangga terhadap Bangsanya, melangitkan impian dengan lantang bahwa kelak mereka akan memimpin Negeri dengan kejujuran dan dedikasi terbaik.

unnamed1

by. Hatma Hanis

Ya! Anak-anak! :’)

semoga Allah membalas semua kebaikan Kang Ubay,
dan kelak, anak-anak Lebak bisa tumbuh dengan pemahaman baik
Bogor; Jumat, 24 Oktober 2014
08:33 WIB

Advertisements

13 comments

  1. Siti Lutfiyah Azizah · · Reply

    Pertama, kamu juga termasuk anak muda era korea kan, Kar? :p #gagalfokus

    Kedua, ini serius kamu juga punya koleksi Max Havelaar dr brpa edisi? Sampe ada contoh penyebutan kata ganti gitu. Aku cuma punya satu yg cover merah. Itupun belum dibaca karena lagi selesein buku yg lain.

    Ketiga, aku ga akan komen bukunya max karena belum dibaca bukunya. Tapi belajar dari sejarah jaman sekolah, max adalah ‘pemberontak murni’ yang berani mendobrak sastra di masa itu sekaligus mengkritisi kultur kolonialism yg ada..

    1. Pertama, itu fitnah! haha :’D aku bukan anak alay koreaaa >,<

      Kedua, aku punya satu aja. Sama kayak yang kakak punya, terbitan Qanita warna merah (yang rahasia gadis dan jejaka sampulnya sudah terbongkar, wkwk)

      Ketiga, sisi keempat, kelima, keenam itu hasil diskusi. Sisanya tambahan analisa dari aku. Khususnya sudut pandang sastra. Karena pas diskusi yang sastranya nggak terlalu dikupas.

      Semoga nggak puas ya kak, hehe 😀

  2. Mantap! Meski saya gak terlalu paham sastra, haha..

    1. Ayoo belajar.. sastra seru lho 😀

  3. sastraaa sekalii

  4. Putri Erline · · Reply

    Bismillah…
    Hmm… dimulai dari mana ya? Haha.

    The keywords are: reconstruction, freedom to expressing something, revolution, brave, and the TRUTH.

    Buku tsb bak artefak atas momen revolusi dalam kebebsan berekspresi, terlepas dr gaya bahasa atau penulisan yang Multatulis gunakan dalam menuang apa yg ada dalam benaknya; suka ataupun tidak, gebrakan ttaplah gebrakan.

    Rekonstruksi; sebuah upaya menceritakan kembali kisah nyata, baik yg dituang dlm bentuk novel maupun biografi tetaplah sebuah sejarah yang dgn sengaja yang dilontarkan ke permukaan. Lagi lagi, setuju ataupun tidak setuju , realita yg terkandung di dalamnyatetap harus dicerna, dan hanya keberanian yang mampu menelannya.

    Kondisi tekanan (atas aturan atau norma yg berlaku) dari Pemerintah Hindia Belanda & kesengsaraan yg mengelilinginya mampu membentuk pribadi seseorang. Artinya, Multatuli mampu membaca suasana, mencoba menerima & mengeluarkan segala isi benaknya sekalipun beliau tak terlibat konspirasi.
    Mungkin bisa saya katakan bahwa Max Havelar adalah sebuah tulisan “penjajah” (karena dia seorang Belanda) yang “tak terjajah” (tanpa intervensi, khususnya pemerintah).

    Dan… untuk yang kesekian kalinya… saat berlutak dengan “nyata” (realita -red) kita punya banyak pilihan: menerima dengan haru, menerima & mencoba mencernanya diiringi upaya memerbaiki hidup atau menyerah mencerna & mencemoohnya.

    Belajar memanusiakan manusia, dimulai dengan jujur terhadap diri sendiri, jujur kepada orang lain dan berani menerima dan memberikan (memberitakan) kebenaran.

    Berani bertindak benar, berani menerima kebenaran.

    1. beuhh… gue bingung mau jawab apa put. haha
      anyway, thanks tanggapannya. Luar binasaaah! 😀

  5. Aku tau buku max havelaar dari muridku. Anak smp tapi suka baca buku yang menurutku ‘berat’ untuk usianya. Ngeliat muridku itu, aku jadi inget sekar. Mungkin sekar saat seusianya bacaannya juga sudah yang berat berat *jadi kangen sama sekar* 🙂

    1. T,T me too… kapan2 yuk mbak kita jalan ke pameran buku atau ke toko buku trus diskusi bareng tentang buku dan kawan-kawannya.. 😀

  6. Keren. Tapi mungkin harus konsisten memakai istilah “Hindia Belanda” rather than “Indonesia”. It was 19th Century.

    1. Terima kasih, master..

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: