Kurau

Hujan, anyir, lembap. Satu paket lengkap untuk tiga pagi terakhir. Dunia yang Ran kenali di sekelilingnya, tak lagi sesyahdu yang lalu. Pekik Koh Lim menawarkan Bawal, Cucut, Tuna, Cakalang, masih dan selalu jadi nomor satu. Desakan para lelaki membawa hasil tangkapan diantara lalu lalang pembeli, menjadi rutinitas yang sudah mendarahdaging sejak pukul 2 pagi sampai menjelang siang.

Tapi tetap saja Ran melihat tiga paginya dengan mata dan hati yang sendu. Terlalu gelisah mendengar suara-suara. Terlalu kecewa menadah subuh yang kini tak akan pernah lagi sama. Bukan karena ikan-ikan di dapur menyusut, habis, dan tak ada apapun untuk meredam bunyi-bunyi perut. Bukan. Jumlah ikan-ikan di dapur justru berlipat-lipat dari sebelumnya. Seperti sudah tahu bahwa besok mereka akan menjadi kunci agar dapur tetap mengepul.

Bibirnya terlalu kelu bercerita, jika matanya sudah kebas menuturkan segala. Beruntungnya, tak ada satupun tetangga protes dengan anak gadis yang tiba-tiba saja menjadi pendiam. Sayangnya, Ibu masih menjerit. Keempat bocah kecil terlalu pagi mencium ketidakberdayaan disekelilingnya. Terlalu rapuh bilamana Ran tak segera berkemas. Maka, begitu mendengar jeritan adik-adiknya, ia bangkit. Mau tak mau.

“Ssst… jangan keras-keras” Ran berbisik. Matanya tajam memperingatkan keempat bocah kecil.

Si bungsu terdiam. Mengusap matanya yang basah, menyusut hidungnya yang beringus. Ketiga kakaknya masih menahan senggukan. Namanya Gole, menatap Ran, hendak bertanya banyak. Pelan ia mendekat.

“Besok Bapak Ibu jualan lagi?”
Ran menggeleng cepat.

“Besok kita bisa makan Pari?”
Ran menarik napas panjang, menghembuskannya cepat dan kasar. “Kamu lapar?”

Bergegas Ran ke dapur dan kembali dengan sekeranjang ikan. Dilemparkannya keranjang beserta belasan isinya ke hadapan Gole. Bertambah kencang tangis ketiga adik perempuannya.

Si bungsu terkejut, tapi tak menangis. Justru Ran yang tersedu. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terduduk di samping pintu kayu, di samping ceceran ikan. Gole mendekat. Memeluk Kakak perempuannya. Melepas pelukan setelah menit-menit berlalu, menggeser tangannya ke wajah Ran. Kesusahan menarik ujung kaosnya mendekati pipi Kakaknya. Ran tertawa kecil. Membungkukkan badan sedikit agar si bungsu tak kesulitan.

Lalu hujan jatuh tepat di hati gadis 12 tahun.

***

“Aku mau cumi-cumi!”
“Udang saja lah. Kan 2 hari lalu sudah cumi-cumi”
“Kuda laut! Hiu!”
“Kenapa hiu? Kata Koh Lim itu bahaya”
“Kan Bapak sudah pernah tangkap hiu waktu itu. Ah kamu masih kecil jadi tidak tahu”
“Huu… memang sekarang kamu sudah besar?”

Sebuah rumah kecil di pesisir sudah pecah oleh suara-suara cempreng pukul 4 pagi. Ran tertawa melihat adik-adiknya berebut memesan lauk. Keributan kecil yang selalu menyenangkan untuk sekadar didengar, meskipun nantinya mereka akan makan apa saja yang sudah terhidang di piring.

“Nah, jagoan Bapak, kamu mau makan apa besok?” Bapak mendekati Gole. Sedari tadi Gole asyik memperhatikan ketiga kakaknya cerwet memesan menu. Ia terkekeh seperti sedang menonton siaran komedi.

Gole menatap Bapak di sisa-sisa tawanya. “Bapak besok pulang jam berapa?”
Bapak mengusap kepala si bungsu kesayangan. “seperti biasanya, Nak. Ayo, mau udang? Cumi-cumi? Bawal?”

“Pari!” pekik Gole.
Suara ribut ketiga bocah lainnya mendadak terhenti. Bilangan detik berlalu, serempak berteriak, “Aku juga mau Pari!!!” Kami tertawa. Bapak mencium kening keempat anaknya.

Bapak berganti menatap si sulung. Ran tersenyum, membayangkan dirinya begitu ingin mencampur nasi dengan Kurau. “Kurau, Pak..”

Bapak terkekeh pelan. “Kurau? Hmm… baiklah.. Semoga kami beruntung kali ini.”

Bergegas menuju perahu, Bapak menyisakan lambaian panjang hingga Ran dan adik-adiknya menutup pintu rumah, bersiap menyambut pukul 7 dan berangkat sekolah.

***

Lalu pada waktu yang sudah terbiasa dengan cepat-cepat, pagi di suatu hari kembali disibukkan dengan suara khas Koh Lim. Jubelan bau keringat bercampur aroma ikan di sebelah utara, dan aktivitas yang sama dengan sebelum-sebelumnya, menjadi tidak biasa begitu muncul hal baru.

Bapak dan rombongan yang melaut tiga pekan lalu, pulang dengan tangkapan melimpah ruah. Kebahagiaan langka, mengingat begitu sulitnya mendapat hasil besar ditengah cuaca tak pasti, bahkan cenderung beresiko.

“masih ada tiga muatan lagi!”
“bahkan empat, kawan!”
“wah, banyak sekali!”
“rizki besar!”
“bagaimana bisa? Ini hebat!”

Kegembiraan muncul di sana-sini. Begitu pun sumringah yang Bapak bawa pulang bersama hasil melaut selama tiga pekan. Mata empat anak perempuan dan satu jagoan Bapak berbinar terang.

“Kurau-nya tidak ada, Pak?” tangan Ran sibuk memilah ikan-ikan, mencari pesanannya. Matanya tak beranjak.
“Oh ya, masih ada tiga sampai empat muatan lagi pagi ini. Bapak akan kembali.” Bapak bercakap dengan Ibu. Tak menjawab pertanyaan Ran.
“Wah, tumben sekali, Pak.” Wajah Ibu tak kalah cerah.

“Pari! Pari kami mana, Pak?” Tanya keempat adik-adik Ran, riang.
“Nanti Nak.. Bapak akan ambil ikan lagi setelah ini.. Tunggu ya..” Bapak tertawa. Keempat bocah itu mengangguk lalu pergi begitu saja.

“Pak, kurau-nya mana?” mata Ran tak beranjak dari tumpukan ikan di hadapannya. Masih mencari ikan miliknya.

“Ya, meskipun cuaca sering berubah-ubah, entah kenapa saat kami melaut, semuanya baik-baik saja. Dan beginilah..” Bapak tertawa. Meneguk segelas air yang Ibu tuang.
“Ya, semoga saja bes…”

“Mana kurau-ku?!” pekik Ran, memotong kalimat Ibu.
“Ini, sebentar lagi Bapak akan mengambil tangkapan berikutnya.” Bapak tersenyum.

“Ranji masih di sana, Pak?” Ibu terlalu bahagia. Tak memperhatikan betul tingkah sulungnya yang sedikit emosional dan suka merajuk belakangan ini.
“Masih, Bu. Ranji dan tujuh kawannya masih di sana. Sebentar lagi aku akan menyusul. Beruntung, kami bawa banyak rombongan dan tentu banyak kapal..”

BRUK!
Bapak dan Ibu menoleh. Mendapati bangku kayu kecil dijatuhkan. Ran berlari menjauhi rumah.

“Bu, sulung kita beberapa hari terakhir, jika tidak ada adik-adiknya, seringkali merajuk. Kau tahu kenapa?”
“Bukankah itu biasa? Dia memang begitu, Pak. Bapak saja jarang melihat Ran demikian kerasnya jika sudah punya keinginan.”
Bapak menggeleng. “Ran tidak pernah begitu.”
Ibu hanya menghela napas.

“Aku berangkat, Bu.” Bapak beranjak.
“Tidak istirahat beberapa menit lagi, Pak? Kau masih terlihat begitu lelah”
“Wajah pelaut sepertiku memang begini, kan?” Bapak tertawa. “Aku belum membawakan pesanan anak-anak.”
“Kurau dan Pari sungguh sulit. Jangan dipaksakan, Pak”
Bapak tertawa. “Hei, bukankah kau lihat tangkapan kami begitu besar? Ini pertanda baik. Aku akan membawakan apa yang mereka inginkan. Terutama untuk anak gadis kita..”
Ibu tersenyum lebar. Mengelus punggung Bapak.

“Aku berangkat. Jaga anak-anak.” Bapak bergegas.

***

Dan seluruh aktivitas kembali membunuh waktu-waktu sunyi. Semuanya kembali seperti semula. Hanya saja, sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang. Mungkin memang begitu bagi Ran.

Ketika Ran tak beroleh jawaban, sedu sedan Ibu semakin menderas. Itu sudah cukup menjadi penutup segalanya. Tapi tetap saja Ran butuh penjelasan. Apakah demikian mudahnya pria kuat, bertahun-tahun tertempa kerasnya deru gelombang pasang, menjadikannya pelaut tangguh, kemudian dalam sekejap harus menelan kesengsaraan. Kepiluan yang muncul tepat dimana sebuah dunia telah mendidiknya menjadi kesatria.

Haruskah jalannya memang begini? Tak henti-hentinya Ran bertanya, terus-menerus pula ia menyalahkan diri. Seharusnya ia tak pernah meminta Kurau. Seharusnya ia tak pernah ingin makan nasi dengan lauk Kurau. Seharusnya ia tak pernah mencari-cari Kurau di tumpukan ikan. Seharusnya ia tak pernah membanting bangku kayu demi melihat kurau miliknya. Seharusnya saat itu ia tak perlu marah. Seharusnya perubahan hormon wanita itu tak terjadi saat itu. Seharusnya…

Ran menatap keempat adiknya yang tertidur pulas setelah menangis seharian. Hanya Gole yang tak berteriak sebagaimana ketiga kakak perempuannya. Bahkan Gole yang menghibur, mengecup keningnya, dan merapikan tumpahan ikan. Hal sederhana yang bahkan tak sanggup Ibu lakukan.

Selang menit, hening pecah akibat suara Ibu. Wanita itu mulai meracau. Lalu bangkit tiba-tiba, tanpa bicara sepatah kata pun, tanpa menatap Ran sedikitpun, bergegas mengumpulkan wadah ikan. Bunyi-bunyi kasar membangunkan adik-adik Ran. Gole tetap pulas. Rupanya Ibu hendak pergi.

“Ibu mau ke mana?” Tanya Ran.
Tidak ada jawaban.
“Bu? Ibu mau ke mana? Kenapa bawa banyak barang?”
Ketiga adik perempuan Ran mulai menangis lagi. Mereka mengintil sang Ibu menuju pesisir.

“Bu! Ibu!”
Ran memeluk Ibunya sekuat tenaga.

“Ibu mau cari Pari buat adik-adikmu. Ibu mau cari Kurau buatmu. Kamu tunggu saja di rumah.” jawaban datar Ibu cukup sudah membuat Ran menangis.

Hujan menderas. Sebagaimana derasnya air mata membasahi hati Ran. Tak pernah lagi ia mempertanyakan pagi yang punya napas berbeda dari biasanya. Tak pernah lagi ia mengucapkan “seharusnya”.

Gole terbangun dengan mata mengerjap, setengah nyawa terkumpul.
“Ibu mau ke mana, Kak?”
Ran menciumi si bungsu.
“Mau cari Pari ya? Aku sudah tidak mau Pari lagi. Nanti kalau aku minta Pari, Ibu tidak pulang lagi seperti Bapak..”

Ran memeluk adiknya erat. Ran dan Gole memang harus mendapati jalan yang panjang untuk bertemu dengan orang-orang yang dicintainya kelak. Tak harus bersama. Selama doa-doa tetap menggema, semuanya akan kembali semula.

***

Pesisir Trisik berkabung. Menandakan babak baru bagi waktu yang terus berpacu. Menjadi pengingat kesejatian bahwa kehidupan akan terus beranjak, meski yang lalu tak harus dilupakan.

Ran dan Gole, si sulung dan si bungsu, kembali mendengar Koh Lim berteriak, lalu berlarian ke pasar ikan dengan langkah riang.

dari google.com :D

dari google.com 😀

“Perjalanan, tak pernah bertanya sejauh mana kesanggupan.
ia hanya tahu bahwa kita punya upaya untuk kembali,
ia hanya tahu bahwa kita akan menjadi dewasa dan cemerlang.
Bersabarlah.. lalu nikmati kanan dan kirimu,

seperti Ran dan Gole: menjadi kuat
sebab perjalanan hidup yang hebat”

s.a.

kangen jalan-jalan 😀
Bogor; Sabtu, 7 Februari 2015
11:47 WIB

Advertisements

14 comments

  1. TT^TT sedih banget..

    Btw, kayaknya ente ada yang salah ketik.. Harusnya “Cakalang”, bukan “Cangkalan” (paragraf 1).. 😀

    1. udah dibenerin. makasih 😀

      1. Iya, sama-sama..

        Oh iya, ane izin share ya, hehe.. (padahal udah di-share banyak2 sebelum minta izin)

        1. monggooo.. 😀

  2. Kaaa.. aku suka tulisannya ^^.

    1. waa makasih Santhi 😀
      masih banyak koreksi nih

    1. terima kasih 🙂
      ini masih banyak bagian yang salah kaprah dan bisa dibantai, sebetulnya. Hihi
      masih belajar

  3. tempatnya indah dan bersih

    1. suka ke pantai juga kan mbak? hehe

  4. ceritanya mengalir, tetapi suspennya kurang dapet. kerasa datar, sekar. Terus ada beberapa kesalahan tanda baca. Misal di sebuah dialog, sebelum tanda kutip baiknya di akhiri dengan tanda titik (.) atau koma (,) tergantung kata setelahnya. Mungkin hanya terlewat saja, karena saya yakin penulis sudah tahu itu hehehe…

    1. Rendy berucap, “aku sudah kenyang.”
      Rendy memegang perut. “aku lapar. Masak apa?”
      “Aku pusing,” Rendy berbisik.
      “Makan.” Rendy mulai menyuap

      typo ya 😀
      Your comment has been accepted! Thank you

    2. konfliknya maksudnya? konflik di pertengahan kurang greget? lanjut di wa aja deh broh 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: