Belajar Psikologi dalam Balutan Karya Seni

Ini GILA! Bagaimana bisa menjadikan keilmuan yang diperoleh dari bangku akademik, tiba-tiba terlibat dalam sebuah novel fiksi? Sinta Yudisia berhasil menyajikan teori psikologi dalam balutan jubah estetika yang menawan. Setelah novel Rinai, Sophia & Pink, inilah novel berikutnya yang menonjolkan ilmu psikologi. Novel ini memenangkan juara ketiga dalam kompetisi menulis Tulis Nusantara 2013 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Judul                  : Bulan Nararya
Penulis               : Sinta Yudisia
Sampul              : Paperback (softcover)
Jumlah halaman: 256 hal
Penerbit            : Indiva Media Kreasi
Waktu terbit      : September 2014
Harga                : Rp 46.000

Bulan-NararyaDunia Klinis dan Penderita Skizophrenia
Kisah tentang keseharian di sebuah Yayasan bagi para penderita gangguan jiwa (skizophrenia). Nararya, seorang terapis yang bekerja di Yayasan milik Bu Sausan, bersama sahabatnya, Moza. Di klinik tersebut, ditampung para penderita keterbelakangan mental yang terlantar di pinggir jalan, maupun yang sengaja diantar oleh keluarganya untuk mendapat perawatan. Saya menikmati kejadian demi kejadian di klinik, terutama bagaimana proses Nararya membantu memulihkan kondisi psikis seorang gadis kecil yang beranjak remaja bernama Sania.

Upaya-upaya penyembuhan bukan berada dalam ruang-ruang terapi, bukan berada dalam proses dialog selama dua jam, bukan pada upaya kami menampilkan profil kepribadian atau inteligensi di atas kertas. Upaya penyembuhan itu ada di sini. Di dapur umum, di antrian kamar mandi, di kelas belajar keterampilan handmade atau melukis.

Memahamkan makna sabar ketika berdiri di depan kompor, apa yang dinamakan sabar saat mencoba berdamai dengan sesuatu, seperti terinjak kaki, gosong masakan, terciprat minyak panas, atau masakan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Sabar adalah ketika ia mampu mengendalikan diri, tidak berteriak-teriak menjerit ketika berhadapan dengan sesuatu yang asing. (hal.168-169)

Betapa gigih dan penuh dedikasi seorang Nararya. Berani maju dengan proyek transpersonalnya untuk menyembuhkan para penderita skizophren, meski mendapat penolakan penuh dari pemilik Yayasan. Nararya adalah seorang terapis yang sering menasihati orang, memberikan masukan, tapi dirinya sendiri dilanda kemelut rumah tangga yang tak sederhana. Nyatanya, ia tetap mampu menyelesaikan pekerjaan dengan totalitas tinggi, meskipun dalam perjalanannya, tentu lelah tak hanya menyerang fisik. Tapi juga hati dan pikiran.

Membangun Karakter Tokoh
Ben Johnson dalam karyanya Every Man His Humour, seolah-olah tokoh-tokohnya dipaksa berbicara oleh sang penulis. Berbeda dengan Shakespeare yang membuat tokoh-tokohnya sendiri seolah berbicara. Saya kira, Sinta melakukan hal serupa melalui ekspresi tubuh, mimik wajah, dan sikap ketika tokoh tersebut sedang berdialog. Saya merasakan setiap sifat si tokoh muncul dengan cara ditunjukkan, bukan dituliskan atau dideskripsikan, seperti “Nararya adalah gadis yang A, B, C, … dst” Sinta membuat tokoh-tokohnya sendiri yang seolah berbicara.

Proyeksi Sifat dan Emosi
Pada tahap awal, karya sastra dianggap sebagai proyeksi pengarang. Aspek-aspek emosi yang terdapat dalam karya itu dianggap mewakili emosi-emosi pengarang. Lewat pendekatan psikologi, diharapkan dapat terungkapkan bagaimana pengalaman pengarang amat menentukan isi karyanya, seperti gaya, tema, dan penggambaran watak para tokoh ciptaannya.

Saya jelas tidak tahu sifat-sifat seorang Sinta Yudisia. Tapi berhubung saya gemar membaca karya-karya Sinta, saya hapal betul kalau Sinta senang sekali menggambarkan tokoh wanita dengan kekuatan penuh (powerful), berdaya, tough, berpendidikan, menyimpan karisma, dan segala bentuk keistimewaan seorang wanita. Tidak lantas menjadi simbol feminis. Tidak pula mendominasi. Tetap berada dalam porsinya. Kalau kemudian saya berasumsi, seperti itulah proyeksi potensi diri yang beliau miliki, gapapa dong? 😀

Posisi Psikologi dalam Bulan Nararya
Nararya yang terbuka, ceplas-ceplos, ceria, tiba-tiba menjadi mudah terguncang jiwanya, mudah emosi, lalu berakhir dengan kesedihan panjang dan berlarut-larut. Akibat perceraiannya dengan sang suami yang sudah 10 tahun bersama. Kemudian didapati bahwa mantan suaminya menikah dengan sahabat baik Nararya, yaitu Moza.

Persis seperti Oscar Campbell yang berusaha menunjukkan bahwa Jaques dalam drama Shakespeare As You Like It adalah “kasus melankoli yang tidak alami, yang timbul karena tekanan phlegm”. Atau seperti Lily Campbell yang mengatakan bahwa Hamlet cocok dengan “tipe periang dan optimis yang mengalami tekanan melankoli”.

Apakah pengarang berhasil memasukkan psikologi ke dalam tokoh Nararya, Moza, Angga, Sania, Yudhistira, Diana, Bu Weni, Farida, dan tokoh lain? Sekedar tahu teori psikologi saja tidak cukup kalau masih kesulitan menyusun kalimat agar para tokoh menjadi hidup dan berkarakter kuat. Pengetahuan itu hanya berfungsi sebagai bahan, seperti informasi lain yang sering kita dapatkan dalam karya sastra. Jika tidak diikuti dengan keterampilan menghadirkan nuansa pergolakan jiwa dan pikiran ke dalam setiap peristiwa dan hubungan antartokoh, maka karya sastra tersebut belum sah dikategorikan sebagai sastra-psikologi.

Local Wisdom yang Samar-samar
Untuk kompetisi menulis sekelas Tulis Nusantara, saya rasa setting dalam novel ini kurang memunculkan suasana yang kuat dan mengikat. Memasukkan latar salah satu tempat di Indonesia, seperti Palu, jembatan Suramadu, dan tentunya kota Surabaya, memang tidak terkesan memaksakan. Hanya saja, saya kurang merasa ada tarikan khusus dari setting Surabaya yang membuat pembaca terbawa arus kebudayaan Jawa Timur. Saya tidak merasa sedang “berada” di salah satu lokasi di kota Surabaya.

***

Salah satu perintis psikologi sastra adalah I.A. Richard, menentang anggapan seni untuk seni. Alasannya, bahwa seni hanya akan dapat bermakna jika ia mampu berkomunikasi dengan pembaca.

*Pustaka:
Mahayana, M. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing.


Bogor; Jumat, 7 November 2014
8:16 WIB

Diedit pada Selasa, 17 Februari 2015
19:05 WIB

Advertisements

11 comments

  1. temanku big fans ama sigmun freud

    1. waah… 😀 koleksi tulisan-tulisannya freud pasti yaa..

  2. lagi bingung mau ngapain aja, tulisannya sarat makna begini. Jadi penasaran baca buku2nya mbak Shinta Yudisia :). Terima kasih atas ulasannya sekar.

    1. sama-sama mbak.. 🙂 nanti kalau ada buku bunda sinta yang udah dibaca, aku mau denger kesan mbak. Hehe. Mau pinjam punyaku juga boleeeeh haha

  3. Menarik, walau saya tak terlalu tahu tentang sastra..

    Wkwk, padahal dulu saya (calon) mahasiswa Sastra Indonesia UI..

    1. aku juga, (mantan) (calon) mahasiswa sastra UI 😛
      tapi semoga nanti jadi beneran. haha

  4. Keren. Tapi typo tuh, seharusnya “Sigmund Freud”. :p

    1. hahaha oke 😀

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: