Zhavira dan Sepucuk Kerinduan

Aku tahu, surat-surat ini tidak pernah sampai. Tidak juga dikembalikan Pak Pos ke rumahku. Mungkin saja sudah keburu hilang di tengah jalan. Walaupun begitu, tetap saja aku merasa harus mengirimimu kabar.

Apalagi semenjak di sekitar lautan itu, cuma ada puing-puing …

Ini gila atau apa, semenjak itulah aku mulai sering menulis surat. Terlalu takut, terlalu rindu, dan terlalu lain yang banyak dijadikan alasan. Barangkali ini harapan yang sungguh keterlaluan.

Aku cuma ingin kamu pulang. Itu saja.

Yang terlalu bisu untuk bilang rindu,
Zhavira

***

Gerimis bertandang untuk keseratus kali. Masih punya bau yang sama dengan dulu. Seperti mencicip nasi putih, lalu disiram air. Rasanya bagaimana? Entahlah. Dimasa depan, waktu yang seperti ini akan kembali merangkak. Tapi langkahnya mungkin tak lagi serupa. Akan ada udara dan musim yang baru. Baunya boleh jadi tetap begini. Hanya saja, pelan-pelan sunyi lebih banyak mendominasi ruang kecil yang sering kami gunakan bercakap, membunuh ramai air yang berlompatan di atas tanah, di atas aspal. Dalih sederhana bahwa saling bicara dan tertawa adalah jalan keluar untuk mencari topik percakapan. Meskipun kami sama-sama tak tahu sedang menertawakan apa. Barangkali kami sedang menertawakan diri sendiri.

Menjadi dewasa. Hal yang sering kami diskusikan dengan kalimat-kalimat yang tak pernah dimengerti orang. Lalu diselingi kekeh di sela obrolan.

“Awas ada upil”
“Mana?”
“Tuh, di dalem idung

Kami terbahak. Tidak jelas juga apa yang ditertawakan.

“Lamia”
“Ya?”
“Aku suka namamu”
“Kenapa?”
“Soalnya aku jadi ingat novel yang kusuka”

Kami menyesap cokelat hangat, bertengger manis di daun jendela kayu rumahku. Untuk kesekian kalinya, menadah gerimis dengan telapak tangan kami yang kecil-kecil.

“Besok aku carikan kamu buku baru lagi”
Aku mengagguk cepat. Wajahku sempurna berbinar.

“Di sana banyak sekali buku-buku klasik. Tokonya bernuansa vintage. Seru deh kalau kamu ikut. Apalagi banyak buku yang di Indonesia nggak ada”

Kami meninggalkan senyum panjang pada sore yang mendung dan syahdu.

***

Di sini dingin. Jelas jauh berbeda dari udara waktu kita minum minuman hangat. Beberapa waktu lalu, aku dengar bunyi derik besi. Aku tahu itu pintu yang dipaksa terbuka. Lalu guncangan hebat, bunyi letusan, dan gelap.

Takdir Allah itu pasti baik.
Tolong doakan aku di setiap sujud, setiap hujan turun, setiap sepertiga malam, setiap sujud panjangmu. Dan tetaplah menjadi temanku sampai kita jumpa lagi nanti.

Yang selalu merindukan pertemuan,
Lamia

Bagaikan ribuan paku menggodam ujung kepala, aku berlari ke dapur dengan napas terengah-engah, mencari Ibu. Lalu menyodorkan sepucuk kertas lusuh yang baru saja kuterima.

Ibu mengerutkan kening, menatap mataku lama sekali.
“Bukankah tidak ada yang selamat dari kecelakaan pesawat itu, Zhavira?”

Apakah aku benar-benar gila?

old-letters-436503_640

sore yang meranggas,
Bogor; Kamis, 19 Februari 2015
18:18 WIB

Advertisements

11 comments

  1. Komen apa ya? Hmm… terlalu pendek sekar, banyak pernyataan-pernyataan yang perlu ditarik lebih panjang lagi. Semisal kalimat ibunya saat tahu Lamia membalas surat: ““Bukankah tidak ada yang selamat dari kecelakaan pesawat itu, Zhavira?””

    Kami– atau mungkin cuma saya– nggak bisa merasakan itu sebab tidak ada penjelasan kecelakaan pesawat apa? separah apa?.

    Selanjutnya, saya tidak bisa pula begitu saja terima pernyataan Zhavira di akhir cerita, “Apakah aku benar-benar gila?” saya nggak dapet feel-nya. Gila apanya? karena yg ditunjukkan cuma potongan-potongan kecil saja. Hehehe *saya ngomong apa ini XD

    satu lagi, setiap kali dialog, sebelum tanda (“) gunakan titik/koma– tergantung kalimat selanjutnya. Mungkin kamu terlalu tergesa-gesa dikejar DL kali, ya? :v *guejugaaa

    Mampir juga ke tugas ane, silakan di klitik-klitik 🙂 >>> quadraterz.blogspot.com/2015/02/dunia-maryam.html

    1. sumpah, jahat lo De komennya. Ga pake cara sandwich. Hahahak. Good job deh tapinya. 😀

      oke, siap meluncur …

  2. hahha… dikasih manis, marah. dikasih pedes, marah. terus kamu maunya apa? nikah? apah, sama sayah? kwkwkwkw

    1. -_____________-” isep nih kentut

  3. Ya ampun aku cerpen Sekar ampe lima jam lho saking panjangnya hahaaaa :p Intinya sama dengan Ade, sih. Ayo kembangin lagi pasti jauh lebih keren :))

  4. *aku baca

    Ah elah typo :((

    1. oke makasih kak 🙂

  5. Ada banyak alasan untuk menyukai seseorang, hujan, Tuhan, atau tulisan. Terlepas dari tanda baca, eyd, dll yang kadang aku sendiri lalai, tulisan ini cukup mampu membuat aku suka.
    Aku suka bagian ini : Dalih sederhana bahwa saling bicara dan tertawa adalah jalan keluar untuk mencari topik percakapan. Meskipun kami sama-sama tak tahu sedang menertawakan apa. Barangkali kami sedang menertawakan diri sendiri.
    dan beberapa bagian lain.
    Aku suka cara sekar memainkan kalimat. Menyenangkan bukan, memain-mainkan kalimat. hehehehehe

    1. mbak yulaaa, tengkyuh mmuah mmuah 😀

  6. Hai, Sekar!

    Setelah membaca tulisanmu dan komentar dua di atas, aku sih baik-baik saja dengan tulisan pendek. Mungkin karena aku sudah terbiasa baca FF. Dan nggak semua hal harus dijabarkan panjang lebar. (Ini sok tahunya aku aja padahal. ahahaha ….)

    Selain soal typo yang sudah disebut Ade (dan kamu sudah pasti tahu yang mana saja), mungkin akan lebih baik kalau kalimat terakhir dihapus >> Apakah aku benar-benar gila?
    Untuk meninggalkan pertanyaan di benak pembaca. Dan lagi, dari awal hingga akhir cerita tidak dijelaskan bagimana kondisi psikis Zhavira. Lalu kenapa ia harus merasa gila hanya karena surat itu?

    1. wow, makasih kakdes. Haha, aku bingung mau benerinnya gimana. hiks

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: