Tentang Cara Pandang

Gue punya temen yang suka tiba-tiba ketawa kalo ada hal yang menurut dia lucu. Padahal, kalo orang lain lihat, itu sama sekali nggak lucu, nggak jelas, absurd. Lalu semua orang, semua temen-temennya bilang dia aneh.

Kenapa nggak kita balik aja dengan bilang, “Kamu unik banget sih. Gimana tuh bisa begitu?” sambil ketawa atau cukup senyum. Bukti kalo maksud lo bukan untuk mempertanyakan kenapa dia aneh dan absurd.

Gue pikir, kasus temen gue itu bukan keanehan. Malah seru, karena disaat dia lagi bosen, bad mood, kesel, capek, dia akan dengan mudah menghibur dirinya sendiri. Nggak peduli gimana repotnya ngadepin masalah itu, seenggaknya dia bisa survive. Just for survive, dan itu udah hebat banget. Banyak temen-temen gue lainnya, dengan nasib sama, hasil akhirnya kadang kala lebih menyedihkan dari masalah yang dihadapi. Guess what, cuma karena dia belum tau gimana caranya survive, bertahan sampai masalah itu selesai.

Barangkali dalam beberapa kasus, dan banyak kasus lain di luar sepengetahuan gue, prosesnya nggak sesederhana bisa ketawa sendiri kemudian happy layaknya teman gue itu. Sampai titik ini, gue cuma pengen kita belajar bareng aja. Kita belajar untuk mencapai titik kedewasaan yang ditandai, salah satunya, dengan cara memandang sesuatu.

Belajar Appreciative Inquiry (AI)
Ini ada kisah keren buat ngejelasin apa itu AI. Soalnya gue belum belajar teknik ini secara fokus, Baru selewat aja. Gue cuma mau kasih gambaran umum dari AI ini lewat dua buah cerita..

Cerita 1 :
Dewi adalah seorang perempuan yang bekerja disebuah perusahaan ternama di Jakarta. Karirnya cemerlang. Ia menduduki posisi yang menawarkan pekerjaan yang menantang kemampuan terbaiknya. Dia telah dikaruniai seorang putra yang sekarang menginjak usia 11 tahun. Agus namanya.

Dewi berusaha mencukupi kebutuhan materi dan emosional sang anak. Dewi mengangkat seorang pengasuh profesional, Ratih namanya, yang bertugas mendampingi sang anak. Ratih telah berusaha keras mengambil hati dan kepercayaan Agus tetapi sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda berhasil.

Beberapa waktu belakangan, Dewi merasa cemas karena perilaku anaknya. Pihak sekolah telah memberikan peringatan karena Agus telah menimbulkan gangguan terhadap kelancaran proses belajar mengajar. Dewi telah mengajak bicara sang anak mengenai peringatan tersebut. Sudah sejuta nasehat disampaikan. Berulang kali larangan diberikan. Tapi seperti kata pepatah. Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri.

Sampai suatu hari, Dewi bertekad menangani persoalan ini dengan lebih serius dan sistematis. Ia memerintahkan Ratih untuk mengawasi sang anak di sekolah. Ratih bertugas mencatat perilaku-perilaku Agus yang menjadi sumber persoalan.

Setelah pulang kerja, Dewi akan memanggil Agus untuk mendiskusikan daftar perilaku bermasalah tersebut. Dewi akan menjelaskan mengapa perilaku itu salah atau tidak dapat diterima. Dewi berusaha menegaskan larangan yang jelas dan detail dengan harapan akan terbentuk perilaku yang konsisten dan dapat diterima semua orang.

Sementara itu …

Cerita 2 :
Ratusan kilometer dari Jakarta, komunitas primitif di pelosok mengalami persoalan yang serupa. Ada seorang anak di komunitas itu, bernama Bagus, yang telah beberapa kali merusakkan benda dan rumah milik komunitas. Ketika diberitahu justru marah dan menunjukkan perilaku menantang orang yang lebih tua. Sampai suatu hari …

Seluruh anggota komunitas itu berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran besar. Sang Ayah mendampingi Bagus menuju tengah lingkaran dan berjalan kembali bersama lingkaran anggota komunitas yang lain. Sang Ayah mengawali percakapan,

“Kau adalah anak pertama, dan yang paling berharga bagi kami. Aku dan ibumu begitu gembira ketika pertama kali merasakan tendangan di perut ibumu. Menjelang kelahiranmu, kami merasakan ketegangan yang sangat amat. Aku belum pernah merasakan ketegangan sedemikian dalam sepanjang hidupku.

Ketika engkau lahir, aku berlari dari rumah ke rumah untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa engkau telah lahir dengan sehat. Engkau memang begitu adanya. Sehat dengan tangisan yang begitu keras, seakan-akan ingin menggoncang dunia. Begitu bangganya kami. Begitu bahagia. Dan kau memang selalu membuat kami bahagia. Langkah kaki ketika pertama berjalan. Kata pertama yang engkau ucapkan. Engkau membuat kami tertawa bahagia dengan wajah lugumu”

Singkatnya, sang ayah membagikan seluruh cerita bahagia dalam kehidupan sang anak. Sama sekali tidak menggunakan kata-kata kritis. Seakan-akan sang ayah mengatakan bahwa tugas utamanya adalah mengingatkan apa artinya sang anak bagi keluarga, komunitas dan orang lain. Mengingatkan seluruh kegembiraan dan kebahagiaan yang telah dibawa sang anak.

Setelah sang ayah selesai, disusul kemudian sang paman bercerita, dan dilanjutkan oleh seluruh anggota komunitas. Seakan-akan seluruh orang mengatakan begitu berartinya sang anak dalam hati mereka. Tengah malam menjelang, sang ayah memberikan tanda dan seluruh orang memandang ke tengah lingkaran. Dalam hening setiap orang menyalami si anak dan satu per satu meninggalkan lingkaran.

***

Gimana?
Sederhananya, metode appreciative inquiry ini adalah metode yang fokus buat meningkatkan kekuatan, alih-alih menghilangkan kelemahan. Kelemahan tetap harus dikelola, tapi kita kudu fokus ke peningkatan kekuatan. Gue perlu belajar lagi soal ini.

Sempet muncul dilema klise. Kenapa makin gue belajar tentang ini -termasuk ilmu lain, terutama psikologi- gue makin merasa belum siap jadi orang tua yang baik buat anak gue nanti. Gue pengen anak gue hebat, tapi belum bisa menghebatkan diri sendiri. 😦 Gue takut jadi ortu jahat, gue takut jadi ortu yang nggak bisa kasih teladan. Gue terlalu takut sama banyak hal yang lucunya, belum pernah gue temui. Ini kan kayak anak kecil yang takut sama kolor ijo atau fenomena nenek gayung. Apa coba yang bikin anak-anak takut selain ketakutan yang sebetulnya itu bikinan mereka sendiri? Ngira ada babi ngepet lah, buaya putih lah, padahal semua misteri itu mereka dapetin dari ocehan anak-anak tetangga yang lagi main bareng, trus karena khayalan tak terbatas, membual cerita mistis koplak. Kabar baiknya, cerita mistis super ngocol itu diterima oleh semua kalangan anak-anak. Itu gue, dan gue nggak jauh beda sama anak-anak. 😥 Allahurobbi … masak iya gue harus mengalami dekadensi daya nalar, daya pikir, dan kejiwaan? *halah*

Terus gue mikir, gue nggak bisa ketakutan kayak gini terus. Bisa stres sendiri kalo dibiarin aja. Maka, salah satu strategi gue adalah makin menggila dengan guru dan buku. Ditambah diskusi di sana-sini, lumayan bisa bikin gue lupa dengan rasa takut itu. Gue selalu bikin pahatan di dalem kepala: “Semakin lo ngerasa takut, semakin banyak lo harus nambah ilmu. Nggak peduli apapun. Biar Allah Swt yang ngurus sisanya.”

Jangan kayak anak-anak yang takut nenek gayung padahal belom pernah liat itu hantu bentuknya kayak apa. Sialnya, yang mereka liat nenek gayung itu ternyata nenek mereka sendiri yang abis nimba air di sumur belakang rumah, lalu bawa gayung dari kamar mandi. Omaigat! Jadilah fenomena itu makin menggila.

Sampai di sini, selesai urusan. Haha. So far, metode itu bekerja buat gue. Mungkin itu salah satu penerapan cara AI buat diri gue. Bener nggak sih? haha 😀 Wallahu’alam.

Dua kisah super itu gue dapet dari sini (blog-nya mas Bukik)

Metode AI dan Persoalan Temen Gue
AI bisa dikaitkan dengan banyak jenis kasus. Salah satunya temen gue itu. Gue suka senyum aja kalo ada orang yang bilang suatu kata atau kalimat berkonotasi negatif kepada orang lain. Dalam konteks yang sama dengan ‘keunikan’ temen gue itu. Beruntungnya, temen gue itu selalu nggak pedulian sama pandangan negatif di sekitarnya. Salut. Selama nggak nyakitin secara fisik, nggak neror, nggak ngerusak properti, maka hidup akan terus berjalan dan dinikmati. Kadang gue mikir, temen gue ini terlalu santai dan cuek, bahkan nyaris lola saking wolesnya. Haha. Inget, in case kita bicara soal keunikan dia yang suka ketawa tiba-tiba ketika lihat hal lucu (menurutnya).

Bayangin. Dia pinjem novel fiksi sejarah yang ada di gue (dan itu juga gue hasil minjem). Itu novel sejarah yang mayan mikir, menyelami sejarah, yah kayak kalo pas kita belajar sejarah di sekolah. Gimana sih, serius gitu kan ya. Trus dia baca tuh, di tengah sepi dan sunyi. Tiba-tiba ketawa ngakak sambil nunjuk-nunjuk salah satu halaman yang lagi dia baca. Awalnya, gue juga nggak habis pikir. Ini ada masalah apa di kepala doi. Apa mata gue yang siwer? Mungkin dia nangis terharu, tapi gue liatnya ketawa?

Ternyata bener dia ketawa. Kebayang nggak?

Gini. Coba bayangin disaat lo baca peristiwa penculikan Soekarno ke Rengasdengklok sampai beliau memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, trus lo ketawa. Itu keliatan epic-epic stres kan? Ceritanya epic banget, keren, bikin merinding, dan yang bagian stres-nya itu elo. NAH! itu yang terjadi dengan teman baik gue. Wajar dia dibilang aneh. Nggak semua orang, belum banyak, yang bisa menilai ‘keunikan’ itu dari sudut pandang berbeda.

Gue rekomendasiin buat nonton Meet The Robinsons untuk soal AI ini. Sekalian unduh atau minta ke temen, sodara, tetangga, film In Front of The Class, Temple Grandin, Taar Zamen Pyar, sama apalagi ya. Itu dulu deh. Gue lupa soalnya. Film itu bagus buat belajar meluaskan cara pandang.

yang Luas, Lebar, dan Lapang
Gue selalu percaya, kalo setiap anak, setiap manusia, yang dibesarkan dengan kesulitan-kesulitan, dia akan punya seribu jalan untuk sampai ke tujuan. Ketika dia punya seribu jalan, maka dia akan punya banyak jalur luas dan lebar untuk dilewati dengan berbagai cara. Ketika dia punya banyak jalur luas dan lebar, dia akan semakin bijaksana dalam mempertimbangkan keputusan, mengambil sebuah sikap, dan berhati-hati di setiap tindakan.

Meskipun nggak semua orang yang hidupnya susah, terus berubah jadi Mario Teguh dengan Golden Ways-nya yang super sekali. Meskipun nggak semua orang yang hidupnya sengsara, trus jadi bijaksana macam Biksu Tong dengan nasihat-nasihat yang harus dipatuhi selama mencari kitab suci. Kalo nggak patuh, jadi batu. Buset. Nggak gitu juga sih. Tapi sejauh ini yang gue pahami, resapi, dan jalani, ya gitu.

LOL

LOL XD

Tapiiii …
Banyak juga orang yang hidupnya biasa aja, aman, damai, sentosa, sejahtera, yang punya cara pandang luas. Isi kepalanya nggak sempit. Jalan pikirannya lebar. Dadanya juga lapang. Adaaa …

Poin yang gue tekankan adalah ‘Cara Pandang’. Sama lah kayak judulnya. Harusnya sih, harusnya ya, nggak perlu terikat dengan problematika hidup, golongan orang susah apa enggak, harusnya makin bertambah angka usia, makin berkurang jatah hidup, makin punya cara pandang yang luas ya. Harusnya …

Cara pandang luas, insyaaAllah bakal diikutin sama jalan pikiran yang lebar, nggak sempit. Kita juga jadi makin punya kelapangan hati. Kalo udah gini, apapun pasti disyukuri, ibadah makin dinikmati, apapun kondisi, berkah yang dicari. Betul Ibu-ibu?

linkedin.com

linkedin.com

***

Gitu aja sih. Awalnya gue cuma mau cerita soal kenyinyiran orang terhadap temen gue. Termasuk kenyinyiran gue (yang pernah gue lakukan karena khilaf, hiks) terhadap orang lain. Maafin baim Ya Allah … 😥

*NTMS! (Note To My Self)
Bogor; Kamis, 5 Maret 2015
2:04 WIB

Advertisements

9 comments

  1. Karena nanya sama ibu-ibu, jadi saya jawab “betuuuul…!!” Hehe…

    1. haha teteh …
      apalagi kalo udah pernah tinggal di Jerman ya teh. Tinggal di luar negeri itu bisa jadi salah satu cara untuk meluaskan pandangan terhadap sesuatu. Ya nggak sih teh? Aku sering dapet cerita dari temen yang abis ke LN. hehe 😀

      1. Teteh masih tinggal di Jerman nih… ngga tau sampai kapan 🙂

        Ya punya tambahan wawasan krn banyaknya perbedaan antara hidup di Indonesia dan di LN, harus tetap bisa menerapkan budaya/kebiasaan yg baik dr tanah air, termasuk untuk anak-anak yang pada gede disini..:)

        1. udah berapa tahun teh? nanti kalo pulang, aku mau kopdaran ah sama teteh 😀 boleh teh? hehe

          1. Baru 13 thn gitu 😊
            Boleh…hayuuk in syaa Allah kita ketemuan yah..

  2. Cara pandang kita terbentuk dari banyak unsur, masa lalu, buku, media massa, lingkungan, dan orang-orang yang selalu dekat dengan kita. Untuk merubah cara pandang yg sudah terbentuk tentu perlu perjuangan. Dan setuju semakin luas cara pandang kita makin lebih mudah menyelesaikan berbagai persoalan 🙂

    1. Betul Bu Evi. Prosesnya itu seperti menghancurkan batu dengan air. Sulit, lama, tapi pasti bisa. Bahkan ada yang dalam waktu yang tidak begitu panjang, seseorang bisa mulai membentuk paradigma baru. Dengan catatan, lingkungan mendukung dan ada upaya kuat dari dalam diri sendiri untuk mengubah mindset dalam memandang sesuatu 🙂

      Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya Bu. Senang sekali Ibu bisa main ke blog saya lagi 😀

  3. Ya, saya kadang mengalami hal yang sama.. Tanpa sadar saya memandang seseorang itu *aneh*, padahal sebetulnya dia hanya *unik*, karena saya yakin setiap orang punya perilaku khas.. 🙂

    Seringnya juga saya sih yang dipandang aneh ma orang lain, hahaha.. 😆

    1. “keunikan” itu seringnya nggak bisa didefinisikan. Pokoknya unik aja. Biasanya orang begitu punya tipe surealis, tak terduga. 🙂

Terima kasih sudah berkunjung :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: