The Kite Runner: Sebagian Mimpiku ada Di sini

“Kurasa aku ingin mengambil jurusan bahasa Inggris,” kataku. Dalam hati aku mempersiapkan diri menerima rasa sakit, menantikan jawabannya.

“Bahasa Inggirs?”

“Penulisan kreatif”

Baba mempertimbangkan perkataanku. Terus menyesap tehnya, “Cerita, itu yang kau maksud. Kau mau mengarang cerita.” Aku menunduk, memandangi kakiku.

“Apa kau akan dibayar untuk itu, mengarang cerita?”

“Kalau aku menjadi penulis yang bagus,” kataku. “Dan kalau aku ditemukan”

“Berapa besar kemungkinannya, ditemukan?”

“Hal itu senantiasa terjadi,” jawabku

Baba mengangguk. “Dan apa yang kau lakukan saat kau menunggu dirimu menjadi penulis yang bagus dan ditemukan? Bagaimana kau akan mendapat uang? Kalau kau menikah, bagaimana kau akan menghidupi khanum (istri)-mu?”
“Wah, wah! Jadi, begini yang kumengerti, kau akan menghabiskan beberapa tahun kuliah untuk mendapatkan gelar, lalu kau akan mendapatkan chatti seperti yang kulakukan, pekerjaan yang bisa saja dengan mudah kau dapatkan hari ini, sambil sedikit berharap bahwa suatu hari nanti, gelarmu akan membantumu untuk… ditemukan.” Baba menghirup napas panjang dan menyesap tehnya. Menggerutu tentang sekolah kedokteran, sekolah hokum, dan “pekerjaan betulan”.

Pipiku terasa panas dan rasa bersalah menggerogotiku, rasa bersalah karena diriku berperan dalam memperparah penyakitnya, yang menyebabkan kuku-kukunya menghitam, dan pergelangan tangannya nyeri. Tapi aku akan tetap memegang keinginanku, putusku. Aku tidak ingin lagi berkorban untuk Baba. Terakhir kali aku melakukannya, aku telah membuat diriku sendiri terpuruk.

Ini kayak dejavu T_T
*pokoknya emot nangis bakal bertebaran sepanjang baca buku ini*
*lebay*
*biarin*

***

kite-runner-book-jacket

Saya mengalami hal yang hampir sama persis dengan tokoh Amir. Tapi saya nggak mau bilang kalau Amir lebih beruntung. Nggak juga. Saya juga Alhamdulillah sudah Allah kasih kehidupan yang beraneka rasa dan warna. Oke, stop. Ntar jadi curhat haha

Di luar negeri itu, khususnya di Negara maju, pilihan jurusan untuk kuliah sangat variatif, beragam, warna-warni, seru! Selain contoh dalam novel ini, saya sempet searching kampus di luar (niatnya sih mau nyari s2) dengan jurusan yang ga jauh-jauh dari literasi, atau pilihan paling darurat adalah melanjutkan studi s1. Ada jurusan book and digital media studies (yang paling diinget ini, soalnya pengen. haha), dan lupa lagi saking macem-macem. Saya juga dipinjemin dosen, buku yang jadi panduan kuliah beliau selama di Negara X, Negara yang saya incer. Buanyaaaaak banget jurusan yang kalo di Indonesia, itu jurusan apaan sih? Mau kerja apaan lu kalo kuliah di jurusan itu? dan cibiran picik lainnya.

***

Kayak percakapan istrinya Amir (Soraya) sama Bapaknya (disebutnya Sang Jenderal, soalnya bapaknya pas di Afghanistan punya jabatan jenderal) berikut ini:

“Aku tak mengerti kenapa kau menyia-nyiakan masa bakatmu seperti itu,” kata Sang Jenderal saat kami menyantap makan malam bersama. “Kau tahu, Amir jan, saat di SMA, dia mendapat nilai A di setiap mata pelajaran.” Dia menatap Soraya. “Gadis berpendidikan sepertimu bisa jadi pengacara, atau pakar ilmu politik. Dan, insyaaAllah, saat Afghanistan merdeka, kau bisa ikut menyusun undang-undang yang baru. Warga Afghan yang muda dan berbakat sepertimu akan dibutuhkan. Dengan nama keluargamu, kau bahkan bisa saja ditawari menduduki posisi menteri.”

Bisa kulhat Soraya menahan dirinya, wajahnya menegang. “Aku bukan seorang gadis, Padar. Aku wanita yang sudah menikah. Lagi pula, mereka juga akan membutuhkan guru.”

“Semua orang bisa jadi guru”

Ibunya berusaha menenangkan Soraya. “Ayahmu bermaksud baik. Dia hanya ingin kau menjadi orang yang berhasil”

“Supaya dia bisa menyombongkan putrinya yang jadi pengacara pada teman-temannya. Satu lagi medali untuk Sang Jenderal,” kata Soraya. “Setidaknya aku tidak seperti dia, duduk-duduk saja sementara orang lain berperang dengan Shorawi, menanti debu-debu dibersihkan sehingga dia bisa pindah kembali dan menduduki jabatan kecilnya yang bergengsi di pemerintahan. Mungkin gaji guru tidak seberapa, tapi itulah yang ingin kulakukan! Pekerjaan itulah yang kucintai, dan omong-omong, itu jauh lebih baik daripada hidup dengan mengandalkan tunjangan kesejahteraan”

Aduh, jleb T__T

***

Saya pengen ngulas lebih lengkap lagi sebenernya. Karena buku ini kaya SARA, dan saya belum pelajari referensi penunjang untuk menguliti kisah di dalam Kite Runner, maka saya putuskan untuk sampai di sini aja mbedah-mbedah bukunya. Asli sih, seru banget bacanya. Kepala saya sampe pening betulan. Nangis dari awal baca sampe akhir. Muntab dah. Baru kali ini sih baca terjemahan yang cihuy. Meskipun saya nggak sepenuhnya setuju dengan jalan cerita tentang SARA-nya itu.

Anyway, saya punya bukunya yang gold edition mizan, cover warna ungu.

Satu hal buat buku ini: kisahnya tulus banget :”)
Novel humanis dengan kisah manis …

Udah gitu aja.
😀

lagi pengen posting macem-macem
Bogor; Kamis, 19 Februari 2015
19:28 WIB

Advertisements

7 comments

  1. Kalo sebagian mimpi ada dalam buku / novel yang dibaca … maka cenderung bisa bikin membangkitkan semangat / emosi jiwa ya, mbak 🙂

    1. Betul, pak Iwan. Betapa sebuah buku yang isinya “cuma” kumpulan huruf-huruf itu efeknya dahsyat sekali bagi pembaca. Harus hati-hati juga menyikapi 🙂

  2. penasaran ama bukunya kak

    1. kisah amir dan hasan itu indah banget, mbak win. Tapi aku khawatir dengan cara pandang pembaca tentang SARA-nya. Ada kesan “memojokkan” dan perlu dikaji ulang. 🙂

  3. Kite Runner ini rasanya pernah nonton filmnya. Tapi mungkin hanya sepintas lalu. Jadi benar-benar lupa dengan detail kisah yang tertuang di kutipan buku diatas itu. Smoga bisa ketemu bukunya.

    1. iya mbak, ada filmnya, Dan itu lumayan sadis kata temen. Saya sih belum pernah nonton. Kalo bukunya sekarang udah lumayan jarang. Tapi semoga bisa ketemu ya 🙂

  4. Aah, setuju, aku juga suka novel Kite Runner. Bikin nangis dan hati meringis 😦

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: